
"Kamu tidak apa -apa, Arsy?" suara Pak tunggul terdengar keras memanggil nama Arsy yang kepalnya makin berputar.
Melihat Arsy yang memucat. Pak Tunggul pun mengangkat tubuh Arsy dan di bawa ke ruang UKS.
Baju Arsy yang basa pun telah di gantikan oleh guru yang bertusa menjaga UKS.
Semua diam dan tak ada yang bicara atau berkomentar hingga kepala sekolah masuk ke ruang UKS.
Arsy yang sedang meminum teh hangat pun terkejut dengan kedatangan kepala sekola. Arsy sudah siap dengan segala resikonya. Ia hanya bisa menarik napas dalam dan meletakkan gelas berisi teh hangat itu di nakas.
Wulan berdiri di sisi ranjang Arsy dan menatap kepala sekolah.
"Kamu hamil?" tanya kepala sekolah tegas menatap Arsy dengan tatapan tajam seperti elang yang ingin menerkam mngsanya
Arsy diam tak menjawab dan menundukkan kepalanya.
"Kamu hamil, Arsy?!! Jawab!!" teriak kepala sekolah dengan suara keras dan lantang.
Beberapa teman yang mengetahui kabar ini langsung menyerbu ke ruang UKS untuk mendengarkan.
__ADS_1
"Jawab Sy!! Kamu masih mau mengelak dengan perut buncit kamu itu?" teriak Kepala sekolah dengan suara kerasnya.
Arsy masih diam dan menatap ke bawah ke arah perutnya yang memang sudah terlihat membesar. Apalagi denagn pakaian yang sekarang ia pakai. Tidak bisa mengelak lagi. Arsy hanya meremat sprei yang menutupi kasur ruang UKS itu.
Suara ricuh di depan, beberapa siswa dan siswi yang berusaha mengintip dari sela -sela jendela pun mulai terdengar jelas.
Mereka berdesak -desakkan di luar ruang UKS hingga membuat kepala sekolah pun geram. Kepala sekolah berdiri dan berjalan ke arah luar ruang UKS memarahi semua siswa dan siswi yang ada di sana dan menyuruh mereka semua bubar pergi dari area UKS.
"Arsy harus gimana, Lan?" tanya Arsy yang mulai ketakutan.
Belum sempat menjawab. Kepala sekolah sudah datang kembali dan berjalan ke arah Arsy dan menanyakan kembali pertanyaan yang tadi.
"Iya Pak. Arsy hamil," jawab Arsy lantang dan tegas. Untuk apa menutupi lagi, toh memang terlihat. Untuk apa di sembunyikan lagi, toh juga suatu hari semua akan tahu. Lagi pula hari ini kan hari terakhir sekolah. Nilai ujian juga sudah keluar. Mana mungkin kepala sekolah akan mengeluarkan Arsy begitu saja.
"Panggil wali kamu sekarang juga, saya ingin bertemu," ucap kepala sekolah itu dengan tegas dan pergi meninggalkan Arsy dan Wulan.
Wulan langsung menghampiri Arsy dan ikut duduk di ranjang itu. Lalu memeluk Arsy dengan erat.
"ARsy gak salah kan? Lebih baik jujur, dari pada harus di bicarakan di belakang," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
"Iya. Loe mau manggil siapa? Mama Tina?" tanya Wulan pelan.
Arsy menegakkan duduknya dan mengangguk pelan.
"Iya. Siapa lagi? Arsy telepon dulu ya," ucap Arsy pelan.
Arsy mengeluarkan ponselnya dan menelepon Mama Tina. Arsy menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya hingga Arsy harus memanggil walinya untuk di tanyai.
"Kamu tenang ya, Nak. Mama akan datang sekarang," ucap Mama Tina mencoba membuat Arsy tenang.
"Iya Ma. di tunggu ya," ucap Arsy pelan.
Lega rasanya dada Arsy. Ia tahu semuanya akan baik -baik saja. Hanya proses di awal tentu akan sangat tidak mengenakkan.
"Mama mau datang. Nanti tolong anterin Mama ke ruang kepala sekolah ya, Lan," ucap Arsy pelan.
"Iya, Sy," jawab Wulan pelan.
Arsy merebahkan tubuhnya lagi. Agak sedikit terasa dingin dan menggigil.
__ADS_1