
Arsy sudah di pindahkan ke kasur dan di selimuti hingga bagian agar tubuhnya menjadi lebih hangat. Keningnya masih hangat, dan Bunda Arsy menunggu kedatangan dokter keluarga yang kana memeriksa Arsy.
Teddy sudah kembali dengan satu nampan berisi bubur ayam kaldu dan teh manis hangat. Teddy duduk di tepi ranjang dan meletakkan nampan itu di nakas lalu menyentuh wajah istrinya yang masih hangat.
"Arsy ... Sy ... Bangun sayang, makan dulu yuk," bisik Teddy dengan suara lirih. Tangan Teddy memegang kepala Arsy yang masih terasa panas dan menepuk pelan pipi tembem itu.
"Bangun yuk sayang ... Makan dulu, nanti kamu sakit. Seharian ini kamu belum makan," ucap Teddy kemudian.
Teddy terus memijat telapak tangan Arsy dan berharap istrinya cepat terbangun.
"Bun ... Kok gak bangun -bangun ya?" ucap Teddy panik.
"Haduhh ... Bentar Nak Teddy. Bunda ambilin minyak kayu putih biar di endus -endus, siapa tahu bisa cepet bangun," ucap Bunda Arsy yang langsung gerak cepat mengambil minyak kayu putih untuk Teddy.
__ADS_1
Minya kayu putih itu di buka lalu di usap di bawah hidung atas bibir dan terus di dekatkan botolnya agar Arsy bisa menghirup wewangian rasa mint itu dan bisa terbangun dari tidur panjangnya.
Lima menit kemudian, Arsy mulai menggerak -gerakkan jari tangannya sebagai tanda ia sudah sadar dari tidur panjangnya.
Kedua matanya mulai terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri, namun kelopak matanya belum terbuka.
"Sy ... Arsy ... Bangun sayang, buka mata kamu. Mas sudah buatkan bubur untuk kamu," ucap Teddy cepat sambil mengusap pipi Arsy dengan lembut.
"Hemmm ... Puttttrrraaaa ... Putttttriii ... Sini sayang, Mama mau gendong kamu," ucap Arsy saat kedua matanya masih terpejam. Bibirnya mulai terlihat pucat dan memutih.
Arsy langsung terdiam dan kedua matanya perlahan terbuka dan menatap Teddy.
"Kamu gak apa -apa?" tanay Teddy saat kedua mata Arsy sudah membuka dan mulai fokus menatap Teddy.
__ADS_1
"Mana Putra dan Putri. Tdai mereka ada disini, Mas. Mana mereka? Mereka bilang sedang haus," ucap Arsy dengan wajah panik dan mengangkat tangannya memegang dadanya yang mulai terasa kencang dan keras. Mungkin air susunya sudah penuh berada di dadanya dan harus segera di pumping dan di buang.
"Gak ada sayang. Tidak ada Putra dan Putri. Mereka sudah tiada. Tolong jangan seperti ini. Ikhlaskan mereka," ucap Teddy yang berusaha menenangkan Arsy.
"Ada Mas. Mereka tadi menangis minta susu. Mereka kehausan dan kedinginan," ucap Arsy lirih dengan wajah memelas.
"Makan dulu yuk? Mas suapin ya? Tadi Mas buat bubur sama teh manis," pinta Teddy sambil menutup pembicaraan halu Arsy baru saja.
Melihat istrinya seperti ini, tentu membuat hati Teddy begitu sedi, tapi mau gimana? Memnag prosesnya harus seperti ini.
Arsy mau menyuap pelan bubur yang di beriakn oleh Teddy. Perutnya memang mulai terasa perih dan lapar.
"Nah ... Kalau mau makan begini. Pasti kamu cepat sembuh. Sebentar lagi, dokter keluarga akan datang dan memeriksa kamu," ucap Teddy dengan telaten menyuapi Arsy.
__ADS_1
Besok adalah waktu yang di tunggu Teddy. Teddy harus merayu Arsy untuk mau datang ke kantor polisi dan memberikan keterangan sesuai kejadian yang di alami.