Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
LUPAKAN KETUA OSIS ITU


__ADS_3

Arsy menarik napas dalam dan pelan ia hembuskan untuk mengonttrol emosinya saat ini.


"Jangan gegabah. Ingat. Lagi pula Kamu cukup tahu, punya bukti untuk mengakhiri semuanya. Walaupun itu sulit Sy. Kamu tahu, Baru pacaran aja, Bismo sudah berani selingkuh, gimana nanti dia hidup sama kamu, Sy?" ucap Wulan menasihati.


"Yuk masuk ke dalam," ucap Arsy tak peduli.


Di dalam memang sangat ramai sekali. Tapi tak sulit bagi Arsy untuk menemukan Bismo dan Anisa yang sudah mendapatkan meja pesanan dan duduk mojok di bagian pojok dekat kaca besar tembus pandang itu.


Kedua mata Arsy menatap tajam ke arah Bismo yang terlihat sedang bercanda dan bersenda gurau dengan Anisa. Arsy sempat menangkap gambar mesra itu dnegna ponselnya. Ia hanya ingin menunjukkan kepada Bismo, betapa bejatnya perlakuannya kepada Arsy. Berselingkuh dnegan adik kelasnya sendiri.


Wulan menepuk pelan bahu Arsy dan menggandeng tangan Arsy menuju tempat pemesanan makanan.


"Mau makan apa Sy?" tanya Wulan pelan. Wulan iba melihat Arsy yang menahan air matanya.


"Apa aja, Lan," jawab Arsy lirih. Hatinya sudah tak kuat ingin berteriak keras. Arsy masih menahan rasa itu. Gimana perasaannya harus melihat kekasihnya dengan perempuan lain.


Arsy mencari tempat duduk yang masih kosong. Namun, jauh jaraknya dengan Bismo da Anisa, bahkan tidak bisa memantau jelas pergerakan keduanya.


Arsy duduk dan bersandar. Dengan kasar wajahnya di usap dengan kedua telapak tangannya. Mau nangis tentu akan malu dengan banyak orang.


"Makan dulu. Biar kuat. Gak perlu menangisi lelaki kayak gitu. Kamu sudah punya Pak Teddy. Kenapa juga gak fokus aja sama Pak Teddy yang sudah jelas ganteng, mapan, mau jadi suami? Apa lagi yang kamu takutnya? Orang tua sudah restu," tanya Wulan pelan sambil menyodorkan makanan dan minuman untuk Arsy.


"Arsy cuma agak nyangka aja. Bismo tega dengan ini semua," ucap Arsy lirih.


"Kalau boleh jujur, Aku juga pernah lihat beberapa kali memergoki Bismo dengan Anisa. Di toko buku sekali, dan di tempat makan beberap kali, waktu itu aku lagi jalan sama Reihan," ucap Wulan pelan.


Arsy menganga tak percaya. Ia menatap lekat kedua mata Wulan yang nampak jujur dan tak ada kebohongan sama sekali.

__ADS_1


"Kok Kamu gak pernah cerita sama aku, Lan? Kamu mau menyembunyikan kebusukna Bismo?" tanya Arsy kesal.


"Bu -bukan itu Sy. AKu gak ada maksud untuk membohongi kamu atau menyembunyikan apapun dari kamu. Aku hanya ingin kamu tahu sendiri dan bukan kata aku. AKu takut, kamu akan mengira aku tidak suka dengan hubunganmu dengan Bismo. Kamu tahu kan, maksudku? Ku pikir awal -nya mereka berdua jalan bareng karena urusan OSIS." ucap Wulan membela diri.


"Ya, sudah tidak apa -apa. Aku paham Lan." jawab Arsy yang nampak pasrah.


Kini, Arsy hanya ingin mengumpulkan semua tenaga, semua pemikiran positif, semua impiannya dan semua cita -citanya untuk tetap melanjutkan hidupnya.


"Semangat ya. Mending fokus sama Pak Teddy, jangan sampai, Tita beneran deketin Pak Teddy," goda Wulan sambil ngemil kentang goreng yang di pesannya.


Arsy mencoba tersenyum. Menyembunyikan luka hatinya. Ia harus tetap menjaga hatinya sendiri, tubuhnya agar tetap sehat. Sebentar lagi sudah akan di laksanakan ujian akhir, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Tidak mungkin cita -citanya tertunda karena sakit hati. Lebih baik, hempaskan Bismo dan lupakan mulai saat ini. Tak perlu ada kata putus karena semua sudah jelas. Betul, kata Wulan, lebih baik fokus dengan hubungannya dengan pak teddy yang sudah jelas -jelas SAH. Tidak ada orang tua yang ingin membuat anaknyasengsara. Semua pilihan dan keputusan orang tua itu tentu sudah di pikirkan baik -baik dan resiko terendah di masa depan. Tapi, membuka hati kembali setelah di sakiti itu kan tidak mudah.


