
Arsy masih terkulai lemas di tempat tidur. Sedangkan Teddy sudah membongkar semua koper dan memisahkan pakaian kotor serta pakaian yang masih bersih.
Beberapa oleh -oleh dari Bali pun mulai di rapikan di kamar. Arsy hanya melihat Teddy yang begitu luwes kesana kemari mengurus urusan rumah tangga.
"Sayang ... Kamu gak ngajar?" tanya Arsy pelan.
Teddy pun meletakkan beberapa cokelat batangan milik Arsy di meja rias. Kebetulan suhu kamar tidur itu cukup dingin dan gak akan mungkin membuat cokelat itu meleleh..
"Memangnya aku tega ninggalin kamau sendirian di rumah ini?" jawab Teddy pelan sambil menumpuk kembali cokelat yang baru di ambil lagi dari kardus besar. Arsy membeli cokelat begitu banyak dengan varian yang bermacam -macam. Tak tanggung -tanggung, Arsy menghabiskan belasan juta hanya untuk beberapa puluh batangan cokelat.
"Kan ngajar suatu bentuk kewajiban Mas. Itu pekerjaan Mas," ucap Arsy pelan.
"Percuma berangkat ngajar kalau yang membuat semangat malah sedang lemah," cicit Teddy lembut dan menumpuk beberapa koper kosong di atas lemari kayu.
Arsy mengulum senyum dari kedua telapak tangannya yang di letakkan di wajahnya. Sejak shubuh, Teddy selalu membuat Arsy melambung tinggi dan tersenyum sendiri dalam rasa malu.
"Memangnya selama ini Arsy membuat Mas semangat bekerja?" tanya Arsy makin penasaran.
Teddy hanya tertawa kecil dan mengambil satu dark cokelat sebagai penambah mood pagi ini. Tubuhnya berbalik dan berjalan ke arah Arsy. Ia duduk di pinggir ranjang itu. Tangannya mengulur mengacak pucuk kepala Arsy dengan gemas.
"Cuma kamu satu -satunya alasan Mas bertahan mengajar di sekolah itu. Kamu tahu, Mas juga punya profesi lain, ada kerjaan lain juga di kantor Papa kamu. Semua itu menyita waktu Mas. Tapi ... Kamu selalu penting, selalu menjadi prioritas Mas. Makanya Mas hanya bertahandi sekolah selama itu ada kamu. Kamu mau libur? Mas mau ke kantor Papa aja. Kamu di sini sendiri gak apa -apa? Sebentar saja, cuma mau cek berkas sama proposal dan tanda tangan. Mau Mas bawakan apa?" tanya Teddy pelan.
"Makasih ya Mas. Selalu ada buat Arsy," jawab Arsy singkat. Arsy tidak tahu lagi harus bicara apa. Tangannya pun mengusap pipi Teddy dengan lembut.
"Mas juga mau berterima kasih sam kamu, Sy. Sudah mau menerima pernikahan ini, walau secara jujur Mas tahu, kamu itu terpaksa melakukan ini semua," ucap Teddy pelan. Usapan tangannya kini pindah di perutnya.
Ary tersenyum manis, walaupun bibirnya masih sedikit sering dan berwarna putih, wajahnya juga pucat.
"Sudah takdir. Makin kesini, mungkin Arsy makin paham dengan arti cinta yang sesungguhnya, arti sayang yang tulus. Maaf kalau masih buat Mas Teddy cemburu," ucap Arsy pelan.
Teddy menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Kamu sengaja membuat saya cemburu?" tanya Teddy lirih.
"Gak Mas. Cuma kadang ...."
"Kadang kenapa?" tanya Teddy penasaran.
"Mas yang bikin Arsy kesel. Mas yang sengaja deket sama Bu Lina biar Arsy marah," ucap Arsy pelan.
"Kok gitu ngomongnya? Mas gak gitu. Kamu yang masih nempel terus sama Bismo. Itu selalu buat Mas panas pengen nonjok itu ketua OSIS yang udah mau lengser," ucap Teddy kesal. Tangannya ikut mengepal dan memukulkan ke telapak tangan di sebelahnya dengan sangat keras.
"Arsy sama Bismo sekarang hanya berteman. Bersahabat. Bismo tahu Arsy sudah nikah, bahkan dia juga tahu, Arsy sedang hamil," jawab Arsy.
