
Kedua mata Nada bergerak - gerak dan akhirnya membuka perlahan. Pandangannya masih sedikit kabur dan Nadaberusaha membuka lebih besar lagi kelopak matanya agar bisa mengedarkan pandangannya di mana ia berada.
Setelah beberapa hari tak sadarkan diri. Nada kini berada di sebuah gubuk tua yang sedikit reyot dengan lantai yang masih berupa tanah liat.
Nada melihat ke sekeliling. Gubuk itu nampak sepi sekali dan hanya di terangi lampu bohlam berwarna kuning yang sudah sedikit redup. Gubuk yang tidak terawat, banyak sarang laba - laba di sekitarnya.
"Aku dimana?" tanya Nada pada dirinya sendiri sabil berusaha bangun dari tidurnya. Nada berusaha bangkit dan bersandar pad salah satu tiang dipan yang ia pakai untuk tidur sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
Tubuhnya masih terasa kaku dan nyeri di beberapa bagian. Nada menyibakkan selimut yang terbuat dari kain jarik yang sudah lusuh dengan gambar burung garuda. Ia melihat kakinya yang terasa sakit sekali. Celana piyama itu di gelungnya hingga ke tas lutut. Lebam biru nampak jelas di sekitar mata kakinya yang memang terasa sangat sakit sekali.
Nada mencoba untuk turun dan berjalan keluar dari gubuk itu dan mencari pertolongan atau melihat keadaan sekitar. Ia berada dimana sebenarnya.
Kakinya sudah turun dari dipan dan menyentuh tanah liat itu tanpa alas kaki. Rasanya begitu genbur, empuk dan dingin.
Baru saja satu kakinya melangkah keluar kamar itu, terdengar suara teriakan yang begitu melengking dan keras.
"Mau kemana?" tanya seorang Nenek yang beridir di sudut ruangan. Ia baru saja masuk ke dalam rumah untuk mencari rempah - rempah sebagai obat.
Degub jantung Nada begitu keras berdetak mendengar suara teriakan itu dan sedikit ragu menoleh ke arah asal suara. Nada takut, masih terngiang dalam ingatannya saat ia d kejar oleh dua makhluk aneh yang menyeramkan.
"Aku di sini di sebelahmu," ucap Nenek itu yang tiba - tiba sudah berada di sebelah Nada.
Betapa terkejutnya Nada dan berteriak sambil memundurkan langkah kakinya.
"Arghh ... Ampun. Jangan sakiti saya, Nek. Saya mohon. Saya mau pulang saja, Nek," ucap Nada dengan suara keras.
__ADS_1
Ia benar - benar ketakutan. Tubuhnya sedikit bergetar karena cemas dan panik. Rasa takut dan khawatir akan di sakiti masih terpikir di dalam otaknya. Peluhnya muncul begitu banyak, badannya semakin gemetar.
"Jangan takut, Nyai orang baik," ucap Nyai itu pelan dekat wajah Nada.
Nada menatap ke arah bawah. Ia hanya ingin memastikan bahwa Nenek ini benar - benar manusia dan bukan hantu.
Kedua kaki Nenek itu memang menapak dn memaka selop kayu khas jaman dulu. Dengan kain jarik berwarna cokleat tua dan stagen berwarna merah di tutup dengan kebaya brokelat berwarna senada. Rambutnya di gelung hingga menyerupai sanggul dengan tusukan konde yang terpasang cantik di atas kepalanya dengan mote besar brwarna putih kemilau.
Nada berusaha tenang dengan menarik napas yang sangat dalam. Perlahan di hembuskan melalui rongga hidungnya.
"Ma - maaf Nek. Saya masih takut soalnya. Saya di mana, Nek?" tanya Nada yang masih sedikit takut. Ia sanagt gusar, takut tidak bisa kembali ke rumahnya lagi.
"Jangan panggil aku, Nenek. Panggil aku, Nyai Konde," ucap Nyai Konde tegas.
