Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ARSY CEMBURU


__ADS_3

Semua sudah masuk ke dalam mobil. Teddy dan Arsy duduk di depan, sedangkan Bismo dan Wulan duduk di jok belakang. Keempatnya diam tak bicara sepatah kata pun.


Teddy yang fokus dengan jalan pun tak berkomentar. Arsy pun yang sudah lelah pun juga tak bersemangat untuk bicara. Apalagi ia sedang tidak mau berbicara dengan Bismo dan Wulan.


"Kita makan dulu ya?" ucap Teddy kemudian.


"Jangan Pak. Makan di rumah saya saja. Mama sudah memasak untuk kita semua. Sebagai ucapan terima kasih," ucap Wulan pelan.


"Mama kamu masak? Kamu bilang kita semua dalam bahaya?" tanya Bismo pelan.


Wulan mengangguk pelan.


"Bilang dong. Biar Mama gak khawatir. Aku juga bilang lagi bersama Pak Teddy. Semua aku bilang," ucap Wulan pelan.


"Termasuk kehamilan kamu?" tanya Bismo panik. Ia tak sengaja kelepasan bicara dan membuat Arsy membuka matanya lalu menoleh ke arah Teddy. Teddy pun mengangguk kecil seolah paham dengan apa yang ada di pikiran Arsy. Ia lalu menggenggam tangan Arsy dengan erat. Mencoba memahami apa yang terjadi sebenarnya.


"Iya Mo. Aku hanya punya Mama sekarang. Kamu tahu kan, Papa ku sedang berada di penjara," ucap Wulan plan.


Teddy hanya melirik ke arah dua muridnya yang kini dalam masalah besar. ARsy sendiri semakin terkejut, saat Wulan mengiyakan ia sedang berbadan dua. Teddy semakin erat memegang tangan Arsy dan mengusap pelan tangan itu. Teddy berusaha untuk membuat Arsy lebih tenang dan tak menanggapi dengan emosi.


"Aku akan tanggung jawab Lan. Kmau harus percaya padaku," ucap Bismo tegas meyakinkan Wulan.


Tadinya Bismo masih dilema antara bertanggung jawab dengan rasa cintanya yang masih besar kepada Arsy. Tapi, memang semua itu akan indah pada waktunya. Di saat yang genting ia tahu, kekasihnhhya telah lebih dulu berbahagia. Walaupun mungkin keduanya sama -sama tersakiti dan kecewa. Tapi, Bismo yang lebih dewasa akan lebih bisa menyikapi permasalahan ini dengan bijak.


"Iya Mo. Aku percaya." jawab Wulan singkat. Bismo pun tersenyum ke arah Wulan.


"Pak ... Bapak bisa bantu kita berdua. Cari solusi baiknya bagaimana? Bismo ingin Wulan tetap bisa sekolah dan mengikuti ujian. Kesalaha ini mutlak bukan keinginan Wulan dan Bismo. Tolong Pak?" pinat Bismo dnegan nada memohon.


"Nanti kita bicarakan di rumah Wulan dengan kepala dingin," jawab Teddy pelan.


"Iya Pak. Terima kasih," ucap Bismo dengan penuh rasa terima kasih.


Arsy masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dalam pikirannya Wulan hamil dengan Bismo. Dan hanya itu saja yang menjadi pikirannya.


'Kenapa juga harus bantu siswi yang hamil. Lebih bagus di keluarkan dari sekolah,' batin Arsy yang sudah tertutup hatinya untuk memaafkan Wulan dan Bismo. Bahkan mendengar Papa Wulan berada di penjara pun, Arsy sama sekali tidak iba.


Tak lama sampai di depan gang kecil menuju rumah Wulan. Arsy berpura -pura tidur dan sulit di bangunkan.


"Kalian dulun saja. Biar saya bangunkan Arsy dulu," ucap Teddy pelan yang sejak tadi membangunkan istri labilnya itu.


"Iya Pak. Saya masih butuh saran dan nasihat Bapak," ucap Bismo penuh harap.


"Pak ... Kalau Arsy tidak mau bangun. Ya sudah, nanti saja kita bicarakan hal ini. Mungkin sementara waktu Wulan akan tetap sekolah, dan berusaha agar bisa sekolah sampai lulus nanti," ucap Wulan dengan pasrah.


