
Wajah Arsy tangkat ke atas dan emnatap Teddy dengan tatapan sendu.
"Arsy ada penilaian pelajran olah raga. Kata Pak Tunggul, hari ini akan ada peilaian yang akan masuk ke dalma raport dan sebagailatihan untuk penilaian praktek bulan depan," ucap Arsy pelan.
Deg ...
Dada Teddy berdegup keras. Ia lupa konsekuensi Arsy mengandung itu banyak sekali resikonya. Apalagi Arsy masih sekolah.
"Biar Mas yang ijinkan ke Pak Tunggul. Mas gak mau lihat kamu sakit," ucap Teddy lembut.
Arsy menggelengkan kepalanya plan. Arsy gak mau menjadi siswi yang paling di soroti. Selama pacaran dengan Bismo, ia sudah menjadi sorotan. Kini, ia harus menjadi sorotan karena terlalu di istimewakan oleh Teddy, gurunya sendiri. Lalu, apa kata teman -temannya nanti.
"Gak Mas. Ini cuma penilaian senam aja. Arsy bisa kok," ucap Arsy pelan.
Tatapan Teddy semakin tajam. Ia tidak bisa menjaga Arsy selama dua puluh empat jam. Apalagi saat brada di sekolah. Ia sendiri harus mengajar dan memberikan praktikum biologi.
"Ya sudah. Kalau gak kuat bilang.Jangan diam saja. Kamu gak mau kan, seperti Wulan?" tanya Teddy mengingatkan.
"Gak Mas," jawab Arsy pelan.
"Gadis pintar. Ini bawa untuk bekal. Lalu ini uang jajan kamu. Ini susu harus di habiskan juga," ucap Teddy memerintah agar Arsy mengingat.
Arsy menerima paper bag berisi kotak makan dan susu. Ia juga memasukkan uang jajan yang di berikan Teddy ke adalam saku seragam putihnya.
Skip ...
Teddy sudah sibuk mempersiapkan materi pelajaran biologi pagi ini. I melihat jadwal tanggal pendidikan yang sebentar lagi sudah memasuki ujian tengah semester genap. Kebetulan ujian itu sbeleum ia dan ARsy akan pergi ke London untuk menjenguk kedua orang tua Arsy.
"Pak Teddy. Nanti siang kita mau buat jadwal untuk try out anak kelas tiga yang akan di lakukan setelah ujian tengah semester," ucap kepala sekolah kepada Teddy.
"Try out setelah ujian tengah semester? Bukankah itu saat liburan tengah semester?" tanya Teddy pelan menatap kembali tanggal pendidikan yang ada di tangannya.
"Memang benar. Tapi waktu semakin sempit. Menurut edaran nasional dari menteri pendidikan, bulan empat awal semua siswa kelas tiga sudah melaksanakan ujian nasional secara serentak. Kalau terlalu banyak libur, maka materi pelajaran tidak akan selesai dan menjadi tidak efektif," ucap kepala sekolah pelan.
Beberapa guru yang ada di sana pun mengangguk setuju.
"Ya. Anak kelas tiga sekarang terlalu santai. Belum lagi kita sebagai guru terlalu fokus dengan maah murid," ucap salah satu guru yang terkenal killer.
"Memang fungsi guru itu kan pengganti orang tua selama siswa berada di sekolah. Itu tugas guru," ucap Teddy membela murid -muridnya.
__ADS_1
"Sudah. Kita harus sesuaikan jadwal kembali," ucap kepala sekolah tegas.
"Siap Pak," jawab Teddy tegas.
Kepala sekolah sudah keluar. Teddy pun ikut bangkit berdiri dan ia berniat memberitahukan status pernikahannya dengan Arsy. Ia memang tidak minta, Arsy di istimewakan tapi setidaknya ia hanya ingin Arsy bisa tetap lanjut sekolah kalau memang desas desus ini benar -benar membuat gempar sekolah.
"Pak Kepala. Bisa saya bicara sebentar?" tanya Teddy pelan.
"Bisa. Ayo ke ruangan saya," ucap Kepala sekolah itu santai.
Keduanya sudah berada di dalam ruangan dan duduk berhadapan. Teddy nampak tenang seali ingin mengungkap kejujurannya.
