Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
NAMAKU TONO PANJANGNYA HARTONO


__ADS_3

"Kamu perempuan tadi kan?" tanya lelaki berkaca mata itu sambil membawa piring berisi siomay hanya dua biji dan satu gelas air putih. Bajunya sedikit kebesaran dengan rapi di masukkan kedalam celana. Hanya saja seragamnya sedikit menguning dan celananya beitu panjang seperti kakinya yang menjulang tinggi ke bawah. Ternyata celana abunya sedikit cudbray dengan ikat pinggang kulit bewarna cokelat yang tepampang jelas. Kulitnya sedikit ada yang terkelupas.


Arsy meletakkan ponselnya dan mendongakk ke ara lelaki itu dan tersenyum mengangguk.


"Ya. Kamu yang tadi tanya kelas?" tanya Arsy kembali.


Pesanan Arsy pun mulai datang. Ketoprak dan teh manis hangat.


"Boleh ikut duduk di sini? Kamu anak kelas berapa?" tanya lelaki berkaca mat itu menunggu jawaban Arsy di perbolehkan duduk bersama atau tidak.


"Silahkan duduk. Kita bisa makan bersama.


Namaku Arsy, aak kelas XII IPA juga. Kamu anak baru?" tanya Arsy pelan sambil mengulurkan tangannya tanpa curiga.


Senyum lelaki itu terbit dan ia duduk dengan penuh semangat tepat di depan Arsy yang cantik. Wajahnya sedikit terlihat tua dengan kumis tipis hingga terlihat lucu.


Lelaki itu membal uluran tangan Arsy, "Namaku Tono, nama lengkapnya Hartono. Saya murid pindahan dari Gunung Kidul," ucap Tono pelan. Gaya bicaranya lucu dan kental sekali dengan adat bahasa jawa.


"Oh ... Tono. Oke. Ekhemmm ... Itu gak salah beli siomay cuma dua biji?" tanya Arsy yang tak percaya melihat isi piring Tono. Dua siomay dengan kecap.


"Oh ... Pentol? Ini di tempat saya, namanya pentol, Sy. Bukan Siomay," jawabnya pelan. Ia menusukkan siomay itu dnegan garpu dan mulai menikmatinya satu per satu. Caramengunyahnya pun sangat gemulai membuat perut Arsy sakit sejak tadi menahan tawanya.


"Ahh Pen -Tol? Bener namanya pentol? Kokmagak aneh ya?" ucap Arsy pelan.


"Aneh gimana?" tanya Tono yang masih mengunyah pentol pertama dan belum selesai.


"Lama amat ngunyahnya? Arsy mah baru dua atau tiga kali kunyah langsung telen," ucap Arsy pelan.


"Lho ... Mengunyah yang baik kan harus enam puluh empat kali agar makanan halus dan bisa di cerna dengan usus halus," ucap Tono pelan menjelaskan.


"Oh ... Macam tu," ucap Arsy pelan. Arsy sejak tadi hanay mengaduk -aduk ketopraknya. Hanya nafsu makannya seketika turun melihat makhluk aneh di depannya. Semoga saja, kandungannya baik -baik. Di bawah meja, Arsy berulang kali mengusap perutnya yang masih rata dan sesekali membatin agar anaknya kelak mirip dengan Teddy yang jenius, jangan seperti makhluk astarl seperti yanga ada di depannya saat ini. Darai fisik gak banget, dari gaya kok kampungan, sama sekali bukan tipe Arsy.

__ADS_1


"Di makan, jangan cuma di aduk -aduk. Sayang, itu makanan pasti harganya mahal. Kamu tahu, kenapa saya cuma beli dua pentol?" ucap Tono bertanya kepada Arsy sambil menegak air putihnya sedikit demi sedikit untuk mendorong makanan yang telah berhasil di kunyahnya.


"Kenapa?' tanya Arsy penasaran. Ia cukup antusias dengan Tono. Lucu -lucu bikin gemes tapi pengen nabok. Gimana coba?


"Ternyata harga makanan di kantin ini super duper mahal sekali," ucap Tono sambil menggelengkan kepalanya pelan. Kumis tipisnya ikut bergerak naik turun mengikuti gerak bibir Tono yang yang bicara dengan lemah lembut.


