Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MASALAH WULAN


__ADS_3

Arsy makan di meja kelasnya sambil bermain ponsel. Ternyata melihat kebersamaan Teddy dan guru lain yang lawan jenis ternyata membuat Arsy kesal.


"Sy? Kemarin kemana? Kok gak masuk," sapa Wulan pelan dan duduk di samping Arsy.


Arsy hanya menatap Wulan sekilas dan melanjutkan sarapannya. Ia malas bertemu dengan sahabatnya itu.


"Kok gw sapa lu diem aja sih? Oh beda kalau udah punya," jawab Wulan kesal.


Arsy menyerupt teh manisnya dan tersenyum kecut.


"Lu kira gw masih bisa percaya sama sahabat sendiri yang gw lihat jelas dengan mata kepala gw jalan sama pacar gw," ucap Arsy yang masih tak bisa menerima.


"Hah? Sebentar? Gw jalan sama pacar lu? pcar lu siapa, Sy? Lu kan udah nikah juga sama Pak Teddy yang ganteng, menawan, macho dan super keren itu," ucap Wulan pelan menjelaskan.


"Lu jalan kan sama Bismo. Lu gandengan tangan dan lu boncengan di motor gede itu," ucap Arsy masih tak terima.


"Oh ... Lu lihat? Kaki gw sakit, makanya dia gandeng gw terus dia nawarin gw pulang bareng," ucap Wulan pelan.


"Gw harus percaya gitu sama lu?" tanya Arsy pelan dan menuup box makanannya yang sudah habis.


"Harus dong. Gw sahabat lu. MAna mungkin gw mau sama Bismo. Bismo emang ngajakin gw ketemu untuk minta memperbaiki hubungan dia sama lu. Tapi gw gak bisa jawab dong. Gw tahu lu kan udah nikah," ucap Wulan pelan.


Arsy mentap Wulan dan memeluk tubuh Wulan seketika.


"Maafin gw ya Lan. Gw terlalu buruk menilai lu. Mungkin karena gw masih sayang sama Bismo," ucap Arsy pelan.


"Ya gak apa -apa Sy. Gw paham sama kondisi lu. Terus gimana?" tanya Wulan lalu duudk di samping Arsy dan ikut menyeruput teh manis Arsy.


"Gimana apanya?" tanya Arsy pelan.


"Pernikahan lu lah? Hubungan lu sama Pak Teddy? Gw denger Pak Teddy jadi guru biologi kita," ucap Wulan pelan..


"Hah? Serius?" tanya Arsy panik.

__ADS_1


Bukan panik, tapi yang jelas keduanya akan sering bertemu. Belum lagi kalau ada yang melihat cincin kawin kita berdua. Bisa di bully habis -habisan.


"Iya. Kemarin Kepala sekolah masuk kesini. Guru biologi kita yang lama sudah pensiun," ucap Wulan menjelaskan.


"Kenapa sih mesti harus jadi guru biologi?" ucap Arsy yang terus menggerutu.


"Memangnya kenapa?" tanya Wulan yang merasa aneh.


"Jujur, gw belum bisa menerima pernikahan ini Lan. Gw ngerasa mimpi gw itu punah seketika. Lu tahu kan, gw penegn banget jadi dokter. Itu cita -cita gw sejak kecil, dan perlahan gw wujudin. Tapi pernikahan ini membuat gw kayk udah males menggapai itu semua. Lu tahu kan, kalau udah nikah pasti hamil, dan punya anak. Kalau itu terjadi sama gw gimana? Gw kuliah hamil? Atau gw kuliah sambil gendong anak? Gak lucu kan?" kesal Arsy terus menggerutu.


pagi ini rasanya Arsy ingin terus marah -marah dan meluapkan semua emosinya.


"Ya lu mesti sabar Sy. Tapi, lu beruntung Sy, Pak Teddy itu dewasa, mapan, ganteng, pintar, macho, kurang apa coba? Gw denger juga, banyak guru perempuan yang lajang di sini yang mau sama Pak Teddy. Salah satunya guru bahasa indonesia kita. Jangan nyesel aja kalau sampai ada yang godain Pak Teddy," ucap Wulan mengingatkan.


