
Tadi malam di halaman sekolah sedikit geger. Melihat Teddy yang tiba - tiba menggendong Arsy tanpa banyak bicara dan langsung mengantarkan Arsy bersama Wulan.
Arsy sudah berada di kamar apartemennya. Bajunya juga sudah di ganti dnegan daster yang berbahan rayon. Sejak semalam tubuh Arsy agak demam, Teddy terjaga dan mengompres Arsy. Ia tidak berani sembarang memberikan obat, karena Arsy sedang mengandung. Mungkin lebih baik, besok pagi memanggil dokter pribadi spesialis kandungan yang Teddy kenal sewaktu bekerja di rumah sakit.
Teddy pun tertidur tepat di samping Arsy. Teddy yang hanya nyempil duduk di pinggir ranjang dan meletakkan bantal di depannya lalu meletakkan kepalanya begitu saja. Matanya sudah tak bisa di ajak kompromi. Rasa kantuk itu sudah membuatnya beberapa kali menguap lebar dan berair di kedua matanya.
Tepat pukul lima pagi, saat adzan berkumandang. Arsy membuka matanya pelan. Sekujur tubuhnya masih terasa sakit dan tak enak di bagian perut dan dadanya. Tangannya ingin berpindah dan mengenai kepala Teddy.
Arsy menatap Teddy yang tidur di dekatnya, tepat di samping perutnya. Perlahan Arsy mengusap kepala Teddy dengan penuh kasih sayang.
Kemarin hari terakhir di Bali mereka sedang berselisih hingga tak saling sapa. Air mata Arsy pun turun. Ia menangis, rasanya saat ini ia rindu pada kedua orang tuanya di London, rindu perhatian Papahnya, rindu belaian Bunda Bella.
"Apa kabar Papah dan Bunda di sana? Sudah beberapa hari ini tidak bertukar kabar," ucap Arsy lirih.
Kedua mata Teddy juga terbuka lebar. Ia mendengar isak tangis Arsy dan belaian lembut jari -jari Arsy di kepalanya. Lelaki itu terdiam mendengarkan celotehan Arsy sendirian.
"Bunda ... Arsy juga sebentar lagi jadi Ibu seperti Bunda. Arsy bisa tidak ya?" tanya Arsy pada dirinya sendiri sambil engusap pelan perut itu.
Teddy mengulum senyum. Ia tahu, suatu hari Arsy akan lebih bijak menyikapi dan suatu saat nanti Arsy akan lebih dewasa karena memang ia kan menjadi seorang Ibu. Mental dan jiwa perempuan itu memang labil, jadi sebagai suami, Tedy akan terus menguatkan dan selalu membuat ARsy bahagia.
"Mas Teddy ... Maafin Arsy ya? Arsy masih labil, persis apa yang selalu Mas Teddy bilang. Arsy memang masih kekanak -kanakan dan egois. Tapi, Arsy selalu berusaha untuk menjadi baik dan lebih baik lagi," ucap Arsy pelan.
Tiba -tiba Teddy pun mendongak dan mengenggam tangan Arsy yang sejak tadi membuatnya begitu di sayang dan cintai oleh sang istri. Satu tangannya lagi mengusap pelan perut Arsy.
__ADS_1
"Kamu harus kuat sayang. Gak boleh lemah, karena kamu seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu," ucap Teddy pelan.
Satu kecupan di kening Arsy pun mendarat dengan lembut. Arsy paham sekarang, kenapa kedua orang tuanya menikahkan ia di usia muda. Mungkin agar Arsy banyak belajar, bisa menjadi perempuan kuat, perempuan yang mandiri dan tak pernah menggerutu serta tak mudah menyerah.
"Mas Teddy harus membantu Arsy ya? Biar Arsy semakin menjadi perempuan yang Mas Teddy harapkan," ucap Arsy lirih.
"Bukankah selama ini sudah Mas lakukan? Selalu mengajarkan kamu untuk lebih baik lagi? Apa selama ini kamu tidak menyadarinya? Kalau Mas begitu sayang dan cinta sama gadis labil ini?" tanya Teddy menoel hidung Arsy pelan.
Tangan Teddy kembali mengusap pelan kepala Arsy.
"Selama ini? Pernikahan kita juga baru satu bulan lho Mas?" cicit Arsy tak mau kalah.
"Tapi ...." ucap Teddy menghentikan uacapannya.
