
Satu minggu berlalu, Arsy menjadi orang yang dingin dan sama sekal tak bicara. Di kelas pun hanya termenung dan melamun saja tanpa peduli dengan semua keceriaan teman -teman satu kelasnya yang berusaha menghiburnya.
Akhirnya, satu sekolah menjadi tahu, jika Arsy dan Teddy, gurunya itu memiliki hubungan khusus sebagai sepasang kekasih bukan suami istri.
"Arsy sayang ... Ini kue bolu pelangi, mau icip?" tanya seorang teman sekelasnya yang ikut peduli dengan kesedihan yang di rasakan Arsy saat ini.
Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menyeruput susu kotak yang sudah di persiapkan oleh Teddy.
Hampir setiap malam Arsy menangis. Air matanya ta pernah kering. Kenangan manis bersama Teddy selalu di ingatnya. APalagi kenangan terakhir bersama di cafe gelato, berputar -putra menaiki motor. Saat itu semuanya terasa indah. Ternyata firasatnya benar, sesuatu terjadi dan semua itu tak akan pernah lagi kembali.
"Sy ... Makan dulu yuk? Gue suapin. Loe mau makan apa?" tanya Wulan pelan.
Sejak kejadian itu, Wulan ikut tinggal bersama Arsy di rumah Mama Tina. Setidaknya agar Arsy tidak kesepian dan ada yang memantau.
"Gak Lan. Arsy gak lapar," jawab Arsy pelan. Ia meletakkan susu kotaknya dan menidurkan kembali kepalanya di meja.
Wulan tak bisa berbuat apa -apa. Ia juga bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Skip ...
Pulang sekolah Arsy dan Wulan langsung pulang dan tidak mengikuti latihan drama. Pelatih drama pun paham dengan kondisi Arsy yang terlihat seperti orang depresi. Kebetulan Arsy sudah hafal dialog naskahnya dengan baik, bahkan Arsy sudah bisa berakting dengan sangat baik.
Arsy sudah mengganti pakaiannya dan duduk di depan meja rias. Ia berkaca menatap wajahnya yang sudah satu minggu ini terlihat kusut. Ia mencoba tersenyum, namun sulit. Semuanya terasa beku dan tak bisa di paksakan.
"Makan dulu, Sy?" titah Wulan sambil membawakan satu nampan berisi sepiring nasi untuk makan siangnya dan satu gelas susu hamil buatan Mama mertuanya.
Hingga hari ini belum ada kabar apapun tentang Teddy apalagi kabar baik yang menyatakan suaminya itu masih hidup.
"Gak laper," jawabnya santai. Arsy pun bangkit berdiri dan berjalan menuju kasur empuknya. Hanya tidur, aktivitas ternyaman untuknya saat ini.
"Kamu dari pagi gak makan, Sy. Gak kasihan sama dua bayi kamu?" tanya Wulan pelan.
"Biarin Arsy sendiri, Lan. Berhenti sok peduli sama Arsy," ucap Arsy ketus.
"Gue gak sok peduli. Tapi emang gue peduli sama bayi kembar loe. Mereka makan dari sari makanan apa yang loe makan, Sy. Kalau loe puasa terus, gimana mereka bisa tumbuh? Gimana mereka mau sehat dan bertahan hidup? Kalau Ibunya saja gak mau peduli sama anaknya sendiri," jawab Wulan dengan suar asemakin lantang.
__ADS_1
Sesekali Arsy harus di beri nasihat yang agak keras dan tegas. Agar Arsy bisa berpikir jernih. Bukan malah terpuruk dengan keadaan. Memang, dia sedang berduka, tapi bukan begitu juga caranya mengabaikan hal yang tak seharusya di abaikan.
"Sudahlah. Arsy lelah, mau istirahat," jawab Arsy lirih. Arsy menarik selimut tipisnya hingga menutup ke bagian kepala. Di dalam selimut, air matanya kembali menetes. Rasanya pedih dan perih bercampur menjadi satu. Sesak sekali kehilangan orang yang di cintai. Arsy baru merasakan kehilangan Teddy. Lelaki yang tak pernah ia cintai, dan kini ia mulai tergil a-gila karena kesabaran dan ketulusan lelaki itu. Apakah semuanya sudah terlambat? Atau ini hanya ujian?
Tak kuat rasanya menahan sesak dan indera penciumannya mulai kesulitan bernapas karena mampet oleh cairan hidup yang mengendap di sekitar jalur pernapasan.
Tetesan air matanya langsung jatuh ke bantal. Rsanya begtu hangat, sama seperti suhu tubuhnya yang juga mulai menghangat. Arsy mulai merasakan tidak enak badan. Seluruh tubuhnya terasa meriang.
"Arsy mau makan?" tanya Mama Tina yang tiba- tiba masuk ke dalam kamar Arsy.
"Gak Tante. Sudah di paksa tapi tteap saja tak mau," jawab Wulan pelan.
Ia tak punya cara lain untuk menyuruh sahabatnya itu makan.
"Hari ini, Papah Baron akan pulang," ucapan Mama Tina belum selesai. Mendengar berita kepulangan Papah Baron, Arsy langsung membuka selimutnya dan menatap Mama Tina dengan berbinar penuh harap dan cemas.
"Sama Mas Teddy?" tanya Arsy antusias.
__ADS_1
Wulan menatap Arsy dan emmegang tangan sahabatnya itu lalu menoleh menatap Mama Tina yang terlihat kebingungan, bagaimana harus menjawab.