
Teddy menatap Arsy lekat. Lalu memegang kedua tangan Arsy dan di cium dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sudah jujur. Terima kasih sudah cemburu sama Mas. Itu tandanya kamu sayang dan cinta sama Mas," ucap Teddy pelan sambil memencet hidung Arsy dengan gemas.
"Memang Arsy cinta. Kalau gak cinta gak di cemburuin. Gak bakal di tangisin juga," ucap Arsy lirih.
"Gadis pintar," ucap Teddy tertawa.
"Mas marah? Soal tadi? Arsy memang sengaja melakukan itu. Arsy gak suka Mas Teddy di pegang -pegang orang lain. Walaupun itu cuma tangan dan perempuan lagi. Mana Arsy tahu trek record perempuan itu yang jelas -jelas menyukai Mas Teddy. Rasanya gak enak tahu. Nyesek," ucap Arsy menunjukan rasa kesalnya.
"Gak marah kok. Mana bisa, Mas marah dengan orang yang Mas sayangi. Apalagi ia membela harga diri Mas agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang besar. Tapi ... inget nih baik -baik. Kamu jangan mengulangi lagi hal yang sama seperti tadi. Cukup panggil Mas dan Mas tentu paham," ucap Teddy menasehati.
"Iya Papah," ucap Arsy melucu. Ia menggunakan suara anak kecil untuk menirukan suara kedua anak kembar nya kelak kala memanggil papahnya.
__ADS_1
Skip ...
"Loe kenapa sih? Malu -maluin aja," ucap teman Ivana saat berada di teras depan dan berusaha mengelap pakaian putih Ivana.
Ivana hanya mendengus kesal. Ia tahu istri kecil Teddy itu sengaja melakukan semuanya. Ia adalah otak dari semua akar masalah ini.
"Loe tahu. Tadi itu bininya Teddy. Lihat aja, suatu hari gue bales," ucap Ivana kesal.
"Memang. Gue belum ikhlas melepas Teddy. Gue dulu sama Lina dekat sama Teddy. Dan loe tahu kan? Gue yang berhasil dekat dan akrab. Gue ungkapin perasaan gue saat mau lulus. Tapi ... Teddy keras menolak," ucap Ivana pelan mengenang saat kejadian buruk itu terjadi.
"Terus? Loe mau mereka hancur rumah tangganya karena loe? Loe tahu kan resikonya apa? Loe bakal di anggap pelakor!! Loe bakal di anggap simpanan!! Loe bakal di anggap sebagai lerusak rumah tangga orang. Status sosial loe yang jadi jaminan. Lebih baik loe urungi niat buruk loe itu," titah teman Ivana dengan tegas.
"Gue udah gak peduli. Gue benci!! Benci banget!!" ucap Ivana keras.
__ADS_1
Skip ...
Malam ini suasan tumah besar keluarga Teddy sudah mulai sepi. Semua tamu undangan sudah pulang ke rumah masing -masing. Saat ini aemua pendekor dan tim katering sedang membersihkan rumah besar Teddy.
"Mas ... Lusa jadi berangkat kan? Kita tinggal serumah sama Bunda Bella saja?" ucap Arsy meminta dengan nada memohon.
Teddy membuka kemejanya dan menghampiri Arsy yang duduk manis di depan cermin kaca riasnya. Arsy sudah mengganti pakaiannya dengan daster lebar tanpa lengan dan tanpa pakaian dalam.
Selama hamil, Arsy lebih suka membuka pakaian dalamnya karena kalau di pakai terasa sangat sesak sekali.
Tangan Teddy mengulur ke depan dada Arsy lewat bahu Arsy.
"Kapan kita mandirinya? Kalau selalu ikut orang tua. Gak di sini, gak di London. Mas sudah punya tempat tinggal sendiri dan bukan apartemen. Rumah yang mungil dan ada di pinggiran kota agar tak terlihat sangat padat dan ramai. Arsy pasti butuh ketenangan dan kenyamanan agar tidak stres.
__ADS_1