
Teddy hanya tersenyum simpul mendengar permintaan Arsy yang begitu polos. Arsy masih malu meminta tolong apalagi harus mengambilkan pakaian termasuk pakaian dalam untuk onderdil tubuhnya.
Lemari pakaian itu di buka oleh Teddy. Kedua matanya terus menatap pakaian yang tertata rapih dan penuh, hingga Teddy sendiri bingung untuk mengambilkan pakaian yang mana.
"Sy ... Ini bajunya sama pakaian dalamnya," ucap Teddy lembut sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Arsy pun membuka sedikit pintu kamar mandi itu dan mengulurkan tangannya untuk menerima pakaian miliknya. Teddy langsung memberikan pakaian itu kepada Arsy.
"Terima kasih ya Pak," ucap Arsy dari balik pintu kamar mandi.
"Ya," jawab Teddy singkat.
Teddy kembali didik di kasur dan memainkan ponselnya sambil menunggu Arsy keluar dari kamar mandi.
"Argh ... Pak Teddy?" teriak Arsy dari dalam kamar mandi.
Teddy hanya diam dan tersenyum dengan senyum yang di tahan. Teddy sengaja tak bersuara dan tetap memainkan ponselnya.
LAgi -lagi ARsy memanggil Teddy dengan suara keras, nmaun panggilannya tak ada jawaban. Ia terdiam sesaat, berpikir kalau saja memang Teddy sedang tidak ada di kamarnya. Perlahan Arsy memakai pakaian yang di berikan oleh Teddy. Pakaian yang menurutnya sangatlah kurang bahn. Membayangkannya saja tak mampu, kini Arsy harus memakainya.
Pintu kamar mandi di buka pelan, kepalaArsy mulai menyembul dan kedua matanya memandang ke sekeliling ruangan yang bisa di jangkaunya. Suasanany sepi, tenang dan sunyi. Tidak ada suara apapun hingga suara litrik dari mesin pendingin pun tak ada.
Arsy membuka lebar pintu kamar mandinya. Kepalanya menggeleng kesal. TAk percaya harus memakai pakaian jaring laba -laba. Menurut Arsy pakaian seperti ini hanya akan di pakai wanita malam, pelakor yang menggoda lelaki hidung belang, tapi kini ia memakai baju ini. Entah baju dari mana Teddy mendapatkannya karena Arsy tak pernah mempuanyai pakaian seperti ini.
Dengan santainya Arsy pun berjalan keluar dari kama mandi menuju lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya. Baru juga berjalan beberapa langkah Teddy sengaja bangkit dari ranjang hingga membuat Arsy melotot, kaget, dan panik campur aduk. Arsy malu semalu -malunya. Pakaiannya yang di pakai saat ini benar -benar mengekspos tubuhnya seperti sedang telanjang. Arsy berusaha menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dan wajahnya seketika memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Maaf, Tadi saya bingung harus memberi kamu pakaia apa. Itu pakaian dari kotak seseraha yang belum di buka. Jadi, saya kasih yang itu," ucap Teddy lembu menahan tawa. Ia berkali -kali mengulum senyum. Ia sengaja membuat Arsy memakai pakaian itu dan tertangkap basah di depan Teddy. Teddy hanya ingin mnegajarkan bahwa mereka saat ini sudah SAH menjadi suami istri jadi tidak perlu canggung, malu atau panik jik beberapa bagian tubuh terlihat oleh pasangannya.
Wajah Arsy langsung berubah marah. Ia merasa Teddy seperti sengaja. Teddy pun melempar ponselnya dan berjalan menghampiri Arsy membuat Arsy semakin panik dan jantungnya berdetak keras.
"Pak Teddy sengaja? Kasih Arsy baju begini?" tanya Arsy kesal.
Teddy menatap lekat kedua mata Arsy dan mengangguk kecil dengan tersenyum manis.
"Sengaj agak sengaja sih. Tapi memang gak tahu, tadi lihat baju kamu terlalu banyak dan saya bingung,"ucap Teddy pelan. Kini Teddy sudah berdiri di depan ARsy menatap istri belianya itu dari bawah hingga atas.
"STOP. Lihat apa?" teriak Arsy melotot. Arsy mencari cara untuk menutup tubuhnya yang hanya tertutup kais tipi berjaring itu.
"Lihat apa? Lihat istri SAH? Memang salah? Memang dosa? Berdosa itu, kalau istri gak nurut sama suami," ucap Teddy pelan sambil mnedekatkan wajahnya ke wajah ARsy.
