Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
UNGKAPAN DARI HATI YANG PALING DALAM


__ADS_3

Cukup lama Teddy membawa Arsy menikmati jalanan yang lengang dan semilir angin di siang hari. Teddy sengaja melewati jalan lain yang memiliki pemandangan bagus.


"Indah ya?" ucap Arsy lolos begitu saja dari bibirmya.


"Sama kayak kamu, Sy. Kamu juga indah, Mas bangga punya kamu," ucap Teddy dengan suara semakin keras dan lantang.


Ucapan Teddy barusan membuat hati Arsy terasa 'nyess' dan berdesir di sekujur tubuh. Ada rasa senang dan bangga di puji seperti itu. Arsy benatr -benar menjadi seorang wanita yang paling beruntung di dunia memiliki suami yang begitu baik, lembut, dan tak pernah macam -macam.


Tanpa menjawab ungkapan yang di rasakan Teddy saat ini. Arsy hnaya mengeratkan pelukannya hingga terasa tak mau berpisah dan tak mau di tinggalkan.


"Mas ...." panggil Arsy pelan dari balik punggung Teddy.


"Ya. Apa?' tanya Teddy pelan.


"I love u," ucap Arsy spontan sambil menunjukkan bentuk jari tanganya membentuk sarangheo kepada Teddy.


Teddy pun membalas, "Love u too, Arsy. Tetap di sisi Mas, apapun yang terjadi."


Hanya itu ucapan permintaan Teddy seolah mengisyaratkan sesuatu hal akan terjadi di kemudian hari.


Teddy menepuk pelan dan mengusap punggung tangan Arsy yang melingkar di perutnya.


Suasana yang begini rasanya tak ingin berakhir begitu saja. Jarang -jarang mereka me time seperti ini.


Motor gede itu sudah masuk ke sebuah cafe gelato di ujung jalan pusat kota. Banyak mata memandang ke arah pasangan baru ini dengan iri. Beberapa orang lagsung berbisik. Ada yang berbisik senang melihat keduanya dan ada pula yang berbisik tak suka dengan gaya manja Arsy yang sok genit dengan Teddy.


Arsy sudah berdiri tepat di depan Teddy ayng sedang membukakan pengait tali helm.


"Makasih Mas," jawab Arsy lirih saat tali helm itu terlepas. Rasanya lega sekali, saat kepalanya mulai terkena angin. Memakai helm memang terasa sedikit berat dan engap. Setuju?


"Sama -sama sayang," jawab Teddy pelan sambil meletakkan helm Arsy di atas jok motornya.


Pandangan Arsy mengedar di tempat yang indah itu. Arsy blum pernah ke tempat ini sebelumnya. Padahal, cafe gelato ini sudah ada sejak satu tahun yang lalu. Namun, jarak yang agak jauh, membuat banyak orang agak malas ke sana. Cukup ramai juga, walau di siang hari. Penataan cafenya juga bagus dan sangat tepat.


Tiba -tiba Teddy menggandeng erat tangan Arsy dan berjalan masuk ke dalam cafe itu. Genggaman tangan yang begitu erat dan tampak sangat mesra sekali.

__ADS_1


"Ayok kita masuk," titah Teddy pelan sambil melirik ke arah Arsy yang juga sedang menatapnya kaget.


Hari ini benar -benar membuat Arsy semakin di buat mabuk kepayang dengan perlakuan Teddy yang begitu manis dan mesra hingga keromantisannya membuat orang lain yang melihatnya iri.


"Mas ... Kok banyak yang lihatin kita?" tanya Arsy setengah berbisik sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Tubuh Teddy yang menjulang tinggi dan Arsy hanya berukuran mini sedikit di bawah bahu Teddy. Agak jompalng memang, tapi tetap terlihat unyu -unyu.


"Biarin saja. Kamu mau gelato rasa apa?" tanya Teddy yang sudah berdiri di depa etalase besar berisi berbagai macam rasa gelato.


Mulai dari cup kecil hingga besar dnegan pilihan toping yang bisa di pilih sesuka hati dan sesuai selera. Ada rasa tiramisu, rasa double black, rasa oreo, rasa black forest dan masih banyak lagi.


Arsy begitu terpana hingga melepaskn genggaman tangan Teddy yanag sejak tadi menggenggam erat. Kedua tangannya kini memgang etalase besar yang dingin itu. Mirip seperti anak kecil yang begitu bahagia ingin di belikan gelato oleh Ayahnya.


"Kamu suka?" tanya Teddy pelan kepada Arsy yang masih sibuk memilih. Rasanya ingin di cicipi semua dan jangan sampai ada yang terlewat. Lidahnya sudah kemecer bergetar ingin segera menikmati gelato itu.


Arsy menoleh ke arah Teddy dan mengangguk pasrah.


"Suka banget Mas. Pengen semua. Bisa gak sih campur semuanya?" tanya Arsy memohon dengan mata berbinar menunjukkan rasa inginnya itu.


"Kmau pengen semua?" tanya Teddy mencoba memastikan ucapan ARsy. Maklum ibu hamil suka labil keinginannya. Setiap detik bisa berubah moodnya.


