Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
22


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya Ki?" tanya Merong yang terlihat bingung dengan kemarahan Ki Melet tiba - tiba.


Kedua mata Ki Melet melotot dan menatap tajam ke arah depan sambil otaknya mulai berpikir kembali mencari cara kembali untuk mendapatkan dua puluh lima gadis perawan yang ada di desa sukahati.


"Perawan di desa ini masih tersisa berapa lagi?" tanya Ki Meletpelan.


"Stok masih cukup. Dari yang muda hingga yang sudah agak tua, menurut penerawangan Merong masih ada sekitar tiga puluhan perawan yang bisa Ki Melet ambil keperawanannya. Lisa? Perempuan itu sepertinya belum pernah Ki sentuh? padahal dia sering sekali meminta pelet untuk ketenarannya sebagai biduan?" ucap Merong yang terlihat bingung.


"Dia akan ku jadikan tumbal untuk terakhir kalinya. Gadis itu sedikit istimewa dan memiliki satu hal yang bisa menambah ilmu ku bertambah sempurna," ucap Ki Melet tegas.


"Oh ... Lalu, bagaimana dengan serangan balik Nyai Konde?" tanya Merong pelan.


"Sudahlah. Biarkan saja dia beraksi. Waktu satu bulan itu sebentar, dan tidak mungkin ia bis amengumpulkan tiga puluh perjaka untuk melepaskan diri dari jeratan pelet yang telah aku ikat di tubuhnya. Pelet itu sudah tetanam agar ia tidak lagidi sukai oleh banyak lelaki," ucap Ki Melet pelan.


"Tapi perempuan itu? Perempuan yang selallu bersama Nyai Konde? Kabarnya ia juga seorang biduan, tapi desas desus itu Merong juga belum paham," ucapMerong ikut bingung.


Kehidupan mereka sudah muaia abadi. Niat untuk membuat sebuat desa penuh engan kemistisan tinggal selangkah lagi. Setiap malam, mereka selalu bertapa untuk memnaggil roh - roh para tetua yang ada di desa ini untuk membantunya mengambil alih desa ini dan di bangun sebagai kerajaan mistis.


Hari ini Nada sudah pulang ke rumah. Sudah biasa, jika ia pulang malam, atau bahkan tidak pulang. Ayah dan Ibunya tidak akan pernah bertanya kepada Nada kenapa selalu tidak pulang atau jarang pulang. Hanya kesibukan yang kini membuat komunikasi mereka menjadi berkurang.


Nada dududk di depan meja rias. Wajahnya yang cantik terus terlihat semakin cantik dan bercahaya.

__ADS_1


Nyai Konde tiba - tiba datang datang danduduk di atas kasur. Wajah Nyi Konde semakin terlihat muda dan sangat cantik.


"Nyai? Tolong jelaskan kepada Nada. Untuk apa perjaka sebanyak itu? Tolong jangan ada yang di sembunyikan dari Nada biar Nada paham,"tegas Nada sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


nada hanya tidak ingin apa yang ia lakukan setengahnya ini berimbas bagi dirinya.


'Bukankah smeua sudah ku jelaskan. Aku ingin balas dendam, dan aku harus mengumpulkan kekuatan dan ilmu dnegan mencari tiga puluh perjaka dalam waktu satu bula. Sama seperti Ki Melet, ia juga mencari gadis perawan untuk di tiduri agar ilmunya semakin mumpuni dan tak terkalahkan. Mereka juga bisa menyuruh baladnya untuk menyamar dan berpura - pura mau tidur bersamany dan berpindah roh dan raga setelah itu benar - bnear terjadi," ucap Nyai Konde menjelaskan.


Nada hanya mengangguk kecil. Dalam hati kecilnya ia tetap tidak mengerti dnegan semua ini. Ingin rasanya terlepas dari jeratan kisah aneh ini dan hidupnya kembali normal. Tapi bagaimana caranya, batin Nada bingung.


"Kamu masih mengingat Pram?" tanya Nyai Konde pelan. Seharusnya Nada tidak mengingat apapun di masa lalunya dan yang ia ingat bahwa jiewa raganya sedang membutuhkan dia untuk bisa kembali lagi setelah misi ini selesai.


