
Hari ini sekolah benar -benar di buat gempar perihal tes urine yang membuat beberapa siswa dan siswi mereka dalam masalah besar.
Beberapa orang di panggil ke ruang kepala sekolah dan di beri peringatan serta di panggil kedua orang taunya untuk menghadap.
Banyak yang marah, geram, menangis dan berteriak dengan keras karena meluapkan rasa kecewanya terhadap pihak sekolah. Beberapa siswa tidak terima dirinya akan di drop out dan di panggil kedua orang tuanya.
Arsy berjalan di koridor melihat sisi kanan dan kiri yang begitu terlihat seperti pasar.
Tadi pagi semuanya masih terlihat adem ayem, namun sekarang semuanya telah berubah menjadi histeris.
"Sy ... Kemana aja? Aku cariin kemana -mana?" tanya Wulan pelan menatap ARsy dengan pandangan aneh.
"Ada. Kenapa lihat Arsy begitu?" tanya Arsy dengan tatapan penasaran.
"Seragam putih loe kotor. Loe dari mana? Kayak habis di suruh bersihin gudang aja," ucap Wulan sambil membersihkan seragam putih Arsy yang terlihat banyak debu dan rumah laba -laba yang menempel.
Arsy pun menatap seragamnya yang benar -benar kotor.
"Oh ini tadi Arsy habis dari toilet yang di ujung gudang," ucap Arsy pelan mencari alasan.
__ADS_1
"Apa? Toilet yang ada di ujung gudang. Memang toiletnya kotor? Kan gak kotor?" tanya Wulan yang merasa aneh. Wulan merasa Arsy menutupi sesuatu.
"Ekhem ... Lan, kita mau kemana? Bukannya bentar lagi jam istirahat?" tanya Arsy pelan.
Wulan pun seperti terhipnotis dan menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
"Oh iya sudah mau istirahat. Tapi ... Lihat keadaan jadi genting begini. Banyak dari teman -teman kita tak terima dengan kejadian ini," ucap Wulan pelan.
"ARsy tahu maksud dengan kegiatan ini," jawab Arsy sekenanya.
Keduanya berjalan menuju ruang kelasnya.
"Bu Lina kan? Beliau ingin menjebakmu dengan tes urine ini," bisik Wulan menebak dnegan tepat.
Ia ingat tatapan mengejek Bu Lina kepada dirinya tadi. Tatapan yang membuat Arsy muak untuk melihat wajah sok alim berhati ular itu.
Pandangan Arsy kini beralih pada Teddy yang sedang berbicara serius di seberang koridor.
"Cemburu Bu?" tanya Wulan menggoda.
__ADS_1
"Gak. Cuma aneh saja," jawab Arsy pelan.
"Aneh gimana?" tanya Wulan menatap kedua gurunya itu yang nampak biasa saja. Bahasa tubuhnya juga terlihat santai tanpa ada sesuatu yang patut di curigai.
"Bu Lina. Dia tuh kan sudah tahu tentang hubungan Arsy dan Pak Teddy, tapi kayak masih gak bisa nerima dan seolah emang mau jadi racun dalam rumah tangga Arsy," ucap Arsy pelan.
"Namanya juga pelakor. Pepet Lanjut Ke Orang," jawab Wulan tertawa keras.
"Hah? Dapat singkatan dari mana tuh. Suka asal banget," jawab Arsy pelan.
Suara pengumuman dari kepala sekolah melalui mik yang bisa di dengar oleh semua murid. Jleas kala sekolah meminta seluruh murid untuk tetap tenang dan masuk ke dalam ruang kelas mereka masing -masing karena wali kelas akan masuk untuk memberi pengarahan.
"Masuk kelas. Gak jadi deh makan es durian," celetuk Arsy yang kecewa.
"Es durian? Hei ... gak boleh makan durian, lagi bunting," cicit Wulan mengingatkan.
"Itu kan campuran. Masa iya gak boleh. Pengen tahu," ucap Arsy kesal.
Ia berjalan menuju ruang kelas bersama Wulan. Menatap Teddy yang berpisah dengan Bu Lina di pertigaan koridor dan Teddy menuju ruang kelasnya.
__ADS_1
"Sejak kapanPak Teddy menjadi wali kelas kita?" tanya Wulan pelan sambil tertawa kecil.
Kedua mata Arsy pun menatap aneh saat Teddy benar- benar masuk ke dalam ruang kelasnya.