"Ekhemm ... tapi Mas selalu mengamatimu sejak kamu kelas dua, sejak Mas mengajar di sekolah itu. Kamu gak paham, kalau MAs berusaha mendekati kamu. Coba kamu ingat?" titah Teddy sambil tersenyum sendiri.
Arsy berusaha mengingat apa yang baru saja di ucapakan. Tapi memang tidak mengingatnya sama sekali. Saat itu ia masih brsama Bismo. Hubungan kisah cinta dengan Bismo pun baru di mulai saat Arsy duduk di kelas dua.
"Kamu gak ingat?" tanya Teddy menciba mengulang pertanyaannya kembali.
Arsy menggelengkan kepalanya pelan. Ia yakin sekali dnegan jawabannya yang tak bisa mengingat perjalanan waktu setahun yang lalu.
"Saat itu upacara. Kamu dan Wulan terlambat. Lalu berdiri di depan kan? Biasanya kalau saya menghukum siswa saya, mereka akan berdiri sampai jam istirahat pertama. Tapi saya tidak tega sama kamu. Saya cari hukuman lain, akhirnya saya suruh sapu taman belakang. Lalu ...." ucapan Teddy terhenti kembali karena Arsy melanjutkan cerita itu. Kali ini Arsy mengingat jelas cerita saat itu.
__ADS_1
"Lalu ... Arsy duduk di kursi itu karena kelelahan. Dan .... Argh ... Benarkah ...." Arsy berteriak histeris sambil melepaskan geggaman tangan Teddy dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia malu sekali mengingat itu. Kejadian konyol yang menurut Arsy terjadi tidak sengaja, namun sudah ada dalam perencanaan Teddy.
Teddy tertawa melihat tingkah malu Arsy saat ini. Wajahnya tiba -tiba saja memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa malu? Ada yang mengingatkan kamu?" tanya Teddy yang juga ikut terkekeh.
Ya, saat itu Arsy sedang beristirahat. Keringatnya mengucur deras di dahi dan leher Arsy. Maklum gadis manja ini tak pernah bekerja di rumah, jai menyapu halaman sedikit saja sudah pusng tujuh keliling dan rasanya seperti membersihka rumah lima lantai. Teddy sengaja datang membawa cemilan dan air minum dingin dan berpura -pura sedang mencari inspirasi.
"Jadi waktu itu ngaja bicara biar tahu segalanya tentang Arsy? Parah ih Mas Teddy," ucap Arsy kesal tapi lucu juga.
"Namanya lelaki lagi usaha deketin perempuannya. Pasti akan melakukan berbagai cara agar tujuannya tercapai," ucap Teddy tegas dan tertawa lebar.
"Kalau Arsy tahu. Saat itu Mas Teddy sedang PDKT sama Arsy, mau ARsy bikin cemburu terus," ucap Arsy tertawa.
"Sudah. Mas sudah cemburu setiap hari. Sakit rasanya melihat kamu tertawa bahagia, makan bersama dan jalan bersaa dnegan Bismo. Mas sakit hati. Sama persis yang kamu lakukan tadi malam di Bis? Kamu sadar atau tidak itu membuat hati Mas terluka dan sangat kecewa. Mas merasa tidak bisa menjaga kamu, mendidik kamu, dan Mas seperti tidak di hargai, di abaiakn dan hanya di anggap pemeran pengganti oleh kamu, Sy. Padhal di sini, kita pmeran utamanya," ucap Teddy lirih.
Arsy menatap Teddy dan mengusap pelan pipi lelaki tampan itu. Arsy mencoba menggenggam tangan Teddy dan mengecup pelan punggung tangan Teddy, suaminya denga sikap hormat.
"Mas ... Maafin Arsy ya. Mungkin Arsy terlalu bodoh atau mungkin Arsy terlalu cemburu juga melihat kebersamaan Mas Teddy dnegan Bu Lina, Siska, atau wanita lain yang nge -fans sama Mas Teddy," ucap Arsy lirih.
"Kamu cemburu, Sy. Padahal Mas tidak pernah menanggapinya sama sekali. Seharusnya kamu paham dengan bahasa tubuh Mas terhadap kamu atau yang lainny. Pasti berbeda Sy," ucap Teddy tegas menjelaskan.
Mereka memang butuh waktu bersama, berdua dan saling bercerita mengungkapkan apa yang mereka rasakan sebagai perbaikan hubungan mereka ke depannya.
__ADS_1