
Bismo menatap Arsy lekat.
"Di panggil Guru BP? Ada apa?" tanya Bismo pelan ke arah Arsy yang terlihat panik. Nasi kuning yang ada di depannya baru ia nikmati satu suap saja, bahkan makanan itu masih penuh berada di dalam mulutnya untuk di kunyah lembut sebelum di telan ke kerongkongannya.
"Ekhem ... Mungkin masalah kemarin? Soalnya Pak Teddy saat itu ada di ruangannya," ucap Arsy mencari alasan.
"Kamu yakin? Karena masalah kemrin? Lalu, Kenapa Pak Teddy bisa pakai mobil kamu?" tanya Bismo pelan.
Kini giliran Arsy yang bingung harus menjawab apa pertanyaan Bismo.
"Tadi malam Pak Teddy itu datang. Lalu, Pinjam mobil sama Papah," jawab Arsy pelan.
"Terus? Hubungannya apa dengan Pak Teddy?" tanya Bismo penasaran. Ia tidak curiga hanya penasaran.
"Saudara. I -Iya, Jadi Pak Teddy itu kalau gak salah Om Arsy," jawab Arsy dengan asal.
"Om? Kenapa selama ini tidak pernah tahu. Dan kamu gak pernah saling tegur sapa seperti tidak kenal," tanya Bismo yang masih kurang yakin dengan jawaban Arsy.
"Ya ... Karena Arsy sendiri baru tahu," ucap Arsy pelan. Ia bergegas berdiri untuk memenuhi panggilan Pak Teddy, Guru BP -nya itu.
"Oke. Aku tunggu di sini ya," ucap Bismo pelan.
Arsy mengagguk kecil. Lalu berlalu begitu saja menuju ruang BP.
TOK ... TOK ... TOK ...
"Masuk," jawab Pak Teddy yang sudh duduk di balik meja yang sellau di anggap horor oleh semua teman -temannya bila di panggil ke ruang BP. Seperti ada ancaman tersendiri kalau Guru BP memanggil, pasti ada sesuatu yang tidak baik di lakukan oleh Siswa -nya.
Arsy berjalan masuk dengan menunduk dan menutup kembali ruangan itu. Arsy berdiri di depan meja Teddy.
__ADS_1
"Ba -bapak memanggil saya?" tanya Arsy kemudian saat keduanya hanya diam dan hening beberapa saat.
Teddy yang masih sibuk dengan laptopnya pun tak mengindahkan kedatangan Arsy.
"Duduk dulu. Sudah sarapan? Atau sedang sarapan?" tanya Teddy lembut tanpa menatap ke arah Arsy.
"Baru sarapan di kantin," jawab Arsy pelan.
Arsy berusaha mengingat nasihat Bunda Bella untuk tetap bersikap baik, hormat dan menghargai kepada calon suaminya itu tak lain Teddy, Guru BP -nya.
"Oh ... Baru sarapan. Kenapa gak sarapan di rumah? Sengaja menghindari saya?" tanya Teddy tegas.
Raut wajah Arsy pun berubah. Ada rasa tidak suka jika di tanya se -detail itu, seolah apa yang di lakukan Arsy itu salah.
"Menghindari? Apa maksud Bapak?" tanya Arsy mulai kesal.
"Ya. Kamu tahu kalau saya akan datang pagi -pagi untuk menjemput kamu sekaligus mengembalikan mobil kamu. Tapi, kamu malah pergi dengan teman laki -laki kamu," ucap Teddy pelan. Nada suranya tidak terdengar marah atau meninggi seperti membentak. Teddy lebih terkesan sedang bercerita tanpa memojokkan.
Arsy terdiam. Memang dirinya menghindar dari Teddy. Walaupun hubungan mereka sekarang bertunangan tapi, Arsy sudh memiliki kehidupannya sendiri. Bukan itu saja, Arsy memang tidk menyukai Teddy, lebih tepatnya belum menyukai.
"Arsy tidak menghindar. Kebetulan Bismo datang menjemput. Jadi, Arsy berangkat bersama seperti biasa," ucap Arsy santai menutupi kecemasannya juga.
