Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KEPERGIAN TEDDY


__ADS_3

Pelukan penuh kasing sayang dan ketulusan itu pun saling berbalas. Teddy mengusap lmbut punggung Sang Istri di depan umum. Sudah hilang rasa malunya yang sejak tadi melingkupi pikiran Arsy. Saat ini, ia hanay merasa perlu membelas semua kebaikan suaminya ini dengan melayani Teddy sebaik -baiknya.


"Gelatonya nanti cair. Lagi pula, lihat semua pengunjung ikt terharu,' bisik Teddy pelan menahan tawanya.


Arsy pun melonggarkan pelukannya dan kedua matanya mengedar pelan. Benar sekali semua orang masih menatap merka berdua yang membuat iri.


Tangan Teddy pun mengusap lembut bagian bawah mata Arsy dan menghapus sisa air matanya yang terus mengalir melalui pipi chubbynya.


"Mas sih. Arsy malu ini," ucap Arsy yang langsung memerah wajahnya dan menunduk lagi sambil mneghapus air matanya dengan punggung tangan secara asal.


Teddy pun menggandeng Arsy dan kembali duduk ke mejanya.


"Mas pakaikan di jari kamu, ya? Biar kamu selalu ingat sama Mas, gak pernah lupa sama Mas," ucap Teddy pelan smabil mengambil cincin pernukahan iru dan di pasangkan di jari manis sebelah kanan Arsy.


Cincin pernikahan itu tidak pernah hilang. Teddy menemukannya di wastafel kamar mandi apartemennya. Ia tahu, saat itu Arsy masih belum bisa.menerima dirinya sebagai suami. Mungkin karena malu, Arsy sengaja melepas cincin pernikahan itu dan biasanya ia simpan di dompet. Mungkin saat itu sedang terburu -buru, Arsy pun lupa membawa kembali cincin pernikahan itu ke dalam kamar.


Arsy memegang pelan cincin pernikahan itu dan di usapnya pelan. Lalu, dengan cepat ia mencium pipi Teddy.


Kedua mata Teddy langsung melotot menatap Arsy.


"Kenapa? Arsy makan gelatonya ya?" ucap Arsy sedikit gugup bercampur malu.


"Kamu nyium pipi, Mas?" tanya Teddy tak percaya.


Arsy mengangguk pelan, "Iya."


"Boleh di ulang?" tanya Teddy nampak serius padahal sedang menggida Arsy.


Tanpa ragu dan santai, Arsy pun langsung mencium kembali pipi Teddy.


"Sudah kan? Makan ah ...." ucap Arsy riang.


"Sudah apanya? Belum juga?" ucap Teddy masih ingin menggoda kembali istrinya yang sedang bahagia.


"Tadi sih barusan. Di cium pipinya," jawab Arsy dengan polosnya.


"Yang ini, Sayang," ucap Teddy pelan menunjukkan bibirnya.


"Ihh ... Mesum. Gak lihat masih banyak yang lihatin kita tuh. Malu dong," ucap Arsy mulai kesal.


Melihat Arsy sudah sedikit ketus. Dengan cepat Teddy mengalihkan perhatian dengan menyuapi Arsy.


Lagi -lagi Arsy terhanyut dengan suasana dan pesona Teddy yang begitu manis hari ini. Arsy pun menerima suapan itu dengan senyum lebar.


"Enak gak? Menurut Mas, ini gelato paling enak di kota ini," ucap Teddy pelan.

__ADS_1


"Enak banget." Wajah Arsy begitu sumringah. Suasana hatinya benar -benar lagi sangat baik.


Satu jam mereka bersama di cafe gelato. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Diam -diam Teddy sudah meminta tolong Mama Tina dan Papah Baron untuk membawakan koper besar di kamarnya untuk di bawa ke bandara.


"Kamu mau kemana lagi, Sayang? Jam empat Mas sudah harus di bandara," ucap Teddy pelan sambil menatao lekat kedua mata Arsy yang agak terkejut dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Waktu mereka hanya tersisa satu jam lagi. Wajah Arsu seketika berubah sedih. Rasanya ia tidak au semua kemesraan ini berakhir. Arsy iingin tetap bersama -sama dengan Teddy. Rsa ketergantungannya mulai meronta -ronta untuk tidak di tinggalkna begitu saja. Air matanya sudah kembali mengumpul di kelopak mata. Warna mat Arsy berubah memerah dan berkaca -kaca. Dadanya mulai sesak menahan agar air matanya tak jatuh dan tidak menangis dengan bersuara. Cukup ia menahan rasa kecewa di dadanya saat ini. Penyesalannya selama ini yang sering membuat Teddy mungkin kewalahan menghadapi sikapnya yang masih kekanak -kanakan dan tidak dewasa.


"Mas yakin?" tanya Arsy terbata. Hanya pertanyaan itu yang mampu terucap dari bibirnya.


"Yakin apa?" tanya Teddy pelan.


"Yakin mau pergi? Mau ninggalin Arsy sendiri di sini?" tanya Arsy pelan.


Teddy tersenyum dan mengacak rambut Arsy pelan. Wajah Arsy masig saja cemberut dan sedih.


"Mas perginya hanya sebentar, Sayang. Satu minggu dan Mas janji pulang untuk kamu dan anak kita. Kamu mau oleh -oleh apa?' tanya Teddy pelan. Teddy sengaja ingin membuat Arsy melupakan sejenak kepergiannya. Toh, ia pergi hanya semnetara mengurus rumah sakitnya.


