
"Bengong aja. Ayok Sy. Sesekali kita healingnya naik motor," ucap Teddy dengan penuh semangat.
Arsy masih takjub dan kagum menatap Teddy, suaminya itu. Kesempurnaan wajahnya baru saja di nikmati oleh Arsy. Ia baru sadar jika suaminya itu anugerah terindah yang di ciptakan oleh Tuhan khusu untuk dirinya. Betapa beruntungnya ia mendapatkan lelaki dewasan dan tampan seperti Teddy.
"Hei ... Sayang .... Kok malah melamun sih? Ayok naik sini," ucap Teddy yang kemudian menstandartkan motornya dan memakaikan helm setengah batok untuk Arsy.
Lalu, di genggamnya tangan Arsy dengan lembut dan di bawa ke arah motor.
"Sejak kapan bisa motor? Arsy gak pernah lihat, Mas bawa motor," ucap Arsy pelan.
Teddy lebih dulu naik ke atas motor dan memegang tang motor dan Arsy mencoba berusaha naik ke atas jok motor di bagian belakang Teddy dan Teddy mencoba memegangi tangan Arsy yang memegang bahunya.
Senyuman Teddy begitu manis. Ia tak mau membuka masa lalunya kada istri labilnya itu. Cukup, yang di ketahui Arsy adalah Teddy yang saat ini berdiri di hadapannya dengan segala rasa cinta, rasa sayang dan semua perhatian hanya untuk Arsy.
"Bisa naik motor sejak SMP. Tapi bawa perempuan dalam boncengan baru kali ini. Mas agak gugup ini. Apalagi bawa Ibu hamil," ucap Teddy pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Arsy yang ikut tersenyum senang.
"Bohong aja bawa perempuan baru kali ini," ucap Arsy tak percaya.
Tangan Arsy di tarik oleh Tedy ke arah depan dan melingkari perut rata Teddy.
__ADS_1
"Kalau naik motor pegangan begini, biar romantis," ucap Teddy tertawa.
Arsy pun hanya menggeleng -gelengkan kepalanya pelan. Ia merasa lucu dengan pernikahan ini. Awalnya marah menerima ini semua, tapi bisa sampai hamil. Makin kesini, makin merasa candu dan gak mau di tinggalkan. Hari ini sebenarnya menjadi hari yang berat bagi Arsy. Melepas Teddy pergi demi pekerjaannya.
Bukan hal mudah tentunya karena mereka tak pernah berjauhan. Usia pernikahannya sudah mau menginjak pas dua bulan.
"Emang romantis di lihat dari pegangannya aja?" tanya Arsy pelan.
"Ekhemm ... Terus romantis menurut kamu apa, Sy? Maksudnya contohnya seperti apa?" tanya Teddy pelan menunggu jawaban Arsy seblum menyalkan mesin motor gedenya itu.
"Menurut Arsy mencakup banyak hal, bukan masalah pegangan tapi lebih ke bahasa tubuh kita yang sama sekali gak ragu lagi mengungkapkan semuanya kepada pasangan kita," ucap Arsy yang semakin terlihat bijak dan dewasa.
"Kita? Mas naenyak?" ucap Arsy pelan dengan gaya bahaasa yang sedang viral. Ia malah terkekeh sendiri mengucap itu.
"Waduh ... Kok istrinya Mas gaul banget," ucap Teddy ikut terkekeh juga. Teddy pun menegakkan tubuhnya dan mulai menyalakan mesin motornya.
Arsy hanya memukul pelan punggung Teddy.
"Mas ... Sambil muter -muter ya? Arsy udah lama gak jalan -jalan naik motor," ucap Arsy pelan meminta pada Teddy.
__ADS_1
Arsy suka ingat dengan masa -masa saat ia masih bersama Bismo. Pulang dan pergi ke sekolah selalu brsama dan setiap hari di jemput ke rumah. Belum lagi, Bismo yang memang suka healing sering mengajak Arsy berputar -putar dan mencari makanan viral baru di pusat kota.
Teddy mengangguk pelan.
"Ini perginya sama Mas, bukan sama Bismo. Jadi jangan ingat -ingat mantan pacarmu yang ketua OSIS itu ya?" goda Teddy kepada Arsy.
Pukulan pelan di punggung Teddy pun terasa lagi. Arsy memukul punggung itu berkali -kali karena kesal. Hal itu malah membuat Teddy tertawa terbahak -bahak.
"Ngeselin ih. Ini anak kita yang mau," ucap Arsy pelan.
"Iya sayang. Pegangan yang erat ya. Kita jalan -jalan dan makan gelato," ucap Teddy setengah berteriak.
Motor besar itu pun melaju pelan dan mulai beraksi di jalanan aspal hitam yang mulus itu menuju pusat kota. Arsy berpegangan erat di perut Teddy sambil merasakan semilir angin sepoi -sepoi di siang hari yang membuatnya ngantuk.
Awalny Arsy begitu antusias. Bonceng dan duduk di jok motor gede kelas VIP itu sangat nyaman sekali. Benar -benar pengalaman yang sangat luar biasa. Lama -lama kepalanya di sandarkan ke punggung Teddy dan Arsy merasakan nikmat perjalanan dengan memejamkan kedua matanya.
"Jangan tidur," titah Teddy dengan suara keras agar Arsy mendengarnya. Suara angin yang kencang mengaburkan sebagian gelombang suara hingga tak terdengar jelas di bagian penumpnag.
"Gak akan," ucap Arsy tepat di telingan Teddy.
__ADS_1