
Ucapan ketus Arsy hanya mendapat senyuman dari Teddy.
"Mau ambil makan ah ...." ucap Teddy pelan.
Kedua mata Arsy membola. Perutnya sejak tadi juga sudah bernyanyi meminta untuk di isi. Tapi apalah daya Arsy yang sedang memakai kebaya dan kain panjang hingga menyulitkan ia untuk berjalan ke sana kemari.
Teddy pun bergegas ingin menuruni pelaminan dan mencari makanan serta minuman.
"Pak ...." panggil Arsy dengan suara pelan.
Teddy sengaja diam dan mengabaikan panggilan Arsy.
"Pak ... Arsy juga lapar." ucap Arsy kemudian. Arsy sebenarnya malas meminta tolong di ambilkan makanan oleh Teddy. Tapi mau bagaimana lagi perutnya sudah benar -benar lapar dan Bunda Bella sedang sibuk dengan para tamu.
"Mau makan juga?" tanya Teddy yang merasa tak tega. Walau bagaimanapun Arsy adalah istrinya, wanita yang selama ini ia sayangi.
Arsy mengangguk pasrah. Mau tidak mau, ia harus mengalahkan egonya untuk lebih bersikap menghormati kepada Teddy yang kini bukan saja guru bagi dirinya melainkan telah SAH menjadi suaminya.
__ADS_1
"Mau." jawab Arsy singkat tanpa mencari masalah.
"Oke. Saya ambilkan. Tunggu di sini ya. Duduk saja," pinta Teddy pelan.
Teddy pun segera turun dari pelaminan menuju ruangan yang sudah di penuhi dengan berbagai sajian makanan sebagai acara resepsi pernikahannya.
Tak lama, Teddy pun kembali dengan membawa satu piring besar yang berisi nasi dan lauk pauk dan segelas air di tangan kirinya.
"Kok cuma satu? Ini buat Arsy?" tanya Arsy pelan sambil menerima piring berisi nasi itu. Perutnya benar -benar terasa sangat lapar dan ingin segera menghabiskan semuanya.
"Arsy sanggup kok menghabiskan semuanya. Gak percaya?" ucap Arsy ketus dan mulai menyendokkan makanan ke sendok lalu di suapkan ke dalam mulutnya.
Dengan sangat lahap, Arsy menyuapkan satu sendok demi satu sendok ke dalam mulutnya.
Teddy hanya menatap Arsy dengan tatapan tak percaya. Gadis yang ia kira lembut, alim dan manja. Ternyata, saat ini terlihat bar -bar dan beringas karena kelaparan.
"Enak?" tanya Teddy pelan.
__ADS_1
"Enak pake banget," jawab Arsy dengan suara ketus. Ia terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Arsy?" panggil Bunda Bella dari bawah ynag melihat anak gadisnya makan dengan cara yang kurang sopan.
"Iya Bunda," jawab Arsy pelan sambil menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Cara makan kamu tidak begitu. Itu ada tempat khusus untuk kalian makan. Tidak seperti ini. Memalukan," ucap Bunda Bella yang nampak kecewa dengan sikap Arsy.
"Ya Bunda. Maaf. Ini Pak Teddy yang ngasih," ucap ARsy melempar kesalahan kepada Teddy.
Bunda Bella pun menatap Teddy dengan lekat.
'Ti -tidak Bunda. Tadi Arsy bilang lapar. Jadi saya ambilkan makanan. Kasihan wajahnya agak pucat," jawab Teddy membela Arsy.
"Arsy. Kamu harsu bisa lebih menjaga sikap kamu. Ini tempat publik dan kamu di lihat banyak orang. Terus, kamu harus sopan dnegan Nak Teddy. Dia sekarang suami kamu. Tanggung jawab kamu semua ada pada Nak Teddy, sudah bukan tanggung jawab Bunda dan Papah," tegas Bunda Bella menasihati.
Arsy hanya mengangguk pasrah. Dia tidak berkutik lagi saat Bunda Bella menasihatinya. Arsy masih tidak percaya akan hari ini. Statusnya yang masih pelajar, harus berubah menjadi istri dari seorang gurunya sendiri.
__ADS_1