
Bismo turundari mobil Teddy da berjalan menuju markas besar itu. Dari kejauhan beberapa anggota gensk telah siap menyambut kedatangan Bismo dan berjaga kalau saja Bismo tak datang sendiri dan membawa teman -temannya.
Salah satu anggota genk motor itu masuk ke dalam, sepertinya akan memanggil Reno.
"Bos, ada bocah tengil yang dulu balapan dnegan kita," ucap saha satu anak buahnya.
Baru saja Reno akn mengeksekusi gadis yang ia ketahui sebagai kekasih Bismo. Ia tersenyum licik kepada Arsy yang baru ia pindahkan dari kamar tawanan ke kamar pribadinya. Tetap, yang mencicipi keperawanan itu adalah Reno, baru bissa di cicipi oleh anggota lain sperti Wulan dulu yang di gilir hingga bebrapa orang laki -laki di markas itu. Untung saja, Wulan bisa melarikan diri, kalau tidak mungkin ia masih di sana dan di ajdikan pemuas nafsu mereka saat mereka butuh pelepasan.
"Bismo maksud kamu?'" tanya Reno memastikan.
"Iya Bos," jawab anak buahnya itu.
"Biarkan dia masuk, dan biarkan dia melihat bagaiamana aku memperlakukan kekasihnya ini dengan sangat baik," ucap Reno licik.
"Sialan kamu. Aku bukan pacar Bismo," teriak Arsy dnegan kedua tangan terikat di atas kasur yang empuk. Kedua kakinya pun di ikat hingga tubhnya terlentang. Reno sengaja mengikatnya, biar dia bisa dengan mudah mengksekusi tubuh gadis yang sekarang ada di depannya tanpa ada perlawanan.
"Banyak bacot kamu," teriak Reno menutup kembali mulut Arsy dengan lakban.
Arsy menangis getir. Ia kesal pada dirinya sendiri. Ternyata menikah dengan Teddy dan melayani suaminya itu lebih baik, di bandingkan harus melepas keperawanannya untuk orang lain seperti ini.
"Suruh Bismo masuk. Ikat dia dan tutup mulutnya. Aku sudah tidak sabar untuk mengeksekusi gadis ini," ucap Reno mulai bergairah dan beringas.
Bismo berjalan dengan santai. Wajhany terlihat tenang padahal degup jantungnya tak karuan sejka tadi berdetak cepat karena gugup. Napasnya pun memburu, namun ia tetap berusaha tenang dan terlihat santai seolah tidak terjadi apa -apa.
Anak buah tadi keluar dan menyuruh dua temannya untuk menangkap Bismo dan mengikat lalu menutup mulutnya dan di antar ke kamar Reno.
Dengan cepat dua temannya itu turun ke bawah dan menghampiri Bismo lalu menangkap lelaki itu sesuai perintah.
Tepat saat semua terlihat lengah dan hanya fokus kepada kepada Bismo. Polisi pun mulai memberika aba -aba. Begitu juga Teddy yang sudah cemas akan keadaan Arsy.
Ia pun ikut turun dan menyelinap di antara semak -semak mencari kamar yang tadi sudah di beritahukan oleh Wulan. Setidaknya di dalam otaknya sudah tergambar jelas tata letak bentuk rumah tersebut.
Suara tembakan peringatan telah di tembakan saat Bismo datang dengan tangan kosong. Semua anggota genk motor itu begitu kaget dan bersiap. Beberapa anggota yang terlelap pun langsung terbangun dan terjaga.
Bismo langsung di bawa masuk ke dalam dan di antar ke dalam kamar kedap suara itu. Jelas terlihat, Reno sedang berusaha merayu Arsy dan membuka pelan kancing baju seragm putih abu itu. Kedua mata Bismo melotot. Begitu pun Arsy yang menatap benci kepada Bismo karena dia jadi begini.
"Bos ... Ada sara tembakan." ucap anak buahnya itu.
"Uruslah, paling juga teman bocah tengil ini," jawab Reno meremehkan.
Reno tak pernah berpikir kalau mereka akan melapor ke polisi. Bocah ingusan anak SMA itu tidak akan berani mengambil resiko untuk berurusan dengan polisi. JAdi Reno tidak peduli dan tidak pernah khawatir.
