
Suasana makan malam jadi kembali terasa sangat kaku. Arsy yang mulai tak nafsu makan dengan sikap dingin Teddy. Teddy nampak santai menghabiskan makanan yang di pesannya.
Tak ada candaan dan tak ada obrolan. Teddy sibuk dengan ponselnya saat menunggu Arsy menghabiskan makanannya.
Mungkin mulai hari ini, Teddy hanya bisa memantau Arsy dari kejauhan tanpa menitah atau menuntut sesuatu hal. Biarkan gadis itu tetap bebas dnegan segala harapan dan cita -citanya.
"Kok diam saja Pak?" tanya Arsy lirih.
Teddy tak mau menjawab. Ia tetap fokus mengendarai mobilnya dengan laju cepat agar sampai di rumah.
Tidak mendapat respon apa -apa, Arsy pun hanya bisa diam sampai di rumah mertuanya.
Arsy naik ke atas tanpa menyapa kedua mertuanya yang sedang makan malam. Kedua mertuanya hanya saling berpandangan saja menatap anak mantunya yang terlihat kedikit kecewa.
"Teddy, sini ...." panggil Sang Mama.
Teddy pun menghampiri Sang Mama dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan hormat.
"Duduk," titah Papa Baron tegas.
Teddy duduk dan menatap kedua orang taunya bergantian.
"Ada apa dengan Arsy?" tanya Mama lembut.
"Gak apa -apa Ma. Cuma salah paham saja. Mungkin Arsy cape jadi begitu," jawab Teddy membela Arsy.
"KAmu jadi pindah?" tanya Papah Baron pelan.
"Teddy bingung. Arsy kan masih sekolah. TAkut tidak bisa membagi waktu atau tak bisa mengurus rumah," jawab Teddy pelan.
"Coba di apartemen punya Papah. Apartemennya kecil dan hanya ada satu kamar. Mungkin dnegan begitu komunikasi kalian baik," ttitah Papah Baron.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi dengan kalian. Kalian ini kan pengantin baru. Coba kamu yang lebih sabar menghadapi Arsy," ucap Mama menasehati.
"Iya Ma. Teddy akan coba lebih sabar. Sementara kami tinggal di sini dulu sampai studi tour ke Bali minggu depan. Baru kami pindah," ucap Teddy pelan.
Teddy pun bangkit berdiri dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
ceklek ...
Teddy masuk ke dalam kamar tidurnya. Lampu kamar tidurnya sudah mati dan Arsy sudah tidur di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
Pelan langkah kaki Teddy berjalan menuju meja kerjanya untuk meletakkan tas kerjanya dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian.
Ia membersihkan diri. Dalam guyuran air shower hangat Teddy berusaha melepaskan penat dan permasalahannya tadi bersama Arsy..
Bukankah pernikahan memang bukan di jadikan suatu hambatan. Tapi, jika salah satunya tidak mau. Mana mungkin aku paksa agar ia mau.
Skip ...
__ADS_1
Pagi ini mereka sudah berada di jalan menuju sekolah. Kepala sekolah emmanggil Teddy untuk menghadap.
Mobil Teddy sudah di parkir di halaman sekolah. Pagi ini mereka berdua berangkat pagi -pagi sekali tanpa sarapan di rumah.
"Ini uang jajan untuk kamu," ucap Teddy memberikan uang lembaran merah untuk Arsy.
"Masih ada yang kemarin." jawab Arsy singkat.
"Ambilah. Mungkin kamu butuh untuk beli sesuatu. Atau untuk apa saja. Ini hak kamu. Suami waib memberikan uang untuk istrinya," ucap Teddy pelan sambil memberikan uang itu ke tangan Arsy secara paksa.
Deg ...
Ucapan Teddy bagai petir yang menyambar di pagi hari. Kewajiban suami memberikan uang untuk istrinya. Lalu? Kewajiban istri menyiapkan makanan untuk suaminya? Bahkan pagi ini Arsy minta berangkat pagi -pagi agar tiba di seolah sebelum teman -temannya datang. Ia malu satu mobil dengan Teddy. Sampai -sampai Teddy tidak sarapan pagi di meja makan bersama kedua orang tuanya yang telah memanggil untuk sarapan bersama.
Teddy lebih memilih Arsy dan menuruti semua keinginannya.
"Makasih Pak," ucap Arsy pelan. Lalu pergi begitu saja.
Teddy hanya menghela napas panjang melihat sikap Arsy yang ebenar -benar labil.
Arsy berputar dan mengetuk kaca jendela mobil Teddy. Teddy pun membuka kaca jendela itu dan menatap Arsy bingung.
"Apa lagi? Ada ynag tertinggal?" tanya Teddy pelan.
Arsy menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak ada." jawab Arsy singkat.