Nyai Konde paling tidak suka di panggil Nenek. Ia selalu merasa dirinya masih muda dan belum tua. Jika berkaca, ia merasa masih sangat cantik saat ia terkenal dulu.
"Duduklah dulu. Biar kaki kamu, Nyai obati," ucap Nyai Konde. Memang benar, walaupun sudah terlihat tua, Nyai Konde masih memiliki jiwa yang muda dan begitu terlihat lincah.
Nada pun menuruti perkataan Sang Nyai. Ia duduk di amben yang ada di ruangan itu. Amben yang terbuat dari bambu, terlihat kokoh dan kuat. Kaki Nada memang terasa sangat sakit sekali.
"Selonjorkan kakinya, biar di beri rempah - rempah ini. Biar kamu cepat sembuh dan bisa menyanyi lagi," ucap Nyai Konde dengan suara pelan.
Nada menyelonjorkan kakinya dengan tubuhnya yang setengah berbaring bersandar pada sandaran amben.
Kakinya hanya di beri ramuan dedaunan yang katanya rempah - rempah dan terasa dingin di kaki.
__ADS_1
Nyai Konde berjalan menuju meja makan dan memebuka tudung saji yang menutupi makanan di dalamnya. Ada semngkuk bubur yang terlihat masih panas dan minuman seperti teh hijau. Lalu berjalan lagi ke arah Nada.
"Makan dulu, biar Nyai suapi. setelah ini kamu akan merasakan tubuhmu lebih bugar dan hilang dari rasa sakit, pegal dan nyeri yang saat ini kamu rasakan. Dan luka lebam di kakimu itu juga akan menghilang," ucap Nyai Konde.
Nada hanya bisa mengangguk pasrahdan menerima suapan bubur dari Nyai Konde.
"Saya ada di mana, Nyai?" tanya Nada dengan sopan sambil mencoba menelan bubur rasa jamu itu. Sebenarnya Nada tidak terlalu suka dengan bau bauan rempah - rempah dan jejamuan. Mual di perutnya. Tapi dmei kesembuhan kakinya, Nada hanya menurut saja dan mencoba menikmati semua yang di berikan oleh Nyai Konde.
Nyai Konde itu hanya tertawa terbahak - bahak. Suaranya begitu keras dan terdengar melengking. Nada hanya menatap Nyai Konde dengan tatapan bingung.
"Kenapa tertawa, Nyai? Memang ada yang lucu? Pertanyaan saya kan tidak lucu? Hanya bertanya saat ini saya ada di mana?" tanya Nada pelan. Ia maah semakin bingung dengan semua rentetan kejadian yang di alaminya. Apakah ini ada hubungannya dengan desa terkutuk itu?
Nada hanya bisa bergidik ngeri membayangkan hal - hal negatif yang akan ia terima nantinya. Atau memang saat ini sudah di mulai?
"Makan dan habiskan, sebelum aku menceritakan semuanya," ucap Nyai Konde itu dengan suara yang tegas. Tatapan kedua matanya tak hanya lekat tapi terlihat sangat tajam seklai.
Nada hanya merasa memang ada sesuatu yang tidak beres sejak saat ia terbangun. Nada berusaha mengingat semua ucapan, dan kejadian, mungkin ada hal janggal yang bisa di jadikan sebuah jawaban dari semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya.
"Coba rasakan. Kaki kamu masih masih?" tanya Nyai Konde itu sambil membuka dedauan yang tadi menutupi sebagian mata kaki dan telapak kaki Nada.
Benar sekali, luka lebam biru itu menghilang. Kakinya pun tak terasa sait lagi. Nada memutar pelan pergelangan kakinya dan merasakan kakinya benar - benar sudah sembuh.
"Sudah tidak sakit lagi, Nyai," ucap Nada pelan. Ia juga terheran - heran semua begitu cepat sekali hilang rasa sakitnya dan juga luka membiru itu.
Nyai Konde itu tersenyum lebar tanpa suara yang melengking.
__ADS_1
"Kamu sudah siap mendengarnya?" tanya Nyai Konde kepada Nada.