Wulan tahu, perutnya makin lama akan membesar. Padahal sekolahnya masih lima bulan lagi, itu tandanya kehamilannya pun akan menginjak usia lima bulan.


"Kita harus cari solusinya," ucap Teddy pelan sambil menepuk -nepuk pipi ARsy yang tak kunjun bangun juga.

__ADS_1


"Sudah Pak. Jangan di paksa. Mungkin besok di sekolah kita bisa obrolkan lagi. Arsy lelah setelah kejadian hari ini. Mending Bapak dan Arsy pulang saja. Kasihan Arsy," ucap Wulan dengan lembut dan bijak.


"Iya Pak. Malam ini, biar Bismo yang menyelesaikan masalah ini dulu dengan Wulan dan Mamanya Wulan," ucap Bismo pelan.


"Benar kalian gak apa -apa kalau di bahas besok. Sebisa mungkin saya akan bantu kalian," ucap Teddy dengan tegas.


"Gak apa -apa Pak. Hati - hati di jalan ya," ucap Wulan pelan.


Teddy menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah menurunkan Bismo dan Wulan, Teddy pun langsung melajukan kembali mobilnya untuk pulang.


Kali ini ia tidak pulang ke rumah Mamah Tina melainkan ke suatu tempat. Ia mau mengajak Arsy bicara dari hati ke hati. Bukan itu saja, Teddy juga ingin meluruskan kesalah -pahaman anataradirinya dan Arsy dan juga kepada Wulan, sahabatnya serta Bismo.


"Kita mau kemana? Ini bukan arah jalan pulang," ucap Arsy pelan.


"Kamu sudah bangun?" tanya Teddy pura -pura. Ia tahu, tadi Arsy berbohong dan berpura -pura tidur.


"Kita akan tidur di suatu tempat, bukan di rumah Mama. Mungkin setelah ini kita akan pindah kesana. Kamu mau makan apa?" tanya Teddy pelan.


Kedua mata Arsy menyapu ke seluruh arah luar kaca. Ia melihat beberapa makanan yang di jual bebas di kaki lima. Tidak smeua makanan itu familiar namanya di telinga Arsy. Ada beberapa makanan yang sama sekali tak di kenal oleh Arsy. Contohnya makanan yang saat ini sedanh ia baca.


"Magelangan ... Bukannya itu nama kota? Kenapa jadi nama makanan," celetuk Arsy polos.


Teddy menoleh ke arah tenda kaki lima yang di baca oleh Arsy.


"Itu magelangan nama makanan. Kalau kota namanya magelang. Itu sesuatu yang berbeda. Magelangan itu jenis makanan nasi goreng yang di campur langsung dengan mie goreng. Kamu mau coba?" tanya Teddy lembut.


"Stop. Nanti kamu pilih snediri. Sekarang kita makan dulu. Saya juga lapar," ucap Teddy yang kemudian mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil.


Banyak orang yang sedang makan di sana pun memperhatikan mereka berdua. Terlebih memperhatikan Arsy yang masih memakai seragam puti abu di malam yang telah larut. Belum lagi pakaiannya terlihat lecek dan lusuh dan ada beberapa noda kotor di bagian lengna dan bawah kemeja.


"Pak ... Kok pada perhatiin Arsy sih? Emang Arsy berantakna ya?" tanya Arsy yang mulai tidak percaya diri.


"Bukan. Meraka melihat kamu, karena kamu cantik banget. Iri mereka sama kamu," ucap Teddy menghibur.


"His ... Gombal. Mana ada iri tapi tatapannya seolah kayak mau nanya sesuatu? Apa jangan- jangan ini karena Arsy jalan sama Om -om kayak Bapak?" tanya Arsy sinis.


Kedua mata Teddy pun melotot ke arah RAsy.


"Apa kamu bilang? Saya Om -om? Belum pernah di makan hidup -hidup sama Om -om kan? Lihat saja nanti?" ucap Teddy menggoda Arsy.


"Ampun Om. Jangan Om," tawa Arsy semakin lebar.