"Belum salim. Mau salim dulu biar sukses," ucap Arsy sambil tersenyum.
Tangan Arsy mengulur ke dalam dan Teddy pun menerima uluran tangan itu untuk di cium oleh Arsy.
"Hati -hati. Belajar yang bener biar jadi dokter," ucap Teddy menasehati.
"Siap Pak. Arsy janji bakal usaha belajar dengan baik," ucap Arsy semangat.
Keadaan sekolah masih sangat sepi sekali. Waktu masih menunjukkan tepat pukul enam pagi. Setelah meletakkan tas sekolahnya di kelas. Arsy bergegas menuju kantin sekolah dengan membawa dompet dan ponsel.
Beberapa warung di kantin sudah buka dan sudah mulai menjajakan makanan untuk sarapan pagi anak -an sekolah yang tidak sempat makan pagi.
"Pagi Bu. nasi kuningnya sudah ada?" tanya Arsy pelan.
"Ada dong. Mau pakai apa?" tanya Ibu kantin.
"Bisa di bungkus? Mau makan di kelas aja sambil kerjain PR," ucap Arsy berbohong.
"Bisa. Pakai steroform. Mau lenkap?" tanya Ibu kantin sudah memasukkan nasi kuning ke dalam steroform.
Iya. Lengkap isiannya dua bungkus ya Bu. Jangan lup agorengannya lima ribu sama kerupuknya pisah aja. Terus teh manis satu capucino satu," pinta Arsy memesan beberapa makanannya.
__ADS_1
Ia merasa sangat bersalah sekali.
'Istri macam apa aku. Bisa dosa besar kalau begini terus,' batin Arsy di dalam hati.
Semua pesanannya sudah ada dalam plastik. Arsy pun pergi menuju ruang BP setelah membayar sejumlah uang.
Samar -samar terdengar suara orang sedang berbicara. Tapi, yang satu suara wanita.
"Pak Teddy? Saa siapa?" tanya Arsy dalam hati.
Arsy berjalan semakin mendekati ruang BP itu dan melihat pintu ruangan itu tertutup.
Suara itu semakin terdengar jelas.
"Jangan dong Pak. Jangan begitu. Harus pelan -pelan," ucapan sang wanita yang Arsy dengar dari luar.
Otak Arsy mulai bekerja keras dan tetap berusaha tenang tidak travelling kemana -mana. Intinya tidak overthinking.
"Ya ... Harus pelan -pelan. Diam tak berarti tidak mengikuti alurnya kan?" ucap Teddy dengan suara khas.
'Apa sih ynag mereka lakukan?' teriak Arsy semakin kesal di dalam hatinya.
"Argh ... Begini saja sudah enak," ucap wanita itu kembali.
Telinga Arsy di tutup rapat dengan kedua tangannya. Ia tidak sanggup mendengar suara -suara yang membuatnya berpikir tidak -tidak.
'Bisa -bisanya berbuat mesum di sekolah.' bati Arsy semakin berkecamuk
BRAK ...
Pintu ruangan itu di tendang oleh Arsy dengan keras hingga pintu ruangan itu terbuka lebar. Teddy langsung menolh ke arah Arsy dan menatap lekat istri belianya itu.
dan satu lagi wanita itu adalah guru bahasa indonesia yang bernama Bu Lina. Ia tak kalah terkejutnya saat melihat Arsy dengan kasarnya membuka pintu ruangan itu.
"Kamu Arsy anak dua belas kan? Tidak bisa ketuk pintu dengan sopan? Bukan malah menendang pintu macam ini?" teriak Bu LIna yang kaget setengah mati.
Bu Lina dan Teddy saling duduk berhaapan dan mereka sedang makan pagi bersama.
Arsy menatap Teddy tajam dan berpindah ke arah Bu Lina. Lalu menatap dua kotak makan yang ada di dpean mereka masing -masing.
Dengan wajah memerah malu. Arsy pun berjalan menuju meja Teddy.
"Maaf kan saya Bu. Saya pikir ada yang berbuat mesum di sini. Pak, Ini titipan Bapak tadi," ucap Arsy kesal. Ia mengeluarkan satu box nasi kuning dan kopi untuk Teddy.
Arsy pun pergi meninggalkan ruangan itu dnegan hati yang dongkol.
"Pak? Kok diam saja? Malah melihat Arsy tanpa memarahinya. Dia sudah tidak sopan," ucap Bu Lina pelan.
Teddy hanya tersenyum kecut dan mengambil kotak makanan dari Arsy.
__ADS_1
"Biarkan saja Bu. GAdis labi," ucap Teddy santai.
"Tapi kan Bapak guru BP. Seharusnya bisa memberikan sanksi. Saya kaget bisa jantungan," ucap Bu Lina agak mendramatisir keadaan.