Tembakan peringatan kedua di tembakan ke atas langit, dan ketiga juga langsung di tembakkan tanda penyerngan segera di lakukan.
__ADS_1
"Kamu tidak bilang pada BOs Reno kita akna di serang?" tanya salah satu anak buah yang lain.
"Sudah. tapi dia tak peduli. Speertinya dia sudah tak tahan lagi mau mengeksekusi gadis tadi di depan pacarnya," ucap anak buah yang baru saja mengantar Bismo ke kamar itu.
Semua anggota genk motor nampak panik dan berjaga. Mereka kocar -kacir setelah meliha kawanan polis dari berbagai rah menyergap dan mulai menangkap satu per satu yang ada di markas itu. Polisi juga tidak segan -segan menembak kaki anggota genk motor yang terihat akan kabur dari markas.
"Berhenti semua!! Lempar senjata kalian dan angkat tangan kalian. Kalau ada yang berani bergerak, saya tidak segan -segan menembak kalian!!" teriak komandan polisi itu dan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk memborgol tangan dan kaki semua orang yang ada di markas itu.
Semuanya tak ada perlawanan karena mereka sudah lelah dan kebanyakan dari mereka sedang mabuk.
Teddy lagsung masuk ke dalam markas dengan di temani salah satu temannya yang intel lalu membuka tiga kamar itu dengan paksa. Satu kamar di jadikan sebagai gudang minum -minuman keras, dan obat -obatan terlarang. Satu kamar lagi tempat untuk menawan beberapa wanita, ternyata ada sekitar lima perempuan di sana. Dan kamar terakhir di tendang tanpa ampun oleh polisi.
Terlihat Reno baru mulai akan beraksi. Kancing baju Arsy sudah terbuka semua. Hanay pakaian dalamnya belum sepat di buka dan sudah tertangkap basah. Reno yang kaget dan gugup tak bisa berkutik lagi , saat beberapa polisi menghampirinya untuk menangkapnya. Tidak ada perlawanan tapi tatapannya begitu tajam dan menaruh dendam pada Bismo.
Teddy langsung menutup dan mengancing baju seragam Arsy dan membuka semua ikatan di tangan dan kakinya. Setelah itu ia memeluk Teddy dengan sangat erat. Ia menangis sejadi -jadinya dalam pelukan Teddy karena takut. Teddy dengan tulus membals pelukan itu dan mengusap lembut punggung Arsy.
"Ma -maafkan Arsy, Pak," ucap Arsy yang merasa telah jahat kepada Teddy.
"Maaf untuk apa Arsy?" tanya Teddy lembut.
"Untuk pernikahan ini. Arsy belum bisa menerima semuanya dengan baik, tapi hari ini Arsy benar -benar menyesal karena telah melupakan kewajiban Arsy sebagai istri. Mungkin ini karma untuk Arsy karena sudah tidak patuh dengan Pak Teddy, dan memutuskan untuk ego Arsy sendiri," ucap Arsy pelan.
"Kamu tidak salah Sy. Mungkin kita memang jarang berkomunikasi jadi salah paham. Atau kamu memang masih mencintai cinta di masa lalu kamu. Saya paham untuk hal ini," ucap Teddy dengan bijak.
"Cinta di masa lalu?" tanya Arsy tak mengerti.
Teddy pun menoleh ke arah Bismo yang ada di seberangnya. Dengan dagu lancipnya ia menunjuk ke arah Bismo. Arsy menatp Bismo dengan penuh kebnecian. Arsy menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Gak Pak. Arsy benci. Arsy benci dengan dia," ucap Arsy lirih.
"Kamu masih suka kan? Dengan Bismo, makanya kamu susah menerima saya dalam kehidupan kamu apalagi menembus hati kamu," ucap Teddy pelan.
"Gak Pak. Mungkin kemarin -kemarin ya. Hari ini semuanya berubah, Arsy benci sama Bismo. Arsy benci sama Wulan," ucap Arsy menangis dengan keras.
Teddy kembali memeluk tubuh mungil istrinya dan mengecup kening Arsy berkali -kali. Bismo sendiri sampai takjub akan cinta Teddy, gurunya itu kepada Arsy.
"Kamu mau dengar saya?" tanya Teddy kemudian setengah berbisik di telinga Arsy.
