Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SERING MAKAN RUJAK


__ADS_3

Suara obrolan itu semakin terdengar jelas dari ruang kelas Arsy. Namun Teddy tahu, ini bukan suara Arsy, tapi teman satu kelasnya.


Kuping Teddy semakin di pertajam untuk fokus mendengar semua ucapan teman -teman Arsy itu.


"Gue denger, pagi ini kita tes urine. Kalau menurut Bu Lina tes urine ini ada dua maksud," ucap salah seorang gadis dengan suara agak keras memberitahukan teman se -kelasnya itu.


"Dua maksud? Apa aja?" tanya gadis yang lain dengan suara penasaran.


"Ya dua maksud. Satu, untuk mengetahui kenakalan remaja, siswa atau siswi yang memakai narkoba, lalu yang kedua jika ada siswi yang hamil. Mau tidak mau kan di depak tuh dari sekolah," ucap gadis yang memiliki suara keras tadi.


"Narkoba? Ini sih oke, biar kita gak terbawa arus jelek ya. Kalau hamil? Ya ampun amit -amit jangan sampai deh. Murahan banget kalau masih sekolah sudah hamil," ucap gadis lain.


"Makanya itu. Masa siswi pelajar hamil. Tugasnya sekolah, bukan nyambi *** -***. Bener gak?" ucap gadis beraliran keras tadi.


"Gila kali kalau memang sampai ada yang hamil di sekolah ini. Bodoh itu namnaya, gak bisa main cantik. Uppsss ... kelepasan," ucap gadis lain yang dengan sengaja melontarkan kata -kata itu.


"Weh ... Lu udah pernah gituan. Gercep juga lu. Pakai pengaman jangan sampai kebobolan. Kalau udah lulus sih gak masalah, kita masih sekolah, sedikit mikirin masa depan dong," ucap gadis lain.


"Munafik juga kalau bilang gak pernah. Lu semua udah pernah pacaran kan? Hal begitu udah gak tabu, bukan? Malahan bikin kita ketagihan," ucap gadis lain yang menyambar pembicaraan.


Teddy mendengarkan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dunia remaja saat ini semakin kacau dan sadis. Mereka lebih paham dengan arti kata main cantik, pakai pengaman, jangan kebobolan. Huftt ... Kenakalan remaja yang patut di waspadai juga.


"Pagi ...." ucap Teddy dengan suara tegas yang langsung masuk ke dalam ruang kelas itu.


"Pagi Pak," jawab semua siswi yang sedang ber -ghibah itu secara serempak.

__ADS_1


Semua siswi itu langsung kocar kacir dan duduk di kursinya masing -masing. Secara mereka tadi ada yang duduk di meja guru, meja siswa, atau duduk berpangkuan dengan teman sejenisnya sambil ngemil keripik singkong yang menjadi saksi bisu perghibahan mereka.


"Sudah kalian ngobrol gak pentingnya. Pembicaraan kalian kalau sampai di dengar kepala sekolah, kalian juga aan mendapatkna masalah," ucap Teddy menjelaskan.


"Iya Pak," jawab seluruh siswi itu bersamaan.


"Ingat. Apa yang selalu saya berikan pada kalian. Nasihat -nasihat saya. Jangan sampai apa yang kalian lakukan itu merugikan diri kalian diri sendiri," ucap Teddy kembali menasehati siswa -siswinya itu.


"Tapi Pak. Lebih buruk kalau memang ketahuan hamil ... Kayak ...." ucapan gadis itu terhenti karena salah satu temannya langsung membungkam mulut temannya itu.


Tatapan Teddy begitu tajam menatap kedua mata kedua siswinya itu.


"Kayak sapa? Coba katakan!!" titah Teddy mulai geram.


"Cepat katakan!! Kayak siapa?" tanya Teddy lagi dengan suara keras.


"Wulan Pak," ucap salah satu gadis.


"Arsy Pak," ucap salah satu siswi lainnya hampir bersamaan menjawab.


Teman yang lainnya malah menatap kedua siswi yang menjawab jujur itu dengan tatapan kesal dan kecewa.


"Siapa? Wulan? Atau Arsy? Kalian yakin?" tanya Teddy terlihat tenang.


Semua diam dan menunduk lagi tak menjawab.

__ADS_1


"Maaf Pak. Kami habya dengar desas desus setelah permintaan maaf Bismo saat itu di sekolah," ucap salah satu siswi lainnya.


"Kalian cari bukti saja sebelum bicara. Takutnya menjadi fitnah," terang Teddy yang merasa mulai tak aman.


"Bukannya Bapak adalah saudara Arsy. Tentu Bapak lebih tahu dong. Jam segini Arsy selalu makan rujak di taman. Apa Bapak tidak pernah tahu? Kalau istirahat pun Arsy selalu minta di buatkan jus mangga muda oleh Ibu kantin," ucap salah satu siswi dengan nyinyir.


"Memang tanda orang hamil hanya dengan makan rujak? Atau makanan yang asam? Masih banyak hal lain bukan itu saja. Karena semua bisa kebetulan," ucap Teddy berusaha membela Arsy.


"Tapi Arsy pernah muntah -muntah di kamar mandi tapi gak keluar muntahnya cuma cairan kuning gitu. Kata Mama saya kalau begitu tandanya hamil," ucap gadis lain mencoba ikut berpartisipasi membuat option lain.


"Muntah -muntah juga gak bisa di jadikan sesuatu alasan utama yang bisa di anggap seseorang itu sedang hamil. Efek masuk angin, sakit perut karena angin atau lambung juga bisa," ucap Teddy pelan. Maklum profesinya seorang dokter selalu ada jawaban lain. Karena kehamulan hanya bisa di cek lewat tes urine bukan mengidam yang belum tentu jelas.


"Tapi Pak ...." ucap salah satu murid yang kemudian di urungkan.


"Tapi kenapa lagi?" jawab Teddy pelan.


"Arsy memang terlihat beda. Di kelas banyak tidur," ucap teman satu mejanya menjelaskan.


"Sudahlah. Kalian jangan membuat onar lagi. Persiapkan diri kalian juga untuk tes irine. Semoga di antara kalian tidak ada yang terciduk," ucap Teedy menasehati.


Masa depan murid -muridnya itu adalah kebanggaan gurunya sendiri. Karena semua hal yang di berikan kepada muridnya begitu berguna bagi masa depan mereka.


Teddy pun pergi dari ruang kelas itu karena ia tak melihat Arsy di dalam. Tapi, tas ransel dan paper bagnya sudah ada di kursi dan meja belajar di kelasnya.


Pandangan matanya mengedar dan sorot matanya tertuju ke arah taman di tengah sekolah. Arsy duduk berdua dengan seseorang yang tidak di ketahui siapa.

__ADS_1


__ADS_2