Arsy menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menghela napas panjang. Baru saja rasa cemburu itu hadir mendnegar suara -suara yang membuat Arsy naik darah.


"Menurut lu, Pak Teddy itu gimana? Dia beneran sayang sama gw atau memang terpaksa sama perjodohan saja?" tanya Arsy ragu.


Arsy jadi bimbang dan penuh keraguan. Ini semua karena Bismo. Bismo yang sudah membuat Arsy hilang kepercayaan. Tapi untuk mencintai orang lain lagi butuh waktu, karena bayang -bayang Bismo akan selalu hadir.


"Menurut lu, kalau gw mengabaikan Pak Teddy gw dosa gak?" tanya Arsy pelan.


"Kalau denger ceramah Mamah Dedeh sih dosa. Kalau lu mau, kita ikut pengajian aja setiap minggu di Masjid Barokah. Kita bisa tanya -tanya tuh tentang pernikahan. Gimana?" tanya Wulan menyemangati.


"Wah ide bagus tu. Oke minggu depan kita kesana," jawab Arsy bersemangat.


"Sy ... Lu udah bayar study tour?" Tanya Wulan kemudian.


"Belum. Emang kapan sih?" tanya Arsy kemudian. Dia bahkan lupa kalau mau ada studi tour.


"Minggu depan. Satu anak biayanya satu juta lima ratus ribu rupiah," ucap Wulan pelan.


"Nanti gw bilang dulu sama Papah dan Bunda untuk kirim uang. Lu tahu kan, semua kartu kredit, ATM dan mobil gw udah Papah ambil. Rumah gw juga udah di jual," ucap Arsy pelan.

__ADS_1


"Oh gitu ya," jawab Wulan lemas.


Arsy membuang sampah bekas sarapannya. Ia tak tahu kalau Wulan dan keluarganya sedang mengalami musibah. Wulan tidak enak jika harus jujur dengan Arsy. Untuk biaya study tour pun Wulan tak punya.


Jam pertama sudah di mulai. Semua anak nampak serius pada pelajaran fisika. Guru yang killer membuat suasana kelas menjadi tertib dan sunyi senyap.


"Kita ulangan sekarang. Tutup smeua buku kalian. Keluarkan kertas," ucap guru fisika itu dengan tegas dan lantang.


Suaranya menggelegar di seluruh ruangan kelas. Semua murid mengikuti arahannya dengan diam.


Arsy dan Wulan sudah nampak siap dengan ulangan dadakan itu, secara keduanya memang pintar dn sellau juara kelas bergantian.


Satu jam berlalu dan ulangan itu sudah selesai waktunya. Semua jawaban di kumpulkan. Bagi yang sudah mengumpulkan lebih dulu bisa kleuar untuk beristirahat.


"Lan, makan bakso yuk? Lapar gw habis menumpahkan energi ngitungin angka pakai rumus," tawa Arsy renyah seklai.


Wulan hanya diam tak banyak bicara. Arsy menyadari perbedaan sikap Wulan.


"Lu kenapa Lan? Kalau ada masalah cerita sama gw," titah Arsy pelan.


Sambil menoleh ke arah Arsy dan tersenyum kecut Wulan hanya bisa bicara singkat.


"Gak apa -apa, Sy. Lu santai aja," jawab Wulan singkat.


Wulan dan Arsy sudah sampai kantin. Arsy memesan dua mangkok bakso dan dua es teh manis. Ia langsung membayar semua makanan itu tanpa sepetahuan Wulan.


"Makan yuk," ucap Arsy sambil membawa dua mangkok bakso dan balik lagi untuk mengambil dua gelas es teh manis.


"Kok lu pesenin gw? Gw gak makan," ucap Wulan singkat.


"Udah gw traktir," ucap Arsy tulus.


Mendengar kata traktir Wulan pun langsung melahap bakso yang ada di depannya.

__ADS_1


Arsy menatap Wulan dengan tatapan aneh. Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya ini.


__ADS_2