
Acara makan malam telah selesai. Iring -iringan Bis pun sudah berlanjut kembali di jalan raya menuju pelabuhan untuk menyeberangi laut menuju Pulau Dewat Bali.
Suasana di Bis masih riuh. Mungkin rasa kenyang mereka belum hilang jadi maasih ingin bercanda, bernyanyi dan mengobrol dengan seluruh teman yang ad di Bis.
Wulan terlihat tenang dengan kaki yang di selonjorkan dan jaket yang menutup tubuhnya terutama di bagian perut sambil memeluk bantal kecil untuk menahan perutnya dari guncangan.
Teddy masih sibuk dengan ponselnya. Tadi sekertarisnya mengabari bahwa kantor sedang ada masalah.
Arsy pun ikut bernyanyi dengan riang bersama teman -teman yang mengikuti irama gitar.
Namanya juga anak muda, walaupun kondisi bis melaju cepat dnegan lampu gelap dan hanya sorot lampu dari luar jalan yang masuk ke dalam bis. Mereka tetap semangat dan antusias. Mereka menunggu perjalanan menuju pelabuhan dan memasuki kapal.
"Mas ... nyebrang itu berapa lama?" tanya Arsy pelan.
"Gak sampe satu jam, yang lama itu mau masuk dermaganya, kadang suka antri. Memangnya kenapa?" jawab Teddy pelan sambil membalas chat sekertarisnya.
"Oh gitu ya," ucap Arsy pelan.
Teddy melirik ke arah Arsy dan menutup aplikasi chatnya dan menutup ponselnya.
"Kamu kenapa? Kok pucat? Kamu takut?" tanya Teddy pelan kepada Arsy pelan. Wajah Arsy terlihat memucat dengan bibir sedikit memutih.
Arsy mengangguk kecil.
"Arsy kok agak mual ya Mas," ucap Arsy lirih. Arsy bersandar sambil mencium aroma minyak kayu putih agar mualnya agak berkurang, tapi minyak kayu putih itu sama sekali tak membantu.
"Mual? tadi kamu gak apa -apa. Kok mual? Memang tadi makan apa?" tanya Teddy mulai panik.
Kalau di bis sudah mual bagaimana nanti di atas kapal.
"Makan apa? Cuma makan rendang," jawab Arsy pelan.
"Rendang? Pedes gak?" tanya Teddy aneh.
"Iya rendang, agak pedes sih. Tapi enak banget Mas. Dagingnya juga empuk," ucap Arsy pelan.
"Bukannya kamu gak suka rendang? Gak suka pedes juga?" tanay Teddy pelan.
"Tapi enak Mas. Tadi tuh kayak nikmat aja makan itu," jawab Arsy pelan.
"Ya sudah ... Kamu pusing? Apa cuma mual?" tanya Teddy pelan.
__ADS_1
"Pusing sedikit, tapi banyak mualnya," ucap Arsy pelan.
Teddy menyuruhnya memejamkan kedua matanya. Bagian bahu di pijat pelan oleh Teddy. Mungkin saja, Arsy masuk angin, karena seharian kedinginan karena AC. Makanya sejak tadi, Arsy di suruh selalu makan agar perutnya tidak kosong dan membuat Arsy malah sakit.
Akhirnya perjalanan pun sampai di pelabuhan. Bis sudah mulai mengantre di jalur untuk memasuki kapal laut. Semua penumpang di harapkan turun dan berjalan memasuki kapal melalui jalur yang sudah di sediakan.
"Tas kecilnya bawa Sy. Buat kamu ngemil," titah Teddy pelan.
"Bawain sama Mas dong. Arsy masih mual," cicit Arsy yang mulai manja.
"Ya sudah. Mana tasnya?" titah Teddy lembut.
"Mas ... Jangan jauh -jauh ya," ucap Arsy pelan.
"Mas temenin sampai kamu naik kapal. Duduk sama teman -teman kamu, sama Wulan juga. Mas harus duduk sama temen guru lainnya," jelas Teddy lembut.
Teddy hanya ingin Arsy lebih paham posisi Teddy yang memang seoarng guru. Mau di publikasikan seperti apapun hubungan mereka, tapi tetap saja tanggung jawab seorang guru ada pada profesinya.
"Kenapa gak duduk di sebelah Arsy sih? Ya udah jaket Mas Teddy siniin, biar Arsy pakai," titah Arsy lantang.
"Kamu kenapa sih Sy? Mendadak aneh gini? Ya udah ini pakai," jawab Teddy yang melepaskan jaketnya dan memberikan jaket itu pada Arsy.
