
Keduanya saling diam di dalam mobil. Perjalanan dari rumah Teddy menuju sekolah Arsy sekitar empat puluh lima menit.
"Masih mau diem -dieman?" tanya Teddy membuka pembicaraan.
Arsy diam dan tak merespon. Ia hanya melihat ke arah kiri menatap ke jendela menatap jalanan yang agak padat.
Teddy pun diam dan tak mengulang lagi pertanyaannya. Tak lama, mobil Teddy pun samapi di halaman sekolah Arsy. Satpam yang bertugas pun menundukkan keplanya karena tahu yang datang adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah itu. Di sana juga sudah ada beberapa murid yang sedang sarapan di depan sekolahan, ada juga yang baru datang dengan berjalan kaki atau naik kendaraan bermotor atau bahkan mobil.
Dengan cepat Arsy membuka pintu mobil dan akan keluar. Namun, Teddy mengunci mobil itu.
"Buka dong Pak. Arsy mau turun. Lihat sudah banyak teman -teman juga, gak enak kalau mereka lihat Arsy turun dari mobil Bapak," ucap Arsy ketus.
"Saya gak peduli, apa yang mau mereka katakan. Kamu tetap istri saya, Arsy. Seharusnya kamu menghargai saya sebagai suami kamu. Berpamitan dnegan sopan," ucap Teddy menasehati.
Arsy menatap lekat kedua mata Teddy. Menarik napas dalam untuk menyiapkan rasa sabarnya.
"Sejak pagi, Arsy berusaha untuk menjadi istri yang baik. Tapi, Pak Teddy malah menyangka Arsy memberikan racun di makanan dan minuman untuk sarapan tadi? Kan sesuatu yang aneh?" ucap Arsy kesal.
Teddy terdiam. Ia memang salah. Tadi niatnya hanya ingin menggoda Arsy bukan untuk menuduh. Tapi, Arsy sudah keburu terbawa emosi.
"Maafkan saya," ucap Teddy mengalah. Ia mengelurkan dompet dan memberikan selembar uang lembaran biru.
Arsy masih diam dan hanya menatap apa yang di lakukan Teddy suaminya. Tanpa basa basi, Arsy langsung mengambil uang itu dan melipat uang itu dimasukkan ke adalam kantong kemejanya.
"Makasih," jawab Arsy pelan. Lalu berusaha membuka pintu mobil itu.
"Hanya begitu? Makasih saja?" tanya Teddy pelan.
"Arsy berangkat dulu," ucap Arsy pelan sambil menatap Teddy.
Teddy pun mengukurkan tangannya ke depan Arsy. Ia harus mengajarkan kewajiban sebagai istri dengan baik dan benar.
"Apa?' tanya Arsy yang masih bingung.
"Cium dong," jawab Teddy singkat.
Dengan malas Arsy pun meraih tangan Teddy dan mencium punggung tanga itu dengan sopan.
Teddy pun menarik Arsy dan mengecup kening ARsy pelan. Arsy tidak berontak tapi kedua bola matanya melotot kesal.
"Kenapa?" tanya Teddy.
__ADS_1
"Gak apa -apa," jawab Arsy ketus.
"Harus di biasakan. Kita sudah suami istri," ucap Teddy mengingatkan.
"Iya ... Arsy tahu, kita sudah suami istri," ucap Arsy pellan.
Teddy hanya mengangguk pelan dan menatap rok pendek seragam yang di pakai Arsy.
"Nanti kita beli rok abu yang baru. Saya gak suka kamu memamerkan paha kamu begitu," tegas Teddy dengan kesal.
"Gak. Arsy nyaman pakai seragam ini. Lagi pula juga sudah mau lulus," jawabnya asal.
"Arsy. Kamu itu ...." ucapan Teddy pun langsung di sela oleh ARsy yang semakin kesal.
"Arsy sudah menikah. Arsy sudah punya suami, jadi haru bisa menghargai suami. Itu kan yang mau Pak Teddy bilang sama Arsy? Kita cuma di jodohin Pak. Kalau Arsy bersikap menghargai Napak, itu semua karena Arsy tinggal dnegan Mama Tina dan Papa Baron. Jujur, Arsy tidak menginginkan pernikahan di usia muda seperti ini," tegas Arsy meluapkan semua kekesalannya.
"Lalu kamu menyesal?" tanya Teddy kemudian.
Arsy hanya terdiam bersandar di kursi jok mobil milik Teddy dan melipat tangannya di depan dada.
Teddy mencoba menggenggam tangan Arsy. Ia tahu Arsy sedang labil. Ia sedang tidak baik -baik saja.
