Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
JANGAN KONYOL LAGI


__ADS_3

"Gue hanya mengingatkan. Jangan sampai loe nyesel dengan apa yang sudah loe pilih. Paham kan maksud gue?" ucap Wulan pelan.


Arsy mengangguk kecil. Ia paham dengan ucapan Wulan


"Masih ada kesempatan gak ya? Arsy nyesel, ninggalin Pak Teddy saat itu. Arsy sempet taya Bunda, dan Bunda cuma bilang, saat itu Pak teddy pergi lagi tanpa di ketahui keberadaannya," ucap ARsy pelan.


"Serius?" tanya Wulan melotot.


Arsy hanya bisa mengangguk pasrah.


"Makanya, Arsy itu ngerasa berslah banget sama Mama Tina dan Papa Baron. Secara tidak langsung, Arsy sudah menghilangkan Pak Teddy," ucap Arsy pelan.


"Loe gak pernah tanya, sama mertua loe? Hubungan loe sekarang gimana? Secara Pak Teddy sudah dianggap tidak ada karena memang tak pernah kembali dan t di ketahui keberadaannya," ucap Wulan penasaran.


"Arsy gak sanggup bertanya hal itu. Arsy takut, Mama Tina teringat Pak teddy dan menangis. Belum lagi, mungkin masalah ini jika di pikirkan bisa membuat Mama Tina stres dan akhirnya sakit," ucap Arsy menjelaskan.


Banyak hal yang harus di atasi sendiri oleh Arsy. Arsy sendiri tidak mau menyinggung atau membuat Mama Tina, mertuanya itu semakin sedih. Arsy lebih mengalah dan memang Arsy menunggu hingga kelulusan ini tiba. Arsy sudah punya pilihan sendiri, ternyata memang beasiswa dari sekolah pun ia dapatkan.

__ADS_1


"Woyyy ... Sy ... Tuh di cariin ibu kantin. Dia tanya, loe beneran mau bayarin apa gak?" tanya teman laki -laki yang kembali ke kelas hanya untuk memberitahu Arsy.


Arsy langsung merogoh kantong rok nya dan emeberikan uang tiga lembar berwarna merah.


"Ii kasih uang muka dulu, nanti kau kurang, Arsy turun ke bawah," ucap Arsy pelan.


"Oke. Makasih ya, Sy," ucap teman lelakinya itu penuh semangat.


Wulan melipat tangannya di depan dada dn tubuhnya di sandrakan di meja guru lalu menatap ke seluruh ruangan kelas yang kosong. Ia membayangkan jika ia menjadi seorang guru. Ternyata tidak mudah, di butuhkan kesabaran yang ekstra dan ketulusan dalam menjalani profesinya.


Arsy pun berjalan dan berdiri tepat di samping Wulan. Ia juga melakukan hal yang sama. Arsy selalu mengingat tatapan Teddy saat mengajar dan melirik ke arah Arsy yang kadang sibuk sendiri menggambar atau bicara dengan Wulan.


Teddy gak pernah marah, hanya saja ia kan berjalan tepat di samping meja belajar Arsy dan duduk di tepi meja itu. Semua temannya tidak akan curiga akan hal itu, karena memang Arsy duduk di meja paling depan bersama Wulan


Lalu, menjelaskan materi di sana. Mau tidak mau Arsy dan Wulan akan kembali duduk dengan rapi.


Kedua mata Arsy tpejam, kilas senyum manis Teddy ada dalam bayangannya kembali. Tiba -tiba ia rindu sosok itu. Ia rindu sosok lelaki yang telah menikahinya itu.

__ADS_1


"Loe kenapa? Senyum -senyum gak jelas," ucap Wulan terkekeh.


Kedua mata Arsy langsung membuka dan membola menatap Wulan.


"Arsy kangen tahu sama Pak Teddy," ucap Arsy pelan.


Wulan pun memeluk Arsy dri samping.


"Loe ngerasa kan? Gimana rasanya kita di tinggalkan. Gak enak, Sy," ucap Wulan menjelaskan.


"Iya, gak enak," ucap Arsy membalas pelukan Wulan.


"Gue ingetin sekali lagi. Kesempatan gak datang dua kali. Loe masih bisa perbaiki, jika suatu hari loe emang ketemu Pak Teddy di London," ucap Wulan menasehati.


"Ya. Arsy gak mau bertindak bodoh lagi. Ini keputusan konyol yang malah membuat Arsy terpuruk dalam sepi dan sendiri," ucap Arsy lirih.


Kedua sahabat itu saling tersenyum dan saling memberikan kekuatan satu sama lain agar tetap survive.

__ADS_1


__ADS_2