Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PERMINTAAN MAAF TANPA DI TOLAK


__ADS_3

"Mas gak lagi bohong sama Arsy, kan?" tanya Arsy dengan tatapan tjam ke arah Teddy yang sama sekali tak paham.


Teddy memang tidak mengerti apa yang di maksudkan Arsy karena ia sama seklai tak meakukan hal yang mnerutnya tidak baik. Tapi, membawa pulang bersama Ivana dalam satu mobil itu merupan bencana besar bagi dirinya sendiri secara tidak sadar.


Seorang perempuan itu selalu memiliki insting yang kuat. Terkadang sudah di tutup rapa saja, bisa terkuak, apalagi ini jelas nyata, ada wangi lain di pakaian Teddy. Tentu pri itu tak bisa mnegelak.


"Mas gak bohong. Memang Mas sekalian bawa teman Mas. Namanya Ivana, dia teman Mas semasa SMA, dan dia yang sedang meng -audit semua laporan keuangan di kantor," ucap Teddy jujur.


"Owh ... Jadi, namanya Ivana. Sampai lupa sama Arsy yang kelaparan? Ini di dalam perut kamu ada anak kamu, Mas. Kamu tahu, ini yang buat Arsy gak mau hamil. Ya ini? Arsy merasa blum kenal Mas dnegna baik. Kita hanya di jodohkan!!" teriak Arsy yang terlihat masih labil.


Mungkin hormon ibu hamil, di tambah perut kosong, Arsy meluapkan emosinya.


Teddy tersentak kaget. Nada bicara Arsy berbeda dari biasanya. Tak pernah sekali pun Arsy membentak dan berbicara denan suaa keras serta lantang seperti ini.


Dada Arsy terlihat naik turun, napasnya memburu begitu sesak menahan emosinya sejak siang. Istri mana yang tak kesal, sejka siang tak bisa di hubungi, padahal ponsel aktif. Chat sejak siang pun sama seklai tak di buka.


"Bukan begitu Arsy. Maafkan Mas. Tak mengabari bukan berarti mengabaikan. Mas memang sedang pusing dengan urusan kantor," ucap Teddy pelan. Langkahnya berjalan menghampiri Arsy yang masih berdiri di dekat meja rias.


Tatapan Arsy semakin tajam dan sengit. Rasanya Arsy semakin benci pada suaminya ini. Entah ini karena hamil, atau memang sedang di rundung rasa kecewa yang amat dalam.


"Maaf? Mudah ya, bilang maaf. Tak mengabari bukan berarti mengabaikan? Itu kata Mas Teddy? Terus, Mas anggap Arsy ini hanya boneka? Patung? Yang hanya menunggu Mas memberikan makanan. Sejak siang Arsy belum makan," Arsy semakin murka.


"Iya maaf. Mas salah. Sekarang Mas mau buat indomie seperti permintaan kamu. Maafkan Mas, Sy," ucap Teddy dengan penuh penyesalan. Teddy memeluk Arsy. Ia tahu istri labilnya ini hanya kecewa padanya, seharian merasa di diamkan dan tak di anggap.


Teddy merangkul Arsy dan membawanya ke dapur dan di dudukkan di meja makan. Dengan cepat Teddy memeaki celemek dan menyalakan kompor lalu memasak air dalam panci kecil.

__ADS_1


Teddy memebuka kulkas dan mengabil satu bungkus mie goreng, dengan beberapa sayuran seadanya, cabai, telur, sosis dan udang.


Semua bahan sudah di cuci bersih dan di potong serta di campur dalam satu panci agar matang. Teddy juga membuat nugget goreng sebagai teman cemilan.


Masakannnya sudah matang. Semua bumbu sudah di campur menjadi stau dalam piring agak besar. Begitu juga dengan gorengan nugget.


"Silahkan di makan tuan putri," ucap Teddy pelan. Ia mengambilkan sendok garpu untuk istrinyadan juga air putih.


Wanginya sudah tercium sangat enak saat smeua bahan di rebus menjadi satu. Dengan lahap, Arsy pun menikmati satu piring mie goreng lengkap dengan sayur dan udang. Tidak sampai lima menit satu piring indomie itu ludes tak bersisa dan berpindah ke perutnya. Belum lagi Arsy masih mengunyah nugget ayam yang terlihat enak dan renyah di meja.


Teddy hanya menatap ibu hamil yang nampak kelaparan dan terlihat menjadi sangat rakus.


"Enak?" tanya Teddy yang sejak tadi hanya melihat Arsy makan dnegan nikmat. Ingin rasanya tadi mencicipi, tapi Teddy urungkan. Kali ini bukan saatnya bercanda dnegan Arsy. Mood Arsy sedang tidak baik.


