Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TIDA ADA PERDEBATAN


__ADS_3

Siang itu acara latihan perdana pun selesai. Arsy langsung mengambil tasnya dan langsung berlari menuju lorong khusus untuk para guru. Ia tahu pasti Teddy sudah menunggunya. Ia lupa mengaktifkan ponselnya, tentu suaminya itu akan berceramah tujuh hari tujuh malam setelah ini.


Langkah kakinya begitu cepat menuju keluar gerbang sekolah menuju arah parkiran guru. Beberapa kali Tono memanggil nama Arsy dan mengejarnya. Tapi, entah masih ada di belakang Arsy atau tidak dan Arsy tak peduli.


Arsy langsung masuk ke dalam mobil Teddy dan duduk di kursi biasanya. Joknya pun di turunkana agar wajahnya yan g bisa terlihat dari depan hanya terlihat remang -remang tak jelas.


Benar saja, Tono langsung ikut keluar dari lorong itu dan sama sekali tak menemukan Arsy. Kedua matanya mengedar dnegan jelas. Hanya ada tiga mobil yang tersisa parkir di sana dan salah satunya milik Teddy. Berhubung kaca filmnya sedikit gelap dan tak tebus pandang dari arah depan. Maka Tono tak bisa melihat ke adalam mobil Teddy.


"Punya fans baru? Mesra ya? Cocok sama naskah yang di buat kali ini," ucap Teddy pelan.


Ucapan Teddy membuat Arsy emosi. Memang pelan tapi menusuk hati dan jantung bagai terkoyak -koyak oleh lidi.


"Bisa gak sih, gak usah ikut campur urusan muridnya?" tanya Arsy ketus.


Teddy menatap Arsy tajam dan melotot. Ia tak suka dengan jawaban ARsy yang begitu tak enak di dengra.


"Bicaramu itu? Gak pake rem ya? Katanya anak sekolahan, pintar, penerima beasiswa, tapi kelakuan malah begini? Mas itu tanya baik -baik? Mas itu telepon kamu berkali -kali. Tapi ponsel malah di matikan. Kamu tahu, gimana rasa khawatirnya Mas? Sampai Wulan bilang semuanya aman. Dia cari kamu kemana -mana, dan ternyata kamu berduaa dengan teman sekelasmu yang lawan jenis itu di gudang? Ngapain aja? Mas gak boleh cemburu?" tanya Teddy mulai marah.


Arsy langsung diam seribu bahasa. Tebakan Teddy tepat dan benar sekali. Entah ia tahu dari mana. Seingat Arsy pun tadi kelur dari gudang itu tak ada satu pun orang di sana.


"Kenapa? Benar semua kan? Semua yang Mas ucapkan itu fakta?" tanya Teddy pelan.


Ia lalu menyalakan mesin mobilnya dn pergi dari lapangan parkir itu menuju jalan raya arah pulang ke apartemennya.


Arsy meremat rok abunya dengan kencang. Ia bingung haus menjawab apa. Tadinya, Arsy yang mau merajuk dan marah -marah, karena Teddy yang kurng peduli pada dirinya. Tapi kenyataannya malah ia yang kena skak mat.


"Terus? Arsy gak boleh punya teman? Teman lawan jenis, gak boleh juga?" tanya Arsy menatap ke arah depan.


"Mas gak bilang gak boleh ini dan itu. Mas bebaskan kamu, Sy. Kamu mau kemana saja, Mas izinkan dan tidak pernah Mas membatasi kamu. Tapi ingat, kamu harus bisa batasi diri kamu sendiri agar gak kebablasan," titah Teddy pelan, namun tetap terdengar tegas.


"Arsy cuma mau main drama. Itu keinginan Arsy sejak kelas satu. Bisa tampil di acara pentas perpisahan dan sebagai pemeran utama. Sederhana kan?" ucap Arsy membela diri.


"Ya, sederhana. Lanjutkanlah kalau kamu memang suka. Inget banyak makan buat anak kita," ucap Teddy menasehati.


"Iya gak akan lupa kalau itu," jawab Arsy pelan.


"Kalau mau makan rujak, jangan lupa sarapan," titah Teddy kemudian.


"Iya Mas," jawab Arsy pelan.


"Gak usah terlalu care sama Tono. Biasa saja," ucap Teddy menasehati.

__ADS_1


"Iya gak. Tadi juga biasa aja," kawab Arsy pelan.


Keduanya saling diam lagi. Arsy membuka tasnya dan mengambil ponsel lalu di aktifkan lagi.


"Hemm ... sengaja di matikan? Biar Mas gak bisa hubungi?" tanya Teddy pelan.


"Gak lah. Tadi tuh ...." ucapan Arsy terhenti dan diam saat Teddy menyela ucapannya.


"Di gudang berduaan? Biar gak keganggu?" tanya Teddy tegas.


"Bukan gitu Mas. Gak begitu ceritanya. Arsy bisa jelasin semuanya," ucap Arsy pelan.


"Mas lagi gak mau dengar apa -apa. Minggu depan Mas mau ke luar kota. Ada urusan penting di sana. Kamu tinggal di tempat Mama sementara. Mas gak mau kamu twrlalu lelah dan biar ada yang mengurus kamu," ucap Teddy pelan.


"Mas Teddy mau kemana?" tanya Arsy pelan menatap ke aeah Teddy.