Perlahan Arsy mulai merasa tak ada beban pergi bersama Teddy. Sudah beberapa kali pergi membuat Arsy sudah terbiasa dnegan tatapan aneh orang lain kepadanya. Pelan -pelan Arsy mulai bisa mengakui pernikahan ini dan menerima Teddy yang memang lebih dewasa dari dirinya sebagai pasangan hidupnya yang SAH.


Teddy pun memesan makanan dn mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua.


"Pak ...Wulan beneran hamil?" tanya Arsy penasaran. Sejak tadi ia sangat kepo sama masalah ini tapi gengsi untuk ikut nyeletuk.

__ADS_1


"Iya." jawab Teddy singkat.


"Bismo mau tanggung jawab?" tanya Arsy kemudian semain penasaran.


"Iya." lagi -lagi Teddy hanya menjawab singkat dan terlihat malas merespon.


"Pak ... Serius dikit kenapa sih? Arsy kan tanya baik -baik," ucap ARsy kesal.


"Saya juga jawab baik. Iya, itu bahsa baku dan baik," jawab Teddy tak mau kalah.


"Wulan hamil sama Teddy?" tanya Arsy kemudian.


"Gak," jawab Teddy polos.


"Gak? Lalu hamil sama siapa? Dulu sih punya pacar, terus putus. Terus jomblo, masa bisa hamil," tanya Arsy yang semakin tak mengerti.


"Itu bukan urusan kamu kan? Kalau kamu mau tahu ya tanya langsung sama Wulan. Gak perlu gengsi. Tanya aja pasti di jawab, coba kamu dekati Wulan yang sedang banyak masalah," titah Teddy pelan.


Arsy pun memutar kedua bola matanya dengan malas. Arsy sudah malas membahas Wulan dan Bismo tapi ia penasaran tentang kehamilan Wulan.


"Mari makan ...." teriak Arsy langsung mengalihkan pembicaraannya saat makanannya sudah tiba.


Dengan cepat Arsy pun mengambil piring makanan itu dan alat makannya. Ia langsung melahap makanan itu dengan rakus seperti orang kelaparan.


Teddy hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak percaya Arsy begitu cuek dan tak peduli terlihat seperti tak di beri makan satu minggu lamanya.


"Pelan -pelan Sy. Nanti tersedak," titah Teddy pelan.


"Iya Pak" jawab Arsy pelan.


Pikiran Arsy masih tertuju pada Wulan. Ia penasaran sekai. Wulan hamil tapi bukan dnegan Bismo, tapi Bismo yang akan bertanggung jawab. Se -penting itu Wulan untuk Bismo.


"Sudah habiskan dulu makannya. Gaka usah mikirin orang lain," ucap Teddy pelan.


"Bapak ... tahu aja. Bisa gitu baca pikiran orang," ucap Arsy pelan.


"Bisa. Jadi kamu bohong pun, saya tahu," tegas Teddy membuat Arsy sedikit kaget.


"Masa sih Pak. Bapak becanda?" tanya Arsy yang terlihat kalang kabut.


"Kamu gak cinta sama saya kan? Kmau masih cinta sama Bismo dan kamu cemburu aklau Bismo dengan Wulan , sahabat kamu?" tanya Teddy pelan. Ia dengan tenang menghabiskan menu makanannya.


Arsy diam tak menjawab. Ia memang masih menykai Bismo. Tapi hari ini rasa kaumnya kepada Teddy semakin bertambah. Arsy juga sudah janji sama dirinya sendiri untu mulai menerima Teddy dengan ikhlas dan tulus.


"Itu dulu Pak. Sekarang sudah tidak," jawab Arsy penuh penyesalan. Cinta buta di masa putih abu itu hanyalah cinta monyet yang hanya memiliki kenangan manis. Karena masa putih abu adalah masa pendewasaan, masa pembelajaran dan masa mencari pengalaman serta ilmu yang banyak untuk bekal masa depan.


"Yakin? Sudah bisa cinta sama saya?" tanya Teddy menegaskan untuk meyakinkan Arsy.

__ADS_1


"Yakin. Buktinya Arsy cemburu tadi pagi Bapak sama Bu Lin. Tadi pas pulang sekolah juga asyik banget duduk berdua di depan kayak tuan dan nyonya," ucap Arsy getir.


__ADS_2