Entah kenapa aroma Teddy itu membuat Arsy nyaman dan tenang seketika. Padahal baru saja ia seperti cemas dan ketakutan. Rasa mualnya pun berangsur menghilang.
Teddy berjalan di belakang dan di susul oleh Bu Lina.
"Arsy sakit Pak?" tanya Bu Lina yang penasaran.
"Iya Bu. Masuk angin," jawab Teddy pelan.
"Pantas. Pakai pinjem jaket segala. Memang gak bawa jaket? Manja banget," cicit Bu Lina yang terdengar nyinyir.
"Saya yang pinjamkan. Kasihan dia, wajahnya sudah pucat," ucap Teddy menjelaskan.
"Ohh gitu. Terus kapan mau nikah Pak? Kalau sudah tunangan kan gak lama nikah?" ucap Bu Lina yang mulai mencari bahan pembicaraan dengan Teddy.
"Secepatnya Bu. Kalau bisa besok. Mungkin besok saya nikahin," jawab Teddy tegas.
"Sudah kebelet Pak?" goda Bu Lina tertawa keras.
"Saya laki -laki Bu. Wajar dong kalau kebelet. Berarti saya masih normal kan?" ucap Teddy dnegan jelas.
__ADS_1
"Ah ... Iya normal Pak. Tapi ... Arsy kan masih kecil Pak, mungkin dia belum tahu meneikah itu bagaiamana," ucap Bu Lina berusaha menggoyahkan hati Teddy.
"Saya suka yang masih polos Bu. Itu tandanya dia masih orisil, selain itu bisa di atur. Saya kan butuh menunjukan kejantanan saya Bu," ucap Teddy sambil teratawa. Ia geli sendiri menjawab hal itu.
"Wah ... Pak Teddy sepertinya sudah berpengalaman ya?" ucap Bu LIna tertawa keras.
"Pengalaman itu penting kan? Biar makin paham," tawa Teddy makin keras.
Bu Lina berusaha tertawa, padahal hatinya kacau dan tercabik cabik. Usahanya belum berhenti selalu ada opsi lain untuk membuat hati Teddy luluh latah kepada dirinya.
Wulan menoleh ke belakang. Lalu menyenggol Arsy.
"Awas noh pelakor," titah Wulan pelan.
Arsy langsung menoleh ke arah belakang menatap Teddy dan Bu Lina berjalana beriringan.
"Arsy ke belakang dulu. Ulet bulu kudu di hemp. Masih belum bisa terima ini udah tunangan?" ucap Arsy kesal.
"Kan aku udah bilang berapa kali sama kamu, Sy. Awas, Pak Teddy itu sempurna. Kamu itu beruntung dapetin dia, bukan dia yang beruntung dapetin akmu. Kalau cuma ngelawan Bismo mah kecil. Bismo itu cuma sujung kuku Teddy," ucap Wulan berusaha mengingatkan Arsy.
"Aduh ...." teriak Arsy keras. Ia berpura -pura tersandung dan berjongkok sambil memegang kakinya.
"Kenapa Sy?" tanya Wulan yang kaget melihat Arsy tiba -tiba berjongkok dan memegang kakinya.
Teddy langsung berlari kecil dan meghampiri Arsy.
"Kaki kamu kenapa?" tanya Teddy pelan. Ia langsung memegang kaki Arsy lembut.
'JAngan di pegang Pak. Ini keram. Sakit sekali," titah Arsy yang terus mengaduh dan merintih kesakitan.
"Bisa jalan gak? Atau mau di titah? Atau di gendong?" tanya Teddy pelan memberikan pilihan.
"Jangan main gendong Pak? Bisa di anggap skandal dan jadi gosip," ucap Bu Lina yang tiba -tiba ikut nimbrung.
"Ibu kenapa sih? Kan Pak Teddy yang nawarin buat gendong. Lagian Arsy memang sakit," ucap Wulan dengan ketus membela Arsy, sahabatnya.
"Sudah jangan berdebat. Ini urgent. Mau tidak mau harus ada tindakan dan saya harus gendong Arsy menuju kapal. Wulan tolong bawa tas ini," titah Teddy pelan.
"Iya Pak," jawab Wulan pelan.
"Yuk naik ke punggung saya sekarang. Bisa kan?" tanya Teddy pelan.
__ADS_1
"Arsy berat Pak," cicit Arsy yang bingung dan malu.
"cepetan naik gak usah banyak komentar," tegas Teddy kepada Arsy.