"Urusan pembangunan rumah sakit. Udah tinggal peresmian malah ada kendala sedikit. Terus masalah kantor Papah, sudah ketahuan siapa yang korupsi. Setelah ini, ada Om kamu yang akan mengambil alih pimpinan kantor. Papah mau fokus dengan usaha di London," ucap Teddy pelan.


"Papah? Punya usaha di London? Bukannya Papah sakit?" tanya Arsy makin bingung. Dia anaknya malah tak tahu apa -apa. Sedangkan Teddy yang hanya menantu malah tahu segalanya tentang Bunda dan Papahnya.


Teddy menileh ke aeah Arsy dan tersenyum.


"Bukannya semua itu demi impian kamu kuliah di sana? Makanya Mas buka rumah sakit juga di sana, Papah juga banting setir buka usaha di sana. Kata Papah biae tetap bisa bersama kamu dan cucu -cucunya. Makanya kamu jaga kehamilan kamu dengan baik. Kalau pun ada masalah di kemudian hari atau memang kerahuan pihak sekolah. Sudahlah kamu home scholling aja yang penting dapata ijazah," ucap Teddy menasehati.


"Semoga gak ketahuan. Ujian masih dua bulan lagi. Usia kandungan Arsy tiga bulan. Masih aman sepertinya," ucap Arsy pelan mengusap perutnya yang masih rata.


"Kurangin pakai rok pendek begitu. Mas lihatnya tuh kayak kesempitan. Kasiha perutnya kayak keteken gitu," ucap Teddy pelan menasehati.


"Masih cukup Mas. Biarin aja dulu. Kecuali perutnya sudah mulai buncit," tawa Arsy menggelegar.


"Semoga cepet buncit," jawab Teddy santai.


"Dih gitu ...." jawab Arsy pelan.


Mobil Teddy langsung masuk ke sebuah parkiran salah satu tempat makan yang belum pernah di kunjungi. Tempatnya memang agak masuk ke dalam, jauh dari jalan raya. Semacam pemancingan.


"Mau makan siang, Mas?" tanya Arsy pelan.


"Iya. Mas pegen kepiting," jawab eddy tanpa malu -malu.


"Dih ... Kenapa Mas yang ngidam sih? Kan Arsy yang hamil," ucap Arsy pelan.

__ADS_1


"Itu tandanya. Mas itu ikut merasakan apa yang kamu rasakan. Mas mau merasakan susahnya mengandung, walau cuma mengidam," ucap Teddy pelan.


"Gitu? Lebay banget sih," jawab ARsy menahan tawanya.


"Sayang ... Kasih bedak dulu ini di punggung," cicit Teddy manja.


"Ya ampun Mas. Kalau di lihat orang gimana? Orang seganteng Mas Teddy eh pake bedak bayi di punggungnya," ucap Arsy pelan.


"Mana ada yang lihat, Sy. Cuma kamu yang tahu soal ini," jawab Teddy pelan.


Arsy membuka kemeja Teddy dari belakang dan mulai membalurkan bedak bayi itu di punggungnya dengan lembut.



Lesehan Pemancingan -



Acara makan siang kali ini memang sengaja di jadwalkan oleh Teddy. Ia ingin memiliki waktu yang banyak untuk bisa selalu bersama dan menemani istri labilnya.


Mulai dari makan bersama, jalan bersama dan mengisi waktu di rumah bersama tanpa ada masalah.


Semua makanan yang di pesan sudah tertata rapi di meja. Teddy sengaja menyiapkan semua ini sejak tadi. Ia memesan banyak makanan seafood untuk menemani obrolan siang ini antara suami dan istri yang sedang ingin bermesaraan menjaga hati.


Teddy hanya melihtai istrinya yang terihat sangat menikmati makanannya. Seminggu lagi kebersamaan ini akan berlalu sesaat karena kesibukan Teddy mengurus pembangunan rumah sakitnya.


"Enak? Lahap banget?" tanya Teddy pelan.


"Enak banget. Bumbunya meresap bikin nagih," jawab Arsy pelan. Ia masih terus menikmati makanan ynag masih berjajar di piringnya.


"Boleh Mas bicara," ucap Teddy pelan.


"Boleh. Bicara aja," jawab Arsy pelan sambil mengunyah cumi goreng tepung.


"Ekhemmm ... Nanti kalau Mas ke luar kota. Kamu jaga diri ya. Jangan pulang larut sore," ucap Teddy pelan.


"Mas ... Kalau Arsy tetap tinggal di apartemen sama Wulan, boleh?" tanya Arsy pelan. Bukan Arsy gak mau tinggal bersama Mama Tina dan Papa Baron. Tapi, lebih tepatnya Arsy sungkan.


"Memang kenapa? Kamu gak mau tinggal dengan Mama? Biar ada yang mengurus kamu, ajak kamu kontrol ke dokter kandungan," ucap Teddy pelan.


"Tapi Mas ...." jawab Arsy ingin membela diri.

__ADS_1


"Sudah Sy. Mas gak mau dengar apa -apa. Mas sudah buat keputusan, dan kamu harus tinggal di rumah Mama. Gak ada perdebatan. Apartemen tidak boleh di pakai, kalau kamu mau datang sesekali boleh, tapi gak boleh menginap," ucap Teddy tegas.


__ADS_2