"Pak ... Ada hal yang harus saya bicarakan paa Anda dan ini hal penting," ucap Teddy pelan.
Kepala sekolah itu menatap tajam ke arah Teddy.
"Soal Arsy?" tanya kepala sekolah itu menuduh.
Teddy membalas tatapn kepala sekolah dengan bingung. Kenapa kepala sekolah bisa tahu?
"Iya. Ini soal Arsy," jawab Teddy pelan.
"Bapak sudah tahu soal ini?" tanya Teddy pelan.
Kepala sekolah itu mengangguk pelan.
"Pak Hermawan yang bilang pada saya. Kebetulan beliau sahabat saya dan ia memberikan alasan kenapa Arsy menikah muda," ucap kepala sekolah sambil tersenyum.
"Oh begitu. Maaf Pak, mungkin saya melanggar aturan sekolah ini. Tapi, ini semua permintaan Pak Hermawan, agar putrinya ada yang menjaga," ucap Teddy pelan.
"Iya ... Saya paham. Hermawan sedang merintis usaha baru di London. Ia bilang, usahanya di Jakarta sdeang tidak baik -baik saja," ucap kepala sekolah pelan.
"benar sekali Pak. Tapi, saya harus berjuang mengembalikan kepercayaan Pak Hermawan sebagai mertua saya. Saya mohon maaf, kalau di antara saya dan Arsy memang ada hubunga," ucap Teddy pelan.
"Satu hal. Jangan sampai Arsy hamil. Saya tidak bisa memberikan toleransi jika ada siswa saya yang sedang mengandung. Mau tidak mau ia harus di keluarkan dari sekolah. Tanpa terkecuali," ucap kepala sekolah dengan tegas.
Deg ...
Kata -kata kepala sekolah seolah menjadi tamparan bagi dirinya. Arsy sudah terlanjur hamil. Kalau sampai kebongkar, nasib Arsy tentu sudah pasti di keluarkan dari sekolah.
__ADS_1
"Kenapa? Kok Pak Teddy diam?" tanya kepala sekolah pelan.
"Gak Pak. Saya cuma ingin berterima kasih atas toleransi Bapak atas prnikahan Arsy dan saya," ucap Teddy pelan.
Teddy pun langsung ijin pamit keluar. Permasalahannya begitu banyak sekali.
"Pak Teddy ..." teriak Bu Lina dari ujung koridor sambil membawa tamu seperti orang kesehatan. Mungkin perawat atau bidan.
"Ya Bu," jawab Teddy pelan.
"Ini kenalkan bidan yang akan mengecek kesehatan siswa siswi di sekolah hari ini," ucap Bu Lina pelan.
Deg ...
Teddy semakin bingung. Kenapa tes kesehatan ini begitu tiba -tiba dan tak ada tembusan pada dirinya.
"Tes kesehatan? Dalam rangka apa?" tanya Teddy pelan.
"Hari narkoba, Pak. Kita sebagai guru haus memberantas itu, bukan," ucapBu Lina santai.
"Ohh ... Iya. saya malah gak tahu," ucap Teddy pelan berusaha menutupi rasa gelisahnya
Bu Lina hanya tersenyum kecut.
"Saya permisi dulu. Mau persiapan di aula," ucap Bu Lina pelan. Ia langsung mengajak bidan itu ke arah ruang aula.
Teddy kembali ke ruang guru dan mulai bingung bagaimana nanti jika Arsy harus tes urine.
"Kenapa Pak? Kok kayak panik?" tanya Pak Tunggul pelan saat melihat Teddy masuk ke dalam ruang guru.
"Gak apa -apa. Titip Arsy, Pak. Dia lagi gak enak badan," ucap Teddy pelan meminta ijin.
"Saya lihat, anda begitu peduli kalau dengan Arsy?" tanya Pak Tunggul pelan dengan rasa curiga.
Teddy hanya tersenyum kecut. Ia tak mau menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu. Ia berpura -pura keluar lagi dan berjalan menuju ruang kelas tiga.
Ingin rasanya mencari Arsy dan memberi tahunya sambil mencari solusinya.
Baru masuk ke dalam koridor kelas. Langkah kaki Teddy memelan. Ia mendengar sesuatu dari balik pintu kelas.
__ADS_1