Kepala Arsy pun ikut bergoyang mengikuti agya bicara Tono. Reflek aja, Arsy pun ikut sedikit gemulai.


"Kok super duper mahal sih? Harganya standart. Mahal dari mana?" tanya Arsy mulai penasaran.


Memang harga jajanan di ibukota segitu dan gak mahal. Malahan ini smeua harga siswa dalam porsi dewasa.


"Pentol itu, di rumahku di gunung kidul dua ribu itu dapat sepuluh, jadi kenyang banget. Ini dua ribu cuma dapat dua, mana kenyang, padahal besarnya sama," ucap Tono sedikit menyesal.


"Oh ya? Dua ribu dapat sepuluh?" tanya Arsy yang masih tak percaya.


"Iya. Bener. Dari dulu uang jajan saya hanya dua ribu Jadi cuma dapat ini," ucapnya dengan santai.


"Jadi uang jajan kamu cuma dua ribu? Kamu sudah sarapan?" tanay Arsy kemudian.


Tono pun menggelengkan kepalanya cepat.


"belum. Kalau pagi, saya harus bekerja," ucap Tono pelan.


"Oh ... Gitu. Kamu masih lapar? Makan aja ini. Arsy sudah kenyang. Maksudnya pengen ganti menu lainnya. Takut mubazir gak ada yang makan," ucap Arsy sambil mendorong piringnya ke arah Tono.


"Beneran ini? Saya gak mimpi kan, di kasih makan sama bidadari?" tanya Tono sambil mengerjapkan kedua matnya dan membenarkan kaca mata yang tak miring itu.


ARys hanya tersenyum simpul.


"Masa iya, perempuan secantik Arsy berbohong. Udah makan, Arsy mau beli bubur ayam," ucap Arsy pelan.

__ADS_1


Arsy pun cukup mengangkat tangannya dan berteriak minta bubur ayam tanpa kacang tambah sate ati lima tusuk.


Tono pun membelalakkan kedua matanya. Menatap tak percaya dengan pesanna Arsy yang begitu banyak.


"Habis itu makanan?" tanya Tono sambil menikmati ketoprak yang enak dan gratis.


"KAlau gak habis kan ada kmau, Ton. Masa iya, kamu gak mau bantu ARsy menghabiskan?" tanya Arsy pelan.


Tono pun terekekh pelan.


"Bukan gitu Sy. AKu sih seneng -seneng aja. Tapi kan? Takut uang jajan kamu habis. Uang jajanku sajasudah habis," ucap Tono pelan.


"karena uang jajan kamu cuma dua ribu. Uang jajanku seratus ribu dari Pak Su," ucap Arsy kelepasan bicara.


"Apa? Seratus ribu? Banyak amat? Pak Su itu bukannya Pak Suami? Kamu sudah nikah?" tanya Tono sedikit beteriak kaget.


Arsy langsung menutup mulut Tono dan menyimpalnya dengan suapan ketoprak yang lebih besar ke adalam mulutnya.


"Jangan jadi biang gosip. Pak Su itu Pak Supir. Kan yang anter jemput Arsy Pak Su alias Pak Supir tak lain Papah Arsy," ucap Arsy menjelaskan dengan polos. penuh kedustaan.


"Oh gitu. Eh ... Makasih ya sudah mau jadi temanku," ucap Tono dengan penuh percaya diri.


"Iya ... sama -sama," jawab Arsy santai.


Keduanya menikmati makanan masing -masing hingga beberapa teman Arsy ada yang melihat kedekatan Arsy dengan makhluk aneh yang belum pernah ada di sekolahnya.


"Woy ... Sy ... Gak salah? Biasa jalan sama yang idola!! Sekarang nongkrong sama model beginian. Mending ama gue, lie nikmat gue juga nikmat. Mimodel cacing begitu loe temenin kayak gaknlaku aja loe?" teriak Budi dan kawan -kawan satu geng yang di anggap perusuh sekolah.


Geng cowok yang paling di takuti karena gayanya doang.


Arsy hanya menoleh dan membuang muka tak suka pada Budi.

__ADS_1


"Dia siapa?" tanya Tono santai.


__ADS_2