Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.22


__ADS_3

Beberapa hari terelwati dengan sangat baik. Arsy yang mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan di kompleks rumahnya dan lingkungan kampus yang sangat berbeda jauh dengan situasi saat ia masih menggunakan seragam putih abu.


"Kenapa murung aja sih? Beberapa hari ini, Mas lihat kamu kayak tidak bersemangat. Kenapa? Inget lusa kamu harus kontrol kandungan kamu untuk yang terakhir sambil menunggu kontraksi untuk lahiran," titah Teddy yang tidak ingin Arsy merasa stres denagn keadaan barunya.


Arsy menatap Teddy dan mengulum senyum.


"Cuma lelah Mas. Kan harus naik turun tangga, belum ke ruang lab. komputer di lantai dasar," cicit Arsy merasa semuanya sangat melelahkan. Ini baru seminggu ia kuliah, bagaiman jika ia harus mengabdi tahunan di sini, tentu akan sangat menjenuhkan sekali.


Teddy menggenggam tangan Arsy erat sekali dan sesekali memijit telapaktangan Arsy yang terasa sedikit hangat.


"Mau mampir supermarket? Mau jajanan?" tanya Teddy kemudian.


"Mau. Cokelat ya sama es krim," pinta Arsy manja.


Teddy nampak mengehla napas panjang sekali. Teddy seidkit keberatan bila Arsy meminta cokelat dan es krim. Dokter kandungannya menyarankan di usia kandungan yang sudah besar ini agar Arsy bisa menjaga pola makannya untuk lebih banyak makan sayur, buah dan protein.


"Boleh kan, Mas?" tanya ARsy dengan kedua mata memelas.

__ADS_1


"Jangan banyak -banayk ya, sayang. Perutmu sudah sanagt besar nanti meletus," goda Teddy mencoba bercanda.


"Iya masing -masing lima buah," pinta ARsy dengan kedua mata berbinar.


"Masing -masing satu sayang. Mau beli atau gak? Kalau gak nurut mending gak usah," ucap Teddy tegas.


"Mau Mas. Iya masing -masing satu tapi simpan untuk tujuh hari," pinta Arsy tak mau kalah.


"Sayang ... Kata dokter gak boleh banyak -banyak lho," ucap Teddy kembali mengingatkan.


"Emhhh ... Tersiksa kalau begini. Cukup sekali lah hamilnya," umpat Arsy kesal.


"Habisnya mau makan aja pake di jatah," celetuk Arsy denagn nada kecewa.


"Oke masing -masing satu untuk tujuh hari," jawab Teddy menyerah dan pasrah saja.


"Serius Mas? Boleh kan? Terima kasih, cuwamik kesayangan," ucap Arsy dengan suara yang di buat -buat dan ingin mencium pipi Teddy, namun RAsy kesulitan untuk bergerak karena perutnay semakin besar.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanay Teddy yang merasa ARsy bergerak -gerak.


"Mau cium Mas. Ucapan Terima kasih," ucap Arsy denagn senang karena permintaannya di kabulkan.


"Udah nanti aja ciumnya kalau lagi berdua di kamar. Kasihan itu perut di ajak kesana kemari," ucap Teddy mengulum senyum.


Arsy mengangguk pasrah dan menunggu sampai di supermarket. Banyak seklai yang ingin di belinya, roti, kue, buah, cemilan, susu dan smeua yang memang ingin di makan Arsy.


Sesampai di supermarket, Arsy pun keluar dari mobil Teddy penuh semangat. Arsy lupa kalau sudah punya suami dan lupa kalau ia sedang mengandung di bulan terakhir. Teddy tertinggal di belakang.


"Arsy, pelan -pelan. Itu ada perutnya, jangan lari -lari," teriak Teddy yang merasa Arsy masih kekanak -kanakkan dan ceroboh.


"Tenang aja Mas. Aman kok," ucap Arsy tertawa sambil menggandeng tangan suaminya denagn erat.


"Iya aman. Tapi anmanay musibah kita kan gak tahu. Tiba -tiba ada sesuatu di depan, akmu terpeleset, malah jadi runyam kan?" ucap Tedy kemudian.


"Kok doanya jadi jelek sih? Afirmasi doanya yang baik -baik dong, biar smeuanya tetap baik -baik," cicit Arsy kemudian.

__ADS_1


"Mas itu begini saking khawatir sama kamu, sayang. Jangan di ulangi kayak tadi ya. Lari -larian, dan tak melihat jalanan di depan. Inget banyak musibah di depan. Meneyesal itu di belakang bukan di awal," tegas Teddy mengingatkan Arsy.


__ADS_2