"Tapi Mas ... Arsy meraa Mas akan pergi jauh dan begitu lama," ucap Arsy pelan.


Dengan menggelengkan kepalanya cepat, dan menggenggam tangan Arsy dengan erat. Teddy betul -betul berusaha meyakinkan ARsy bahwa ia hanya akan pergi sebenatr. Hanya satu minggu saja.


"Percaya dan yakin sama Mas. Mas pasti kembali," ucap Teddy pelan.


Suara itu memang membuat Arsy yakin, tapi sama sekali tidak merubah pikiran dan batinnya yang sama seklai tak bisa meyakini itu semua.


Teddy sengaja akan Arsy berputar -putar lagi, lalu langsung ke bandara.


"Kan tadi Mama pesen gelato tiramisu?" ucap Arsy mengingatkan.


"Gak jadi katany. Yuk pulang. Kita lewat jalan swah lagi, biar terlihat indah," ajak Teddy dengan penuh semangat.


"Iya. Mas, foto dulu yuk," ucap Arsy kemudian.


Ia mengambil ponselnya dan mulai mengambil beberapa gambar selfie dirinya dan Teddy.


Perjalanan itu menuju bandara hanya memutari jalan utama saja. Teddy harus sampai di bandara maksimal pukul setengah lima sore. Arsy sendiri tak sadar kalau setelah ini hanya akan ada tangisan dan kehilangan.


Hampir satu jam perjalanan menuju bandara. Arsy tersadar kalau dirinya di bawa ke arah bandara.


"Mas ini kan bandara?" tanya Arsy pelan.


"Iya ... Memang ini bandara. Kamu gak mau mengantarkan Mas kesini?' tanya Teddy memarkirkan motornya di parkiran yang sudah di sediakan.


"Bukan gak mau. Nanti Arsy semakin sedih," ucap Arsy pelan.

__ADS_1


Ary sudah turun terlebih dahulu baru di susul oleh Teddy yang seperti biasa membukakan tali pengait helm.


"gak boleh sedih ah. Kayak mau pergi lama aja," ucap Teddy menasehati.


"tetep aja," jawab Arsy pelan.


Teddy langsung merangkul Arsy dan berjalan menuju pintu masuk penerbangan antar negara.


Setiap langkah Teddy selalu memberikan motivasi serta support untuk Arsy. Setiap napas Teddy selalu memberikan nasihat -nasihat penting yang harus di ingat Arsy.


"Mas tidak mau dnegar. Kamu menangis, gak mau dnegr kamu gak mau minum susu aau makan, dan gak mau dengar Mama bilng, kamu pulang sekolah telat, kecuali memang latihan drama. Inget ya, pesen Mas. Ini bukan pesan main -main," ucap Teddy pelan.


"Iya Mas. Arsy paham," jawab Arsy menurut.


Tangan Arsy pun merangkul ke pinggang Teddy. Semakin masuk ke dalam. Perasaan sesak itu semakin muncul di hati Arsy.


"Teddy ...." suara bariton Papa Baron pun terdengar sangat keras.


Teddy langsung melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


"Pah ... Mah ... Sudah dari tadi?" tanya Teddy pelan. Rangkulan di pundak Arsy sama sekai tak di lepasnya. Ia tahu, Arsy sangat tak mau di tinggalkan.


"Barusaja. Tai, untung kamu tepat datang. Pesawat akan di majukan jam setengah lima. Cepat kamu kesana," titah Mama Tina.


Teddy menatap Arsy yang terus emmegang kaos Teddy.


Perlahan Teddy melepaskan pelukan Arsy dan mereka berdiri saling berhadpan. Teddy langsung memeluk ARsy dengan sangat tulus.


Tangis Arsy pun langsung pecah. Entah kenapa ia begitu sensitif, dan begitu tak mau kehilangan Teddy.


"Inget pesan Mas. Jaga diri baik -baik, jaga anak kita. Gak usah macam -macam. Mas sellau sayang kamu, Sy," ucap Teddy berbisik.


Teddy mlonggarkan plukannya dan ematap Arsy yang sudah basah dengan air mata. Arsy menangis sesegukna dan tak bisa mengontrol emosinya.


Ia terus menangis hingga kecupan bibir Teddy mengenai seluruh wajah Arsy pun sudah tak berasa lagi. Teddy semakin enggan untuk pergi, tapi ini semua penting dan tak dapat di wakilkan.


Terakhir, Teddy pun mencium bibir RAsy dengan lembut. Arsy langsung membalasnya. Bahasa bibirny memohon agar kepergian itu di batalkan.


Tautan kedua bibir itu pun di lepaskan Teddy. ARsy masih memegang erat lengan Teddy.


"Jangan pergi , Mas," ucap Arsy lirih.


"Mas akan pulang secepatnya. Mah, jagain Arsy untuk Teddy," titah Teddy kepada Mamanya.


Teddy pun pergi dan berjalan cepat menuju eskalator meninggalkan Arsy yang semakin histreis dalam pelukan Mama Tina.

__ADS_1


"Mas Teddy ...." teriakannya begitu keras hingga Teddy pun masih cukup jelas mendengarnya. Rasanya hatinya juga tersayat -sayat mendengar jeritan kepedihan Arsy yang begitu kentara sekali.


Teddy tak mau menoleh. Ia tak bileh gagal kali ini. Ia tetap tterus maju jalan dan sedikit egois mengabaikan Arsy bersama kedua orang tuanya.


__ADS_2