"Makasih ya, Lan. Kamu memang bisa di andalkan menjadi sahabat. Selalu ada buat Arsy dalam suka dan duka," ucap Arsy tersenyum.


"Itu kan gunanya sahabat," ucap Wulan pelan.


Wulan tetap mengekor pasangan tersebut. Keduanya memilih duduk di antara keramaian dan tidak memilih di pojok yang terlihat sepi. Duduknya pun saling berhadapan, tidak berjajar seperti pasangan pada umumnya yang ingin berdekatan.


"Wulan, Kamu kenapa? Wajahkamu kayak panik gitu?" tanya Arsy pelan. Arsy menyadari yang tidak beres saat ini. Ia mencoba menolh ke belakang tept ke arah mata Wulan menatap. Arsy sendiri, begitu tertegun dengan apa yang di lihatnya. Baru saja ia membututi Bismo dan memergoki kekasihnya itu memiliki hubungan mesra dengan gadis lain. Kini, Arsy juga harus melihat lelaki yang melamarnya juga melakukan hal yang sam. Pergi dengan teman perempuannya, walaupun tidak ada tanda -tanda kemesraan di sana. Tapi, tetap saja, semua itu tidak bisa di maafkan.


"Arsy? Kita tidak tahu perempuan berhijab itu siapa? Mungkin temannya. Tidak terlihat mesar sama sekali. Berbeda dengan Bismo dan Anisa." bela Wulan untuk Pak Teddy. Wulan hanya merasa, pak Tedy adalah lelaki baik yang di pilihkan orang tua Arsy untuk Arsy.


Wajah Arsy terlihat sangat bete sekali.


"Aku ingin pulang sekarang. Aku lagi malas." jawab Arsy kesal. Kunci mobilnya pun di sodorkan kepada Wulan. hatinya benar -benar hancur. Ia tidak bisa mempercayai seorang laki -laki. Semua laki -laki sama saja.


Di saat Arsy berdiri dan menggendong tas punggungnya, tak sengaja Tedy melihat Arsy dan Wulan yang berjalan menuju pintu keluar rumah makan itu dari arah samping.

__ADS_1


"Sebentar ya? Ada tunangan ku. Jangan -jangan dia salah paham," ucap Teddy pelan.


Maya hanya mengangguk kecil. Ia pun ikut berdiri dan berjalan mengikuti Teddy.


"Arsy?" panggil Teddy dnegan suara keras saat melihat Arsy dan wulan sudah masuk ke dalam srea parkiran mobil.


Arsy mendengar namun i tetap saja cuek berpura -pura tak mendengar.


"Arsy. Pak Teddy manggil tuh." ucap Wulan pelan.


"Biarin saja. Untuk apa coba? Lagi pula dia lagi sibuk dengan teman perempuannya. Kita hanya di jodohkan. Jadi gak ada yang perlu di jelaskan, Lan," ucap Arsy pelan yang langsung masuk ke dalam mobil. Lalu mnegunci pintu mobil itu dengan rapat.


Teddy terus berlari dan mengetuk kaca pintu Arsy. Arsy hanya diam dn tak peduli. Rasa apa ini? Cemburukah Arsy melihat perempuan yang datang bersama Teddy. Bahkan Arsy pun belum menyukai Teddy.


"Wulan. Biar aku yang menyetir mobilnya. Kamu duduk di belakang." titah PAk Teddy dnegan lantang.


'Tapi Pak? Itu teman Bapak nyamperin," ucap Wulan pelan.


"Dia Maya, sepupuku." jawab Teddy singka tak banyak bicara.


Wulan pun memberikan kunci mobil Arsy kepada Tedy. Lalu masuk di jok penumpang bagian belakang.


"Maya? Aku pulang dengan Arsy. Terima kasih tumpangannya," ucap teddy pelan sambil masuk ke dalam mobil.


Arsy membuang muka dan memilih menatap kaca jendela yang ada di sampingnya.


"Hati -hati Ted. Salam kenal untuk Arsy, tunanganmu. Aku pasti datang di pesta pernikahan kalian," ucap Maya pelan. Suara itu tetap terdengar di telinga Arsy. jawaban yang membuat Arsy sedikit tenang dan lega.

__ADS_1


__ADS_2