"Begitu? Itu alasan tepatmu yang kamu anggap benar dan menyelesaikan masalah? Bismo? Ketua OSIS yang sebentar lagi akan lengser itu, dengan segudng prestasi, itu pacarmu, bukan?" tanya Teddy dengan pelan.
Tatapa Arsy semakin terlihat ingin membunuh Teddy saat itu juga.
"Sejak kapan, Guru BP bertanya soal privasi anak didiknya? Apa tidak ada kerjaan lain selain mengurusi Arsy?" tanya Arsy dengan nada suara yang agak meninggi.
"Bukan ingin mengetahui privasi anak didiknya. Kalau perlakuan saya ke kamu itu lebih, karena anggung jawab saya terhadap kamu, Arsy. Apa yang kamu lakukan di sekolah ini, saat ini dalam pantauan saya," ucap Teddy pelan hanya mengingatkan.
__ADS_1
"Arsy bukan anak kecil yang harus di pantau terus. Arsy bisa menjaga dri Arsy dengan baik," ucap Arsy tegas.
"Oke. Kamu memang bisa menjaga diri kamu sendiri. Tapi ... Apa kamu lupa? Kamu itu sudah menjadi tanggung jawab saya, karena kamu adalah tunangan saya dan sebentar lagi akan menjadi istri saya," ucap Teddy semakin tegas.
Tatapan Arsy semakin tajam ke arah Teddy. Tapi, Sama sekali tak membuat Teddy takut atau mengalah dalam hal ini.
"Arsy gak butuh tanggung jawab dari Pak Teddy. pertunangan kita hanya perjodohan saja. Satu hal lagi, Bismo itu pacar Arsy. Jadi, tidak ada salahnya jika Arsy itu jalan bareng sama Bismo," ucap Arsy pelan.
Teddy melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya begitu lekat ke arah Arsy.
"Mau kamu begitu? Mau kamu ini semua hanya sekedar? Bukan mencari cara bagaimana agar kita bisa mengenal dekat lagi satu sama lain? Kamu maunya kita tetap seperti orang asing? Begitu Arsy?" tanya Teddy lembut tanpa mengintimidasi.
Arsy terdiam. Ia tak bisa menjawab apapun. Teddy tidak memiliki kesalahan papun yang harus di lampiaskan karena kekesalan dan kekecewaannya.
"Gimana? Kamu tak mau menjawab? Kamu tahu apa arti cincin yang melingkar di sana? Itu tanda kita saling memiliki satu sama lain, Arsy," ucap Teddy hanya ingin mnegingatkan Arsy.
"Arsy belum isap untuk hal ini, Pak. Arsy masih ingin bebas bermain dnegan teman -teman di masa muda Arsy," ucap Arsy tegas.
"Kamu pikir, Saya akan melarang kamu? Tidak kan? Ya, sudah kalau kamu tidak siap. Ini ponsel kamu dan ini kunci mobil kamu," ucap Tedy pelan sambil menyodorkan kunci mobil dan ponsel Arsy di meja.
"Terima kasih Pak." jawab Arsy pelan.
Arsy pun berdiri dan berjalan menuju pintu ruang BP itu. Tedddy hanya menatap gadis belia yang akan menjadi istriny aminggu depan itu.
Teddy hanya berpikir, Arsy memang belum siap. Ia hanya butuh waktu untuk bisa menerima perjodohan ini dengan baik. Menurut Bunda Bella, calon Ibu mertuanya tadi pagi menasihati. Arsy itu harus di lembutin, di baikin maka anak itu akan lebih baik lagi dan menurut.
"Hati -hati ARsy," ucap Teddy saat Arsy sudah membuka pintu ruang BP itu dan akan pergi meninggalkan ruangan BP tersebut.
tanpa menoleh dan tak menjawab ARsy keluar dan menutup kembali raungan itu. Arsy meleangkahkan kakinya pelan sambil menggenggam ponsel dan kkuncimobil di tangannya. Ia tak tahu harus bagaimana. Arsy masih sayang dengan Bismo. Cinta monyet itu benar -benar sudah membuatkan Arsy.
__ADS_1