Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PONAKAN BARU


__ADS_3

Robby naik dan duduk di Bis yang sebelumnya di tempati oleh Arsy. Wulan menatap Robby dengan tatapan aneh dan penasaran.


Bu Lina dan Pak Teddy belum naik ke dalam Bis karena harus ada brifing terakhir sebelum kepulangan mereka. Intinya brifing terakhir adalah, semua rangkaian acara selama di Bali telah sukses di laksanakan dan akhirnya mereka kembali ke Jakarta.


"Eh ... Lu ngapain di sini?" tanya Wulan pelan kepada Robby yang malah asyik bermain gitar uku lelenya.


"Lha? Lu kenapa ribet. Udah duduk diem, gak usah ngurusin orang bisa gak?" tanya Robby ketus.


"Tapi itu tempat Arsy," ucap Wulan mengingatkan.


"Eh ... Balakutak ... Gak usah sok jadi pahlawan. Kalau lu tahu, Arsy yang nyuruh gw di sini. Noh, dia lagi mojok sama pacarnya, Bismo," ucap Robby keras.


Semua orang memang tahunya Arsy itu kekasih Bismo. Tidak ad yang tahu, bahwa sesungguhnya hubungan mereka telah berakhir.


"Apa? Arsy yang mau lu tukeran Bis? Wah ... Bisa ada perang kelima nih," ucap Wulan pelan.


"Apa barusan lu bilang? Perang kelima? Arsy sam Bismo gak mungin ada perang, ada juga dapet teguran tuh kalau ngapa -ngapain secara mereka duduk di belakang," ucap Robby makin lantang.


"Siapa yang duduk di belakang?" tanya Teddy yang tiba -tiba naik ke dalam Bis.


Semua guru pendamping sudah bubar brifing dan langsung menuju Bis masing -masing. Bbeerapa Bis itu sudah menutup pintu dan bersiap untuk berangkat dan melalui perjalanan yang cukup jauh.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk turun dan mengecek Arsy di Bis lain.


"Arsy Pak ... Kita berdua tukeran tempat duduk," ucap Robby pelan.


"Arsy? Duduk sama siapa dia?" tanya Teddy mulai khawatir dan cemas.


"Sama siapa lagi Pak kalau bukan sama pacarnya. Mungkin mereka mau ...." ucapan Robby terhenti dan ia memeragakan kedua tangannya dengan jari - yang saling di dekatkan.


Rombongan enam Bis sudah berjalan iring -iringan. Kedua mata Teddy melotot ke arah Robby. Tubuh Teddy sedikit menegang menahan rasa marah dan emosi. Tas slempang milik Arsy sengaja di tinggal di Bis. Padahal isinya dompet dan ponsel. Arsy emmang snegaja agar Teddy tidak menghubunginya.


"Bismo maksudnya?" tanya Teddy yang makin penasaran.


"Iyalah Pak. Pacaran Arsy siapa lagi? Memang ada lagi? Level bucinnya Arsy ya cuma sama Bismo aja. Kalau jam istirahat saja, makan bareng terus suap -suapan, Ya ampun dunia di anggap punya dia aja," ucap Roby terus menyerucus bercerita tentang hubungan Arsy dan Teddy. Suasana hati Teddy makin memanas, ia makin terbakar ai cemburu. Ingin rasanya turun dari Bis dan menghampiri Arsy dan di gendong untuk kembali lagi duduk di sebelahnya.


Wulan hanya mendengarkan dari samping tempat duduknya. Anak didik dan gurunya itu sedang berada dalam lingkarang salah paham. Robby yang tidak tahu jalan ceritanya malah dengan asyik membuat cerita -cerita bucin Arsy dan Bismo, sedangkan Teddy sejak tadi bereusaha menahan emosinya agar tak terluapkan.


Melihat ada perbedaan di wajah Teddy. Robby pun celetuk bertanya.


"Bapak kenapa? Kok kayak gak suka gitu denger cerita saya? Kayak cemburu gitu? Wajah Bapak tiba -tiba merah kayak nahan keseldan emosi," ucap Robby tanpa rasa berdosa.


"Cukup. Saya ingin tidur," ucap Teddy pelan.


Teddy sudah menahan rasa cemburu di hatinya. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran jok kursi Bisa dan berusaha memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Robby yang merasa tak berdosa pun tetap bernyanyi dengan gitar uku lelenya hingga beberapa orang teman -temannya pun ikut bernyanyi riang..


Teddy menarik napas panjang dan dalam. Kupingnya pengang mendengarakan suara bising yang tak biasa ini.


"Lan ... Tuker tempat duduk. Kepala saya pusing dekat sama Robby," pinta Pak Teddy yang membangunkan Wulan.


Wulan membuka kedua matanya dan menoleh ke arah Bu Lina yang nampak pulas. Padahal telinga Bu Lina begitu tajam mendengar dan mereka semua ucapan Teddy dan Wulan.


"Bapak yakin mau tukeran tempat duduk?" tanya Wulan yang merasa tak suka.


Biar bagaimana pun juga Wulan adalah sahabat Arsy, dan tidak mungkin Wulan menyetujui keinginan Teddy yang malah membuat celah terbuka bagi Bu Lina bisa duduk bersama dengan suami sahabatnya sendiri.