Arsy menghembuskan napasnya dengan suara keras. Rasanya Arsy ingin melepas beban di pundaknya.
"Mau cerita sekarang? Atau nanti pulang sekolah?" tanya Teddy pelan sambil menatap jam atngannya untuk melihat waktu saat ini.
Pagi ini rapat direksi akan di lakukan tepat pukul delapan. Riana, sekertaris Teddy sudah memberitahu sejak tadi malam agar Teddy tidak terlambat datang.
"Arsy boleh gak sekolah?" tanya Arsy kemudian. Teddy sempat terkejut dengan permintaan Arsy.
"Kenapa gak mau sekolah? Ada Wulan? Apa saya harus telpon Wulan untuk menjemput kamu di sini? Kamu malu memakai cincin perkawinan itu? Merasa terganggu dengan status kamu yang baru? Gitu?" tanya Teddy pelan agar tidakmenyinggung perasaan istrinya.
Arsy mengglengkan kepalanya pelan.
"Bukan itu," jawab Arsy lirih.
"Lalu?" tanya Teddy lagi.
Arsy menarik napas dalam. Sulit sekali rasany auntuk jujur.
"Kemarin, waktu kita makan di restauran cepat saji. Arsy lihat Wulan dan Bismo berdua bergandengan dan berboncengan," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
Teddy terdiam menatap Arsy yang ada di sampingnya.
"Terus?" tanya Teddy kemudian yang tak terlihat terkejut sama sekali.
Arsy menoleh ke arah Teddy, menatap lelaki tampan yang ada di sampingnya yang begitu sabar menghadapi sikap Arsy yang kekanak -kanakkan.
"Pak Teddy biasa saja? Kok gak kaget sih??" tanya Arsy yang semakin kesal.
"Buat apa? Saya bahkan sudah tahu sejak lama," ucap Teddy pelan.
Arsy melepaskan genggaman tangan Teddy dan mulai mencari penjelasan atas ucapannya.
"Tahu apa? Hubungan Wulan dan Bismo? jadi mereka mengkhianatai Arsy? Lalu, Wulan? Apa maksudnya?" tanya Arsy mulai kesal.
"Arsy. Buat apa kamu pusing memikirkan itu semua. Kamu itu sudah kelas tiga, lebih baik kamu gunakan waktu kamu untuk belajar dan fokus sama ujian kamu. Sudahlah, biarkan saja Bismo dan Wulan memiliki hubungan. Toh, kamu sudah punya saya. Bahkan banyak sisiwi bilang saya ganteng, keren, macho, gak kalah sama mantan pacarmu, siapa? Bismo itu," ucap Teddy pelan menjelaskan.
Arsy menatap ke arah depan. Ia melihat motor Bismo melewati mobil milik Teddy dan benar saja, pagi ini Wulan ikut bersama Bismo.
Arsy menggigit bibirnya kesal dan meremas rok pendeknya tanda penuh kekecewaan.
"Kesel?" tanya Teddy yang juga melihat kebersamaan Bismo dan Wulan. Ia tahu betul perasaan yang sedang di rasakan gadis labil seperti Arsy.
"Arsy ikut Bapak aja ke kantor," ucap Arsy lirih. Suaranya terdengar parau. Jelas Arsy sedang menahan tangisnya.
"Kamu yakin, mau ikut ke kantor. Jenuh nanti. Saya mau rapat pagi dan tidak tahu bakal selesai jam berapa," ucap Teddy menjelaskan lebih dulu. Takutnya Arsy akan marah atau lebih kesal lagi.
"Arsy gak boleh ikut Bapak?" tanya Arsy kemudian.
"Boleh. Oke kita ke kantor. Tapi janji, setelah ini gak ada lagi ijin masuk sekolah, dan satu hal lagi gak perlu ingat -ingat lagi Bismo dan Wulan. Biarakan saja," titah Teddy tegas.
"Iya. Arsy janji," jawab Arsy pelan.
Teddy memundurkan mobilnya dan keluar lagi dari halaman sekolah menuju kantor. Arsy sendiri memejamkan kedua matanya menikmati perjalanan menuju kantor Papahnya. Ia juga mulai berpikir keras untuk mulai melupakan Bismo dan mulai menjauhi Wulan.
Ponsel Arsy berbunyi. Di layar ponsel jelas teryter nama Wulan.
"Itu Wulan teleepon," ucap Teddy yang sempat melihat sekilas ponsel yang berada di pangkuan Arsy.
Arsy membuka matanya dan mengambil ponsel itu lalu mengangkat telepon itu.
"Ya ...." jawab Arsy pelan.
__ADS_1