Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
9


__ADS_3

"Memang kenapa kalau Nada mengandung? Ada yang salah?" tanya Pram kemudian dengan cemas.


"Pernikahaan ini jangan sampai terjadi. Lahirkan dulu anak itu atau Nada harus mengikuti beberapa ritual. Tapi, karena kalian sudah menikah, mau tidak mau, Nada harus mengikuti ritual ini. Hari ini juga kamu pergi ke belakang gunung payung. Di sana ada bukit yang namanya bukit hujan, karena setiap hari selalu hujan. Lalu berjalan sedikit ada sebuah desa yang di huni sekitar beberapa orang tua saja dan KI MELET, dia akan membantumu," ucap penghulu abal - abal itu terkekeh penuh arti.


Nada menatap Pram dengan tatapan bingung.


"Kami berdua?" tanya Pram pelan.


"NO ... NO ... NO ...." ucap penghulu abal - abal itu dengan cepat.


"Hanya Nada. Dia sendiri. Dari pada nanti terjadi sesuatu hal pada anak yang di kandung," ucap penghulu abal - abal itu kemudian dan mencoba meyakinkan.


Nada semakin gusar. Teringat kata - kata Sang Perias tadi. Ini semua hanya akal - akalan belaka tapi malah menyulitkan Pram dan Nada sendiri. Banyak hal yang mereka tidak tahu tentang kutukan terhadap desa ini.


Hari itu terasa menyeramkan bagi Pram dan Nada. Seharusnya pernikahan itu menjadi awal yang membahagiakan dan menjadi lembaran hidup baru bagi keduanya walaupun hanya pernikahan sandiwara, tapi semuanya malah berakhir pada sebuah kutukan.


Di dalam kamar Pram yang tidak luas namun terasa nyaman itu, Nada berjalan bolak balik dan sesekali menatap ke arah luar jendela dengan membuka hordeng sedikit.


Sejak tadi siang, perasaan Nada tidak enak. Apalagi ucapan perias siang tadi membuat ia benar - benar kepikiran. Besok akan di mulai ritual yang menurut Nada sangat aneh. Tapi mau tidak mau harus di lakukan.


ceklek ...


"Kamu belum tidur?" tanya Pram pelan kepada Nada.


Nada hanya menatap cemas ke arah Pram. Pram sendiri langsung menggelar kasur lantai untuk ia berbaring. Mereka tidak mungkin tidur bersama dalam satu ranjang.


"Belum," jawab Nada pelan dan singkat. Hatinya bingung dan khawatir, campur aduk memikirkan untuk hari esok.

__ADS_1


"Tidurlah. Kamu pasti lelah," ucap Pram yang terkesan sangat datar sekali.


Nada semakin tajam menatap ke arah Pram yang sepertinya tidak memikirkan hal yang tadi sama sekali.


"Bisa santai? Ini semua kan ulah kamu? Aku yang harus kena getahnya?" ucap Nada dengan suara agak meninggi.


Pram memang cuek, bukan tak memikirkan tapi ia sendiri juga bingung mencari jalan keluarnya. Pram lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur tipis dengan mendekap guling kesayangannya.


Tarikan napas Pram terdengar jelas dan hembusan napasnya langsung di buang dengan kasar.


"Maafkan aku, Nada," lirih Pram mengucapkan kata itu sambil tidur terlentang dan melepaskan guling kesayangannya. Kedua tangannya di lipat di depan dada dan pandangannya lurus ke depan melihat langit - langit kamar tidurnya.


"Bukan masalah maaf. Kita ini malah terjebak masalah buatan kita sendiri. Mereka tahunya aku ini hamil duluan dan itu di anggap mengotori desa ini. Lalu harus ikhlas mengikuti ritual yang sebenarnya kita tak melakukan apa - apa. Bukan kah itu sesuatu yang gila?" tanya Nada semakin kesal. Napasnya makin memburu.


Pram pun memejamkan kedua matanya. Otaknya berpikir dengan keras teringat ucapan penghulu abal - abal itu yang mengharuskan Nada melakukan beberapa ritual sebagai tolak bala dari karma desa kutukan nantinya.


