
Sesuai janji dokter yang memeriksa kepada Arsy. Sore ini Arsy di perbolehkan pulang ke rumah dengan catatan penting dari dokter yang harus selalu di taati oleh Arsy. Mulai dari makan yang harus tetap di jaga gizinya dan obat yang di berikan jangan sampai terlewatkan dari waktu yang di tentukan untuk di minum.
Infusan di tangan Arsy juga sudah di lepas oleh perawat dan surat keterangan pulang juga sudah di berikan pada Arsy. Teddy masih sibuk mengurus admininstrasi dan menunggu obat yang harus di tebus dari apotik.
Bunda Arsy juga sudah selesai membereskan pakaian ARsy ke dalam tas pakaian dan merapikan beberapa bungkus snack yang tersisa untuk di bawa pulang.
"Mau minum teh anget? Biar Bunda belikan di kantin sekalian nunggu Nak Teddy menebus obat," tawar Bunda Arsy dengan suara lembut.
"Gak Bun," jawab Arsy begitu singkat. Arsy hanay memegang ponselnya dan emnatap nanar ke layar beranda ponsel. Foto kedua bayinya itu di jadikan foto beranda di ponselnya, agar sewaktu -waktu Arsy rindu bisa langsung melihat foto tersebut.
__ADS_1
Bayi yang ia kandung sleama sembilan bulan dan berakhir tragis. Tidak ada petir tidak ada hujan, smeua seperti baik -baik saja. Memang ada firasat buuk dari mimpi -mimpi yang kurang mengenakkan untuk Arsy beberapa malam terakhir. Tapi, Arsy sama sekali tidak menduga kalau mimpi tersebut malah menjadikan madu pahit untuknya.
Bayi kembar yang tak pernah sempat Arsy lihat wujud aslinya. Apalagi menggendong keduanya? Semua itu hanya angan -angan saat ia masih mengandung. Rasanya malas pulang ke rumahnya sendiri. Itu akan lebih menyakiti hati Arsy. Melihat kamar bayi yang sudah di persiapkan jauh -jauh hari dengan cat tembok bervariasi membuat suasana menjadi terkesan ceria dan bahagia. Belum lagi box bayi yang sudah di bersihkan dan di rapikan smeua bantal, guling dan selimutnya. Baju -baju bayi si kembar, topi rajut, kaos kaki, kaos tangan, bedak, minyak telon. Arghhhh ... Ini masih sulit di terima. Semuanya menjadi mimpi buruk yang nyata.
Buliran air mata Arsy kembali turun. kedua matanya telah basah sambil menatap layar ponselnya. Tangan Arsy mengepal erat. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa ia tidak hati -hati. Kenapa ia tidak menurut ucapan Teddy yang menyuruhnya untuk tidak kuliah dulu dan mengurus si kembar? Kenapa waktu Teddy minta putar balik karena firasat buruknya terasa, Arsy egois untuk tetap kuliah.
"Arghhhh!! Kenapa!!" teriak Arsy denagn suara keras dan lantang. Kata -kata itu lolos begitu saja dari bibir mungil Arsy yang tak kuasa lagi menahan rasa sakit di hatinya. Menangis saja tak cukup melegakan hatinya. Beban di batinnya sungguh menyakitkan dan terasa perih serta pedih. Luka yang terasa seperti sayatan silet namun tak mengeluarkan darah sedikit pun. Sesak di dadanya terus membuat jantungnya ingin berhenti berdetak agar dunianya juga ikut berhenti sejenak.
"Arsy ... Kamu tidak apa-apa?" tanya Bunda Arsy pelan sekali. Bunda Arsy sedikit ragu bertanya hal itu pada Arsy. Rasanya tak kuasa melihat keklautan Arsy, wajah Arsy yang tak pernah lagi tersenyum. Kulitnya terlihat kuyu dan pucat.
__ADS_1
Arsy masih menggenggam ponselnya semakin erat dan memejamkan kedua matanya sambil menarik napas dalam.
Teddy membawa satu plastik berisi obat untuk Arsy lalu berlari mendekati istrinya. Saat Teddy berada di depan pintu, Teddy mendengar Arsy berteriak histeris.
"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Teddy lembut dan menggenggam tangan Arsy dan mencium lembut tangan itu. Teddy menatap sendu ke arah kedua mata Arsy yang basah dan mengusap sisa air mata di pipi Arsy menggunakan ibu jarinya.
Arsy menatap Teddy dan memejamkan kedua matanya lagi sambil terisak. Kali ini tangisannya bersuara dan akhirnya Arsy memeluk Teddy dengan erat.
"Arsy jahat ya, Mas. Arsy membuat mereka tidak ada. Arsy pantas di hukum karena tidak bisa menjaga dengan baik bayi Arsy," ucap Arsy sesegukan.
__ADS_1
Teddy menggelengkan kepalanya pelan sambil mengusap kepala hingga punggung Arsy.
"Kamu Ibu yang hebat. Kamu Ibu yang baik. Kamu Ibu yang luar biasa. Sekarang kamu menjadi Ibu yang kuat. Ibu yang tegar menerima takdir, Arsy. Ini bukan kesalahan tapi ini takdir mereka," ucap Teddy ikut menangis.