Biasanya keinginannya selalu di kabulkan oleh Teddy. Tapi enath dengan permintaannya kali ini. Walaupun sednag hamil, memangnya cafe bisa meberikan begitu saja, tetap ada aturan khusus yang di buat. Misalnya saja, hanya boleh mencampur tigasrasa gelato saja.


"Kita duduk dulu yuk? Cari tempat duduk di sana, dan Mas akan pesankan untuk kamu," ucap Teddy pelan.


Teddy memilihkan tempat yang sedikit terbuka dengan atap fiberglas bening. Dengn peandangan danau buatan yang sangat indah. Tidak hanya itu, ada mainan bebek -bebekan yang di kayuh dan ad jembatan gantung untuk mencapai kebun bunga di seberang danau.


"Wahhh ... Bagus banget sih, Mas?" ucap Arsy pelan dan duudk memandangi semuanya dengan takjub.


"Mas ke dalam dulu pesen geltonya," ucap Teddy pamit.


Arsy pun mengangguk kecil dan tersenyum kepada Teddy.


Ia benar -benar bahagia sekal hari ini. Tak terasa waktu kebersamaan itu pun akan segera berakhir. Tidak sampai dua jam lagi, mereka akan berpisah dalam ruang dan waktu. Rentang jarak beratus -ratus bahkan beribu kilo meter pun harus di hadapi dnegan senyuman tulus dan rasa ikhlas. Keduanya harus berjuang melawan rindu yang terus membara. Mereka baru saja merasakan cinta dan kasih sayang dengan memberi dan menerima.


"Ini dia ... Gelato aneka rasa khusus buatan Mas untuk kamu, Sayang. Tidak lupa semua toping tumpah ruah dan lihat, ini bukan wadah besar tapi big jumbo khusus untuk wanita istemewanya Mas," ucap Teddy dnegan suara keras dan tatapan penuh kasih sayang. Tak luput dari penglihatan Arsy senyum tulus itu terbit dan tak berhenti menghiasai wajahnya denga lesung pipi yang semakin terlihat manis makhluk ciptaan Tuahn yang ada di depan Arsy ini.

__ADS_1


Semua orang bertepuk tangan dengan riuh seklai melihat pasangan pengantin ini saling mengungkapkan rasa syukurnya karena mereka berdua saling memilki satu sama lain.


"Mas malu ...." ucap Arsy liruh sambil menundukkan kepalanya. Ia malu semua mata mengarah pada dirinya.


"Ambil ambil ambil ambil ...." semua orang teriak agar Arsy mengambil hadiah yang di pegang oleh Teddy. Namun Arsy tak paham karena tak berani kontak mata dnegan Teddy yang berjarak sangat dekat sekali.


Suara orang -orang membuat Arsy mendongakkan kepalanya dan menatap apa yang ada dalam tangan Teddy selain mangkuk jumbo itu yang ternyata sudah di letakkan di meja. Kini, satu tangan Teddy memegang satu ikat bunga mawar merah dengan hadiah berupa kotak kecil.


Suasana makin riuh dnegan tepuk tangan, siulan dan teriakan semua pengunjung yang merasa terhanyut ikut bahagia melihat keduanya saling malu -malu kucing berpandangan.


"Mas ...." hanya kata itu yang terucap dari bibir Arsy.


"Ambilah Sayang. Ini untu kamu. Bukti rasa sayangku untuk kamu, bukti kalau aku bahagia bisa memiliki kamu seutuhnya, bukti bahwa aku senang, akhirnya kita akan memiliki keturunan," ucap Teddy dengan rasa haru.


Perjuangannya tidak mungkin sampai di sini untuk sembuah pembuktian bahwa pernikahan atas perjodohan itu bisa bahagia.


Pelan langkah kaki Arsy berjalan menuju tempat Teddy berdiri hingga mereka sangat dekat dan hanya tersisa jarak satu jengkal saja. Buket mawar merah itu di ambil Arsy. Ia juga tak bisa menahan rasa harunya, kedua matanya basah.


"Ini untukmu," ucap Teddy menyodorkan kotak kecil itu.


Arsy pun mengambil dan membukanya dan ....


"Cincin pernikahan kita?" tanya Arsy pelan.


Teddy mengangguk kecil.


"Jangan sampai hilang lagi. Jangan teledor lagi. Jangan pernah di lepas lagi, Sayang. Janji sama Mas, untuk tidak melepas cincin pernikahan kita lagi," titah Teddy kepada Arsy.


Arsy menangis sejadi -jadinya. Ia merasa bersalah telah menghilangkan cincin pernikahan itu dan dengan sangat baik, Teddy menggantinya tanpa ada rasa kecewa dan marah.


Arsy pun langsung memeluk Teddy dengan erat.


"Maafin Arsy ya, Mas. Maafin Arsy yang ceroboh, teledor dan masa bodoh. Bantu Arsy untuk bersikap lebih baik lagi. Arsy sayang sama Mas Teddy," ucap Arsy terbata. Dadanya sesak, mengingat semua kebaikan Teddy selama pernikahannya dua bulan ini.


Sebagai suami, Teddy tak ada cacat sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2