Teddy menganguk pasrah. Ia tak biasa dnegan keadaan ramai seperti ini. Kepalanya selalu berputar cepat di tambah dengan suasana hatinya sedang tidak baik -baik saja. Ia di kuasai rasa cemburu dan cemas yang berlebihan.


Wulan yang malah tidak yakin.


"Pak ... Sebelah Wulan Bu Lina, kalau Arsy tahu gimana?" tanya Wulan berbisik.


Teddy langsung diam tak bisa menjawab. Ia membenarkan duduknya dan bersandar lagi di jok kursinya dengan lebih nyaman.


Wulan sendiri hanya menghembuskan napas lega karena Teddy mau berubah pikiran.


"Kalau Pak Teddy mau tukeran tempat duduk, seharusnya kamu mau. Mungkin dia ada sesuatu hal yang mau di obrolkan pada saya," tegas Bu Lina yang tiba -tiba bersuara.


Wulan yang kaget dengan suara itu pun menoleh ke arah Bu Lina.


"Saya mendengar semua pembicaraan kamu dengan Pak Teddy." ucap Bu Lina ketus.


"Ya kan Bu, maksud Wulan baik, kita kan sama -sama perempuan, jadi duduk bersama. Pak Teddy dan Robby kan juga sama -sama lelaki, alangkah baiknya mereka juga bersama," ucap Wulan jujur tanpa dosa.


Bu Lina hanya melengis kesal dan menutup kembali kedua matanya.


Skip ...


Di Bis yang lain tempat Arsy dan Bismo duduk bersaa di bagian belakang. Arsy mulai merasakan mual dan tak nyaman. Walaupun Bismo sudah memberikan perhatian kepada dirinya tapi pengalaman mengurus perempuan itu NOL. Berbeda dengan Pak Teddy yang tidak hanya menjaga, perhatian dan peduli pada Arsy tapi juga bisa membuat Arsy tenang dan nyaman selama duduk besamanya.


Kepala Arsy hanya di sandarkan di samping kaca dan beberapa kali kepalanya terbentur list besi body Bis hingga membuatnya sakit kepala.


"Dari tadi diem aja? Kenapa?" tanya Bismo pelan.


"Gak apa -apa." jawab Arsy pelan.


"Lagi ada masalah sama Pak Teddy?" tanya Bismo kemudian.


"Gak." singkat sekali Arsy menjawab seperti orang yang sedang malas di tanyai.

__ADS_1


"Kamu bahagia kan?" tanya Bismo memulai pembicaraannya. Sudah lama keduanya tidak dekat dan bicara dari hati ke hati.


" Apa arti bahagia untuk kmau, Mo?" tanya Arsy pelan.


"Ya, Bersama dan saling mencintai. Itu saja," ucap Bismo pelan.


"Wulan?" tanya Arsy yang berusaha mendekatkan Bismo dan Wulan.


"Ini sebuah kecelakaan. Bukan salah aku tapi hanya ada keterkaitan saja. Kita masih punay masa depan masing -masing. Kita tidak akan bersama," ucap Bismo tegas.


"Lalu? Janji kamu padanya?" tanya Arsy penasaran.


"Tak usah menyaiku jika kamu saja tidak mau bicara." jawab Bismo yang mulai malas membahas Wulan.


Antara Bismo dan Wulan sudah punya kesepakatan sendiri. Keduanya jalan masing -masing dan tidak ada tuntutan smaa seali. Pantas saj, Bismo memang tidk peduli dengan Wulan akhir -akhir ini.


"Cita -citamu masih menjadi dokter kan?" tanay Arsy kemudian.


Bismo mengangguk tegas.


"Masih lah. Itu cita -citaku sejak kecil," ucap Bismo tersenyum manis pada Arsy.


"Mo ...." panggil Arsy lirih.


"Ya ... Kenapa?" tanay Bismo pelan.


"Maaf ya soal kita ...." ucap Arsy pelan.


Bismo menatap Arsy lekat dan menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.


"Jangan di bahs. Aku masih kcewa, Sy," jawab Bismo pelan.


Arsy melempar pandangannya ke arah lain. Ia sudah tidak ada rasa pada Bismo tapi punya rasa bersalah yang besar.


"Mo ...." lagi -lagi Arsy memanggil pelan nama mantan kekasihnya itu.


"Ada apa cantik," jawab Bismo pelan menatap Arsy kembali. Kedu netramereka bertemu dan saling berpandngan. rasa yang dulu ada memang sudah sirna dan musnah. Kini mereka hanya saling menyayangi sebagai teman.


"Arsy hamil," bisisk Arsy lirih.


Kdua mata Bismo melotot tak percay. Ia menutup mulutnya agar tak bersuara.


"Kamu hamil? Cepat sekali?" tanay Bismo masih ragu.


"Dih ... Bukannya di kasih selamat mau dapat ponakan. Kok kayak ragu gitu sih?" ucap Arsy kesal.

__ADS_1


Bismo menahan rasa kecewa yang lebih dalam lagi. Ia hanya menarik napas dalam untuk mengontrol detak jantungnya agar tetap tenang.


Dengan senyum yang sedikit di paksakan. Bismo singkat berkata, "Selamat ya Sy."


__ADS_2