Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SEMUA HILANG


__ADS_3

"Ini pesanan kamu, Sy. Makanlah," titah Teddy yang datang dengan nampan besar berisi penuh makanan pesanan Arsy tadi.


Nampan itu di letakkan di meja tepat di depan Arsy. Arsy yang masih fokus menatap ke arah luar pun tak merespon kedatangan Teddy.


Merasa ada yang aneh karena tak ada jawaban dari Arsy. Teddy menatap Arsy yang terus menatap ke luar jendelatanpa berkedip.


Tangan Teddy melambai tepat di depan eajah Arsy untuk menggagalkan tingkat kefokusannya dan mulai menikmati makanan yang sudah ada di depannya.


"Ah ... Bapak. Apaan sih, bikin kaget aja," ucap Arsy dengan ketus. Arsy langsung memalingkan wajahnya ke arah makanan yang sudah ada di depannya. Ia sengaja melakukan itu agar Teddy tidak tahu apa yang baru saja ia lihat.


"Maaf ya. Ayok di makan. Makanan di beli untuk di nikmati bukan di lihat. Kalau cuma mau lihat lebih baik tadi kamu berdiri saja di depan kasir tanpa harus membeli," goda Teddy yang sudah menyeruput minumannya dan mulai menikmati spagheti dan kentang goreng.


Arsy mencoba tersenyum. Namun senyum yang di paksakan itu malah membuat Teddy merasa neh dan curiga. Sebenarnya apa yang tadi sedang di lihat Arsy, atau mungkin Arsy sedang memikirkan kepergian Papah dan Bundanya.


Perlahan Arsy membuka bungkusan nasi dan mulai menikmati bersama dnegan ayam crispy yang di cocol dengan saos sambal. Kedua matanya masih sesekali menatap ke arah luar mencari sosok yang sejak tadi ia pandang tanpa berkedip. ernyata sosok itu sudah tak ada. Cepat sekali perginya dan entah kemana perginya.


"Kamu gak apa -apa kan? Dari tadi kayak kelihatan sedang memikirkan sesuatu?" tanya Teddy pelan tanpa menuduh.


Arsy menoleh ke arah Teddy. Kini tatapannya lekat memandang ke arah lelaki yang ada di depannya. Lelaki itu semakin tampan, tidak rugi di jodohkan dan di nikahkan dengan lelaki seperti Teddy. Tapi, kalau rasa suka itu tidak bisa di paksakan.


Sambil mengunyah makanan di dalam mulut Arsy pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Mikir apa? Gak ada." jawabnya pelan dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Teddy mengalihkan pandangannya. Ia menatap ke arah luar sama seperti yang di lakukan oleh Arsy tadi. Teddy memandang ke sekeliling bagian luar, ada hal apa hingga membuat Arsy tak berkedip menatap ke sana.


Arsy kembali fokus pada mkanannya da mulai menghabiskan satu per satu pesanannya itu hingga perutnya penuh dan tak lgi mampu berjan.


"Masih mau nambah?" tanya Teddy tertawa menggoda.

__ADS_1


Kedua bola mata Arsy pun memutar dnegan malas


"Masih bisa ngajak Arsy bercanda?" ucap Arsy ketus.


"Kenapa tidak? Kamu hebat, makanan sebanyak itu habis tak bersisa, kamu lapar beneran?" tanya Teddy penasaran.


Biasanya seorang wanita akan malu -malu kucing kalau makan bersama lelaki. Tapi, sejak awal Arsy tidak ada rasa canggung jika sudah berada di meja makan. Mungkin kalau meminta duluan atau menginginkan sesuatu, memang Arsy masih malu. tapi untuk urusan makan, Arsy sama sekali cuek. Inilah ynag membuat Teddy terkesan dengan gadis yang terlihat ap aadanya itu.


"Makan itu enak. Apalagi makan makanan yang kita suka. Mubazir donk kalau di abaikan?" jawab Arsy dengan gaya sok bijk.


"Mau pulang? Atau mau kemana?" tanya Teddy kemudian.


"Iya pulang saja. Arsy lelah." jawab Arsy dengan perut yang besr karena penuh dnegan makanan.


Keduanya pun kembali pulang ke rumah orang tua Arsy. Jarak tempuhnya tidak jauh, hanya memerlukan waktu setengah jam saja.


Sesampai di depan rumah Arsy. Arsy begitu terkejut melihat beberapa brang pribadinya sudah ada di luar. Mbok Yum duduk di teras sengaja menunggu Arsy dan Teddy dengan wajah sembab dan sedih seperti habis menangis.