"Bismo tahu kamu hamil. Lalu? Dia bilang apa? Mas keren kan? Tok cer,' tawa Teddy dengan keras.
Arsy memutar kedua bola matanya malas.
"Apa tuh tok cer? Arsy tahunya juga tokek," jawab Arsy asal.
"Oh gitu. Bukannya kalau memang perawan itu lebih mudah untuk hamil?" tanya Arsy beusahamembela diri. Dirinya hamil bukan karena satu pihak saja dong, tapi juga karean Arsy yang belum pernah tersentuh oleh siapapun.
"Ya gak harus. Ada yang masih perawan juga harus berkali -kali melakukan baru hamil," jawab Teddy pelan menjelaskan.
"Wulan juga langsung hamil, padahal hasil perkosaan," ucap Arsy pelan.
Teddy menghela napas panjang. Pertanyaan ini di luar kapasitasnya. Sebenarnya kembali lagi pada Sang Pencipta, karena sejatinya manusia itu hanya berusaha.
"Ya kalau itu kan unsur ketidak sengajaan. Saat itu kondisi Wulan sedang subur jadi mudah untuk di buahi," jawab Teddy pelan.
"Ohh ... Jadi bayi itu juga bisa tumbuh tanpa ada rasa cinta?" tanya Arsy pelan.
Teddy mengangguk kecil. Memang faktanya begitu. Ada rasa cinta atau tidak, janin bisa tumbuh di rahim seorang wanita.
__ADS_1
"Mas cinta sama kamu, Sy. Makanya Mas nikahi kamu, bukan ingin merusak kamu, atau malah membuat kamu merasa tidak nyaman dengan hubungan ini. Kita sudah suami istri, bukan? Kalau ada sesuatu terbukalah? Ceritalah?" ucap Teddy pelan.
"Kapan Arsy bilang gak percaya sama Mas?" tanay Arsy pelan.
"Tapi cara kamu dekat dengan Mas belum tulus dan ikhlas. Padahal, di perutmu sudah ada anak kita. Seharusnya kamu yakin, kalau Mas akan menjaga kamu dengan baik, sampai kamu melahirkan nanti," ucap Teddy mencoba meyakinkan.
"Arsy mau cokelat. Buka dong," ucap Arsy mengalihkan pembicaraan. Arsy hanya tidak ingin memperpanjang masalah ini.
"Mau cokelat? Habis ini Mas buatkan sarapan terus mandi ya? Mas mau ke kantor sebentar terus kita ke dokter untuk periksa kamu. Dokter Effendi gak bisa datang, dia ada op di rumah sakit, terus praktek di Poli," ucap Teddy pelan.
"Iya Mas," ucap Arsy pelan.
Teddy membukakan satu batang darak cokelat dan menyuapi Arsy.
"Ekhemmm ... Cokelat ini enak banget. Mas? Ada pantangan makan untuk orang hamil?" tanya Arsy pelan.
"Masih banyak tuh berapa tumpuk. Itu cokelat mau kamu makan semua?" tanya Teddy pelan.
Arsy mengangguk singkat.
"Ibu hamil sebenarnya gak ada pantangan makanan. Cuma tidk boleh berlebihan. Semua boleh di makan, kecuali yang terlalu keras untuk perut. Obat keras, obat yang tak di anjurkan, atau makanan yanag menyebabkan keguguran. Itu ada, jadi lebih berhati -hati. Bagimana setelh periksa ke rumah sakit, kita belanja. Kayaknya kita butuh refreshing berdua dan belanja bulanan untuk mengisi kulkas yang kosong?" tanya Teddy pelan. Teddy hanya ingin membuat Arsy bhaagia dan emlupakan sedikit kecemasannya tentang kehamilan.
"Boleh. Arsy mau makan steak. Boleh?" tanya Arsy pelan.
"Boleh banget sayang. Asal di habiskan ya," ucap Teddy pelan.
"Ya siap. Mas, laptopnya tinggal ya. Arsy mau video call sama Bunda dan Papa sekarang? Boleh?" tanya Arsy pelan.
"Mau sekarang? Atau nanti?" tany Teddy menawarkan.
"Sekarang saja. Arsy kangen sama Papah dan Bunda." cicit Arsy sendu.
__ADS_1
"Oke. Mas siapkan. Di kasur saja ya, nanti Mas bnatu untuk duduk," ucap Teddy pelan.