"Apa?" tanya Arsy sambil menganggukkan kepalanya pelan dengan kepala mendongak ke arah Teddy.
Suasana di markas itu begitu ramai. Gaduh karena pnangkapan hampir sebagian besar anggota genk motor itu. Smeua bukti penyimpanan minuman keras dan oba terlarang bisa di jadikan opsi lain untuk membertakan hukuman mereka Bukan hanya aktivitas mereka saja yang mersahkan masyarakat dan di duga selalu menjadi pemicu keributan. Selain itu, kasus Wulan akan di blow up juga sebagai tindakan kriminal anggota genk motor tersebut.
Markas itu mulai sepi dan mulai di tinggalkan polisi. Teman Teddy pun menghampiri Teddy untuk berterima kasih atas kerja samanya akhirnya bisa menangkap genk motor yang suda menjadi target operasi sejak lama.
__ADS_1
"Ted ... Makasih ya? Tanpa laporan dari kamu, ini tidak akan pernah terjai. Ini istrimu?" tanya Tono pelan.
"Iya sama -sama. Niatku untuk menyelamatkan nyawa istriku. Tapi semua kan di serahkan pada polisi kalau memang merasa sangat terbantu. Jangan lupa, ini kasus berlanjut dan kasus besar dan mempunyai mata rantai. Tentu mereka masih berkomunikasi dengan anggota lainnya yang masih berkeliaran di luaran sana," ucap Teddy pelan.
"Iya. Untuk saksi dan bukti. Nanti kamu, aku hubungi lagi ya untuk hal ini," ucap Teddy pelan.
"Siap Tono. Saya akan membantu kamu. Iya ini Arsy, istriku," ucap Teddy memperkenalkan Arsy kepada temannya.
"Pantas saja panik, cantik begini," ucap Tono pelan.
"Terima kasih." jawab Teddy singkat.
"Saya lanjut kerja dulu. Sekali lagi terima ksih," ucap Tono dengan sikap hormat kepada Teddy.
Malam ini bukan hanya malam kebebasan. Tapi malam yang penuh pembelajaran dan pengalaman. Teddy merangkul Arsy dan berjalan menuju mobil. Bismo berjalan di belakang Arsy. Ia mulai bisa menerima dnegan ikhlas, kekasihnya telah menikah dengan orang yang tepat. Mungkin ini smeua sudah takdirnya, dan ia memang harus fokus pada Wulan dan bertanggung jawab atas kehamilan Wulan.
"Pak?" panggil Arsy lirih.
"Ya?" jawab Teddy lembut. Mereka berjalan pelan menuju mobil yang terparkir juah di dekat pohon rindang bersama mobil polisi lainnya.
"Tadi katanya mau bilang sesuatu. Arskna mau dengar. Apa itu?" tanya Arsy mengingatkan.
"Oh itu ... Kamu masih pengen tahu," tanya Teddy pelan sengaja membuat RAsy penasaran.
"Iya. mau tahu banget dong," cicit Arsy sedikit manja.
"Saya lapar," ucap Teddy lirih berbisik.
Arsy mendongakkan kepalanya menatap Teddy. Maklmkan ARsy itu kecil dan jauh sekali tingginya dnegan pak Teddy yang berbadan tegap, kekar dan tinggi.
"Lapar? Beli makan dong," ucap Arsy pelan.
"Ekhemm bukan itu. Ini laparnya beda," ucap Teddy kemudian berbisik malu.
"Lapar ya lapar? beda gimana?" yanya Arsy makin di buat bingung.
"kamu ini memang gak ngerti atau sok polos," ucap Teddy pura -pura kesal.
"Lho? Salah Arsy dimana Pak? Kalau Bapak lapar ya makan. Arsy temani, Arsy juga lapar," ucap Arsy pelan.
"Saya lapar setelah lihat kamu setengah telanjang tadi. saya mau makan kamu malam ini. Lagi pula, kita kan sudah SAH suami istri, masa kamu gak paham juga?" tanya Teddy denganlembut tepat di telinga Arsy hingga membuat Arsy mengejang hebat. Kedua matanya melotot.
"Mesum ih," ucap Arsy tiba -tiba dengan suara keras.
__ADS_1
Teddy lansung menutup mulut Arsy dengan tangannya. Lalu tersenyum manis ke arah Arsy.