Belum lagi, Nada harus makan makanan yang ngerambat dan tidak boleh makan yang di sembelih. Semua makanan pun hanya boleh di rebus tanpa olahan lain.


Makanan harus di makan dari pincuk daun jati. Selain itu tidak boleh makan makanan dari tusuk tusukan. Belum lagi setiap bulan purnama Nada harus berendam di kolam lumut. Kolam lumut adalah kolam peninggalan leluhur, dulu biasanya di lakukan untuk menghilangkan penyakit yang datangnya sebuah kutukan.


"Kita pergi saja? Bagaimana?" tanya Pram yang mulai tak bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan secara asal.


"Pergi? Mau pergi kemana?" tanya Nada pelan.


"Kemana saja. Jauh dari desa aneh ini dan tidak kembali ke desa kamu, Nada. Aku hanya ingin membantu kamu untuk menggapai cita - cita kamu," ucap Pram pelan.


Nada terdiam. Ia benar - benar tidak menyangka Pram akan mebelanya seperti ini.

__ADS_1


"Tapi minggu depan kamu kan harus wisuda?" tanya Nada pelan.


"Masalah itu gampang. Kita cari tempat tinggal saja dulu dan aku akan mencari kerja, begitu pun kamu, sambil kita mencari celah untuk mengejar impian kamu," ucap Pram pelan.


Keputusan Pram malam ini seolah sudah sangat bulat dan sudah tidak bisa di ganggu gugat.


Pram pun bangkit bangun dari tidurnya lalu berdiri dan mengambil tas kopernya mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari dan di masukkan ke dalam kopernya.


"Kamu serius?" tanya Nada pelan.


"Iyalah. Demi kamu. AKu punya hutang budi yang berakhir berantakan. Maafkan aku," ucap Pram pelan.


"Memang tidak ada cara lain selain ini?" tanya Nada lirih. Nada sendiri tidak mau mengambil langkah gegabah yang semakin salah nantinya.


Pram hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun setengah hati untuk pergi meninggalkan rumah orang tuanya itu.


"Tidak ada. Sejak kecil aku memang jarang tinggal di desa ini. Aku lebih suka ikut Nenek di desa sebelah hingga sekolah lalu akhirnya Nenek meninggal dan aku menyelsaikan masa sekolah di desa ini dan kuliah di luar kota. Jadi memang aku tidak tahu tentang silsilah desa ini adalah desa terkutuk. Pantas saja, banyak perempuan yang meninggal tanpa di ketahui sebabnya. Dan itu masih meresahkan untuk desa ini," ucap Pram pelan.


"Memangnya tidak ada yang mengusut?" tanya Nada yang sebenarnya penasaran dengan keadaan desa aneh ini.


"Tidak ada yang berani. Baru saja tadi bicara dengan Bapak dan Ibu, ternyata memang desa ini di kutuk oleh para leluhur karena jaman dahulu banyak lelaki yang pergi meninggalkan desa ini untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Para istri dan anaknya di tinggalkan begitu saja, dan akhirnya banyak para wanita menjual tubuhnya dengan berlenggak lenggok di atas panggung dan kini lebih sering di sebut biduan. Jadi nama biduan itu terkesan jelek di bandingkan seorang penyanyi," ucap Pram pelan.


Nada mengangguk paham dan mengerti. Tapi hal - hal berbau mistis itu pelan - pelan harus di kikis dan di hilanagkan drai desa ini.


"Tahu gak? Ini karena kalian tidak mengenal Tuhan. Hanya percaya pada ilmu hitam dan pedukunan," ucap Nada pelan.


"Kok kamu tahu? Kalau masyarakat desa ini tak mengenal agama?" tanya Pram pelan.

__ADS_1


Nada hanya tersenyum kecut. Nada tetap ingin berada di desa ini dan meluruskan hal hal yang tidak benar menjadi hal yang benar dan baik.


__ADS_2