
Wulan langsung bergegas membalikkan badan dan menatap sosok yang di bicarakan Arsy barusan. Memang benar, ada sosok yang terlihat seperti perawakan pria, namun sama sekali tak terlihat, siapakah gerangan?
"Siapa dia? Merinding gue," ucap Wulan pelan.
"Sudahlah. Setelah ini kita akan coba naik ke atas. Arsy penasaran," ucap Arsy pelan.
Hari itu benar -benar hari yang membahagiakan. Moment kelulusan itu benar -benar membuat satu angkatan sekolah SMA itu bahagia tak terkira. Mereka bercanda dan tertawa tanpa ada beban lagi di hari ini.
Wulan langsung berlari ke arah atas lantai tiga bersama Arsy setelah bubar acara kelulusan itu.
"Tapi ini kan hanya rooftop biasa, dan gak ada apa -apa," ucap Arsy pelan. Agak merinding juga melwati tempat sepi itu.
"Sepi ya? Ngeri juga," ucap Wulan yang juga ikut bergidik negri.
Keduanya kembali lagi turun ke lantai dua. Kembali ke ruang kelas mereka.
__ADS_1
Satu minggu lagi akan ada acara pentas terbuka di sekolah. Semuanya akan hadir, tidak hanya seluruh murid dari kelas satu hingga kelas tiga, tapi juga para orang tua murid kelas tiga juga akan hadir disana mengikuti seluruh rangkaian acara pentas seni dengan tema "AKHIR DARI MASA BAKTIKU BERSAMA PUTIH ABU."
"Kita mau menampilkan apa?" tanya Sang ketua kelas.
"Memang harus nunjukkin sesuatu gitu? Arsy sudah ikut drama," ucap Arsy pelan.
"Ya ... Gak juga sih. Kalau kelasnya mau berpartisipasi aja," ucap jetua kelas itu pasrah.
Beberapa orang teman di kelasnya sudah mengikuti kegiatan ekstrakurikuer. Contohnya saja, Arsy yang ikut drama, Siska yang ikut band, Nanda yang ikut karawitan, ada Irma yang ikut paduan suara belum lagi kegiatan lain yang juga ingi menampilkan sesuatu sebagai bentuk partisipasi ikut memeriahkan acara perpisahan yang hanya di adakan satu tahun sekali itu.
"Wah ... cemerlang juga tuh ide siswa berprestasi," ucap Nanda tertawa keras.
Tug ...
Arsy melempar remasan kertas tepat di kepala Nanda.
__ADS_1
"Gak usah bawa -bawa murid berprestasi. Kita ini sudah mau berpisah. Bisa gak, semuanya baik -baik. Gak usah pada nge -bully, gak perlu pada insecure dan gak usah saling menjatuhkan. Kita teman, kita sahabat dan kita saudara. Kalau bisa kita tetap jaga silaturahminkita sampai tua nanti," ucap Arsy pelan memberikan nasihat kepada semua teman -temannya.
Ruangan kelas IPA yang biasanya ramai mendadak diam dan tenang. Semua menyadari kesalahannya. Semua yang di lakukan selama ini tidak ada yang berarti.
"Benar. Kita sudah lulus sekarang. Untuk apa kita saling membenci, toh setelah ini mungkin kita gak ketemu lagi, lebih kita saling bermaaf -maafan dan saling mendukung tanpa ada rasa benci serta dendam," ucap Siska.
"Gue setuju. Mulai sekarang kita saudara," ucap Irma yang mendului meminta maaf kepada semua teman -temannya dengan berkeliling dalam kelas serta mengulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf baik ynag di lakukan sengaja maupun tidak sengaja.
Air mata mereka jatuh. Kesedihan di ruangan itu mulai terasa. Mereka mengingat semua kesalahan, keisengan, kekonyolan yang mereka lakukan kepada teman -teman mereka sendiri. Ada yang karena memang jahil, dendam, benci, kesel, atau memang hanya sekedar candaan atau menggoda.
"Gue sedih tahu. Kalian itu udah gue anggap saudara. Terutama Arsy. Fia emang sahabat gue paling baik. Tapi kalian juga baik dan selalu kompak. Maafin salah gue ya," ucap Wulan pelan.
"Gue juga mau minta maaf sama loe, Lan, sama loe juga, Sy. Gue banyak salah sama loe. Gue minta maaf. Gue gak bisa bilang, apa aja yang udah gue lakuin sama loe berdua. Gue cuma mau bilang gue minta maaf," ucap Siska dengan tulus.
Siska memeluk Wulan dan Arsy bergantian. Air mata itu kembali turun. Mereka saling memaafkan.
__ADS_1