Arsy berusaha menjauh dan melangkah mundur tepat menabrak tembok pembatas. Tangan Teddy langsung memegang tembok dan menutup jalan ARsy yang bisa saja kabur sewaktu -waktu. Teddy sengaja ingin membuat Arsy pans dingin dengan perlakuannya.
"Jangan macam -macam Pak. Arsy masih perawan," ucap Arsy asal. Jawaban yang tak masuk akal dan tak sesuai dengan kondisinya. Mau perawan atau tidak, toh sudah menikah dengan Teddy.
"Terus?" tanya Teddy pelan dan mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah Arsy. Jaranknya mungkin hanya tersisa satu sentimeter saja.
"Arsy akan teriak keras. Biar Mama Tina datang. Melihat anaknya mau bertindak tidak senonoh," jawab Arsy yang sudah merasa terpojok.
Teddy semakin merapatkan tubuhnya tepat di depan ARsy tanpa menempel. Tangan kanannya di angkat memperlihatkan cincin pernikahan mereka di samping wajah Arsy yang sudh tak bisa berkutik lagi.
"Kita sudah menikah. Kalau saya mau, saya bebas melakukan apa saja dengnamu, kapan saja, dimana saja, termasuk saat ini," ucap Teddy pelan.
__ADS_1
Tangannya mulai menyentuh rambut Arsy. Mneggulung lembut rambut hitam itu dan jari -jari Teddy mulai menyentuh wajah cantik Arsy. Napas Arsy terhenti sejenak. Degup jantungnya smeakin tak karuan terasa di dadanya. Gemuruh dadanya terdengar jelas, ia sedang cemas dan panik.
"Kamu takut?" tanya Teddy pelan. Tangannya kini terhenti di pipi Arsy kemudian turun dan menyentuh bibir Arsy. Arsy tak berkutik, sentuhan yang awlanya membuat takut dan cemas, lama kelamaan membuat Arsy trbiasa. Arsy sudah lebih tenang dan dapat mengontrol dirinya agar tidak terlihat canggung.
Mendengar pertanyaan Teddy, Arsy hanya mengangguk kecil.
"Jangan buat saya cemburu. Jangan buat saya menunggu," ucap Teddy lirih tepat di depan wajah Arsy. Wajahnya terus mendekat ke arah Arsy dan cup ...
Bibir Teddy sengaja menempel pada bibir Arsy. Hanya menempel dan keduanya saling berpandangan dengan posisi bibir masih menempel satu sama lain.
Jantung Arsy makin berdetak dengan cepat. Napasnya pun terdengar berat. Arsy hanya memejamkan kedua matanya. Ia tak mau membalas tatapan Teddy.
Dengan pelan, Teddy pun membuka bibir Arsy dengan bibir dan lidahnya. Bibirnya menyusup masuk di antara kedua bibir Arsy membuat ARys membuka kedua matanya lagi dan Teddy masih menatap Arsy dengan binar wajah yang bahagia.
Arsy melepas pagutan di bibirnya. Ia merasa Tedy semakin bergairah.
"Emmm ... Katanya mau makan malam? Arsy ganti baju dulu," ucap Arsy pelan sambil berlalu pergi dari hadapan Teddy dnegan menunduk.
Antara malu, gugup dan senang rasanya bercampur menjadi satu di dadanya. Teddy memang pandai membuat hati RAsy luluh. Ciuman barusan adalah ciuman pertama bagi Arsy.
Teddy menatap lekat Arsy. Ada rasa kecewa di hati Teddy. Tapi Teddy berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Ia hanya tidak ingin kehilangan RAsy atau melihat Arsy kembali lagi dengan mantan pacarnya, Bismo. Ia ingin masuk le dalam hati Arsy secara perlahn dengan pelan dan lembut tanpa membuat Arsy risih dan terganggu.
Arsy membuka pintu lemari pakaiannya dan mengambil kaos lengan pendek dan celana pendek lalu pergi ke kaar mandi untuk mengganti.
Tangan Teddy terus memegang bibirnya. Ia masih merasakan kelembutan bibir ARsy barusan. Istri belianya itu memang masih polos sekali.
__ADS_1
"Pak? Ayok ... Mau makan gak?" ajak Arsy pelan setelah mengganti pakaiannya.
Teddy yang sempat melamun pun langsung menoleh ke arah Arsy dan mengangguk pelan.