"Pram? Pramono? tentu Nada ingat. Dia suami pura - pura ku," ucap Nada pelan. Mana ia bisa lupa dengan kejadian itu yang masih teringat jelas dalam benak Nada.


"Lupakan Pram!! Lupakan lelaki itu. Dia hanya akan mengganggu ketenaranmu Nada," ucap Nyai Konde menasehati dengan tegas.


"Maksudnya apa? Aku harus melupakan Pram? Llau nanti setelah jiwaku kembali, aku akan tetap kembali menjasi istri pura - puranya," ucap Nada tak kalah tegas.


"Nada!! Kita harus menyelesaikan misi kita kalau kau masih mau hidup kembali normal. Jangan banyak tanya dan ikuti saja perintahku!!" tegas Nuyi Konde dengan suara lantang.


"Kalau aku tak menuruti? Apa yang akn tejadi?" tanya Nada ketus kepada Nyai Konde. Lama - lama hidup Nada terkekang dan semu aterasa aneh. Nada hanya di jadikan boneka untuk tujuan yang tidak jelas

__ADS_1


Mistis, pelet, kutukan? Apa itu semua? Sepeti orang yang tak punya iman saja, batin Nada di dalam hatinya.


Satu hari saja Nada menjalankan rencana Nyai Konde, membuat hatinya tak tennag dan tak nyaman.


"Kamu akan mati sia - sia, Nada. Jiwamu sudah aku genggam. Ruh mu sudah ada dalam ikatanku. Kamu tinggal pilih untuk menuruti aku atau mati? Itu pilihanmu Nada, aku tidak memaksa," ucap Nyai Konde menjelaskan kembali.


"Rencana ini hanya untuk kepuasan batinmu dan Ki Melet. Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kami? Kami hanya boneka? Tusuk konde ini? malah membuat aku masuk perangkap dan ikut dalam malapetakamu?" teriak Nada kesal.


Entah kenapa hatinya menolak. Nada ingat tadi satu kamar bersama Arwana, rektornya. Walaupun tidak berhubungan intim, Nada sempat di sentuh, di jamah dan di cium. Itu sangat sanagt merugikan Nada. nada tak terima dengan kejadin ini. Lihat saja, bahkan masih ada dua puluh sembilan perjaka lagi yang harus di giring Nada untuk masuk perangkapnya. Itu tandanya Nada juga siap untuk di sentuh bahkan di cium oleh banyak laki -laki bahkan oleh laki - laki yang tak di kenalnya sekali pun hanya untuk memenuhi syarat keinginan Nyai Konde.


"Jaga ucapanmu Nada!! Aku yang menolongmu, Nada. tapi, apaka ini balasanmu?" tanya Nyai Konde yang menatap tajam ke arah mata Nada yang terlihat semakin bingung.


"Cih ... Aku tak peduli, Nyai Konde. Pergi!! Pergi, kataku!! Kau taidak ingin melihatmu lagi, Nyai!!" teriak Nada dengan suara keras.


Nada kesal. Nada ingat betul bagaimana wajah Arwana tadi malam penuh damba dan penuh hasrat. Bibirnya yang menyusuri wajah dan bibir Nada, bhakan tangannya pun ikut menjara dan meremas tubuh intimnya.


"Argh .... Bukan ini yang aku inginkan!!!" teriak Nada histeris. Suaranya begitu keras hingga Ayah dan Ibunya pun terkejut dnegan lengkingan suara Nada yang begitu jelas samapai di lantai bawah.


"Nada, Bu? Kenapa dia?" tanya Rahwana kepada Vita, istrinya.


Vita yang sedang merapikan meja makan pun ikut menoleh dan menatap ke arah anak tangga lalu menoleh kemali menatap Rahwana, suaminya.

__ADS_1


"Akhir -- akhir ini, Nada memang terlihat sedikit aneh," ucap Vita pelan sambil menarik kursi dan duduk tepat di depan Rahwana. Vita nampak berpikir sedikit dengan keanehan yang terjadi.


__ADS_2