"Non ... Rumah ini sudah aka di tempati oleh pemilik yang baru. Mbok Yum sendiri gak ngerti, Non. Ini semua baju -baju Non Arsy dan perlengkapan Non Arsy. Mungkin lebih baik Non ARsy ikut Den Teddy saja," ucap Mbok Ym menasehati.


"Apa? Papah tahu soal ini tidak? Tadi memang Papah bilang rumah ini mau di kontrakkan. Tapi tidak secepat ini juga, bahkan ini bukan di kontrakkan, Papah malah menjualnya. Kenapa sih, Pah gak jujur sama Arsy," ucap Arsy yang semakin kesal.


Teddy keluar dari mobilnya dan berjalan pelan menghampiri Arsy.


"Ada apa ini?" tanya Teddy dengan nada suara yang terlihat panik.


"Ini Den, Rumah ini sudah berpindah tangan. Tadi, pemilik rumah yang baru langsung mengemasi barang -barang Non Arsy untuk segera angkat kaki dari rumah ini," ucap Mbok Yum tergagap sedikit.


"Berpindah tangan? Maksudnya ganti pemilik? Papah tidak bilang apa -apa soal ini," ucap Teddy yang ikut bingung.

__ADS_1


"Lalu, Arsy harus kemana?" tanya Arsy yang semakin kesal. Hatinya benar -benar terasa kalut dan kacau luar biasa. Hidupnya terasa hancur dan tak beraturan. Masalah selalu datang menghampirinya, mulai dari Bismo, pernikahan mendadak dan sekarang rumah kesayangannya pun harus ia relakan kepergiannya untuk pemilik baru.


Teddy berusaha menenangkan Arsy. Tangan Teddy pun merangkul Arsy dan menepuk pelan bahu istrinya dan mengusap lembut pundak istri belianya itu.


"Pulang ke rumah Mama Tina saja sementara," ucap Teddy memberikan ketenangan untuk Arsy.


"Apa ke rumah Mama Tina?" ucap Arsy mengulang ucapan Teddy. Wajahnya langsung cemberut kesal. Selama ini Arsy belum pernah menginap di rumah orang lain. Paling juga, dulu menginap di rumah kakek dan nenek di kampung, bahkan menginap di tempat saudara pun Arsy gak pernah. Karena dulu Arsy pernah menginap di rumah sepupunya dan Arsy tidak bisa tidur sampai pagi. Pikirannya selalu negatif dan ada ketakutan tersendiri.


"Kenapa? Rumah Mama Tina, itu juga rumah saya, dan sekarang menjadi rumah kamu juga Sy. Kamu kan sudah menjadi bagian keluarg,a, kamu juga sudah menjadi anak Mama Tina juga," ucap Teddy menjelaskan.


"Non. Mbok Yum minta maaf kalau selama kerja di rumah Non Arsy ada salah. Mbok Yum harus segera pulang. Ini semua barang -barang pribadi Non Arsy, bisa Non Arsy bawa. Maafkan Mbok Yum tidak bisa menemani Non Arsy lagi," ucap Mbok Yum pelan sambil berpamitan. Mbok Yum pergi begitu saja meninggalkan Arsy dan Teddy yang masih berdiri menatap rumah milik kedua orang tuanya sudah tertutup rapat.


"Lho Mbok? Mbok Yum mau kemana?" tanya Arsy pelan.


"Mbok Yum mua pulang. Anak Mbok Yum kan sakit, Non. Mbok Yum pamit pulang," ucap Mbok Yum pelan dan melanjutkan keluar dari halaman rumah Arsy.


Teddy pun mengambil beberapa koper dan besar milik Arsy. Mulai hari ini, Arsy dan dirinya akan tingal bersama Papah Baron dan Mama Tina. Semua barang -barang itu akan di masukkan ke dalam mobilnya.


"Mau di bawa kemana Pak?" tanya Arsy ketus.


"Ke dalam mobil Sy." jawab Teddy dengan suara lembut dan emmsukkan semua barang itu ke bagasi mobilnya.


"Biar Arsy bawa mobil sendiri," ucap Arsy dengan ketus.


"Mobil? Mana mobilnya pun sudah tidak ada," ucap Teddy yang sejak tadi tidak melihat mobil milik Arsy lagi. Rumah itu benar -benar kosong tak berpenghuni.


"Lalu mobilku kemana?" tanya Arsy makin kesal.


"Kita baru pulang dan semua tidak ada Arsy. Besok, saya akan cari tahu soal ini," ucap Teddy mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Apa? Mencari tahu? Semua ini kayak sinetron. Udah kayak drama korea yang sedang viral. Ada apa sih sebenarnya?" tanya Arsy yang masih belum bisa menerima ini smeua.


__ADS_2