Teddy hanya menarik napas dalam. Ia mencari cara agar Arsy mau memaafkannya. Karena sikap Arsy masih terlihat malas emlihat Teddy.


"Sy. Kita mau ke klinik dokter Effendy? Kita periksa kandungan kamu dulu," titah Teddy yang kini berjalan tepat di belakang Arsy yang masuk ke dalam kamar kembali.


Arsy tak menjawab. Arsy malah mengambil satu kotak cokelat bali rasa susu untuk di nikmati sebagai pencuci mulut. Pertanyaan Teddy hanya di dengar tanpa di jawab. Arsy hanya ingin Teddy tahu. Bagaimana rasanya di abaikan dan tak di anggap.


Arsy berjalan ke tempat tidur dan duduk di tepi ranjang sambil membuka kotak cokelat itu. Satu kota kecil demi satu kotak kecil Arsy nikmati saat cokelat itu benar -benar lumer di mulutnya.


Teddy mendekati Arsy. Ia masih berusaha mebujuk dan merayu Arsy yang sdeang kesal. Teddy berjongkok tepat di depan Arsy sambil memeluk pinggang Arsy. Wajah tampan Teddy berada tepat di pangkuan Arsy menghadap ke arah perut Arsy. Sesekali kepala Teddy mengendus pelan perut Arsy hingga Arsy sedikit terasa geli.


"Sayang ... Anak Papah. Mamahnya lagi marah nih. Maafin Papah ya, Nak. Papah memang sibuk kerja, buat kamu juga, beli susu, beli cokelat, beli apapun yang kamu dan Mamah kamu mau. Papah bukan mengabaikan tapi memang sibuk. Mau maafin Papah gak? Papah janji akan terus ada buat kamu dan Mamah," ucap Teddy pelan sambil memeluk erat pinggang ARsy dan menciumi perut Arsy yang tertutupi dnegan daster.

__ADS_1


Arsy masih nampak cuek. Hanya terasa hembusan napas kasar yang terbuang dari indera penciumannya.


Tangan Teddy kini memegang dagu Arsy yang masih mengunyah cokelat yang sudah di letakkan di nakas. Terlalu banyak cokelat juga rasanya eneg.


"Istri cantik Mas, masih marah? Masih kecewa? Mas harus gimana? Biar kamu bisa senyum lagi seperti biasa. Mas hanya ingin lihat kamu bahagia, ceria dan tersenyum," ucap Teddy yang masih berusaha mencoba merayu Arsy.


Arsy masih diam.


"Sayang. Lihat Mas dong," ucap Teddy yang agak berdiri dan mensejajarkn wajahnya dnegan wajah Arsy yang kini saling bertatapan.


Kedua mata Arsy memutar dengan malas dan melepas pandangan itu ke arah lain. Rasanya masih kecewa di abaikan seperti itu.


Dagu Arsy di pegang oleh Teddy dengan lembut. Teddy menata lekat kedua mata Arsy yang berusaha menghindari tatapan Teddy.


"Masih marah?" tanya Teddy pelan. Wajah keduanya begitu sangat dekat sekali.


Arsy hanya diam seribu bahasa. Arsy sama seklai tak menjawab. Sesekali Arsy menarik napas dan memejamkan kedua matanya agar tak saling bertatapan.


"Mas gak akan bosan meminta maaf sama kamu, Sy. Sampai kamu benar -benar memaafkan Mas. Mas benar -benar menyesal. Mas minta maaf sudah buat kamu sedih, Sy. Mau kan maafin Mas?" tanya Teddy pelan.


Teddy terus menatap Arsy. Perlahan di kecup bibir mungil itu dengan lembut, hingga membuat kedua mata Arsy terbuka karena terkejut. Keduanya saling berpandangan dan Teddy tetap mencium lembut bibir Arsy semakin dalam. Mungkin dengan cara ini, hati Arsy sedikit luluh. Terkadang wanita bisa memaafkan jika ia merasa di cintai dan di hargai. Tunjukkan saja rasa sayang kamu sebagai lelaki yang benar mencintai perempuan yang saat ini ada bersamamu.


"Mas sangat sayang kamu, Arsy," ucap Teddy lirih dan melanjutkan kembali tautan bibirnya.


Arsy hanya diam tak berkutik hingga tubuh Arsy di rebahkan di kasur pun Arsy hanya diam. Tubuhnya hanya menurut dan tak berontak.

__ADS_1


__ADS_2