
Wulan tersadar dari mimpi buruknya. Rasanya seperti nyata sekali hingga ia membuka perlahan kedua matanya dan melihat posisinya masih sama. Wulan dan Bundanay amasih saling memeluk.Wulan pun tersenyum lega, semua mimpi buruk tadi hanyaalah bunga tidur saja karena mungkin Wulan terlalu bahagia malam ini sampai lupa berdoa sebelum tidur. Alhasil, ia harus mimpi buruk seperti tadi, sungguh menakutkan.
Perlahan, tangan Wulan mengusap tangan Bundanya dengan lembut sambil memejamkan kedua matnaya kembali untuk melanjutnya tidur. Rasa kantuknya masih menguasai alam bawah sadarnya.
"Kok dingin," batin Wulan di dalam hatinya.
Ia segera membuka kembali kedua matanya dan menatap wajah Bundanya yang terlihat sangat pulas sekali. Wulan menatap tangan Bundanya ayang dingin sekali dan terasa berat karena kaku. I
Wulan bangkit dari tidurnya dan menatap Bundanya yang sudah memucat wajah dan tubuhnya seperti mayat. Ia juga melihat mapasnya menghilang, biasanya dada Bunda naik turun dan ini sama sekali tidak.
Wulan bingung. Kedua mata Wulan mulai basah dan akhirnya ia menangis. Tak tahu harus bicara paa siapa dan meminta bantuan kepada siapa.
Tangan Wulan bergetar hebat melihat tubuh Bundanya yang sudah mendingin dan kaku. Entah sejak kapan Bundanya itu meninggal. Meninggalkan Wulan untuk selama -lamanya.
Wulan segera mengambil ponsel dan menelepon Arsy. Hanya Arsy yang bisa membantunya saat ini.
__ADS_1
"Angkat dong, Sy," ucap Wulan kesal. Ini memang tengah malam, mungkin semua orang sedang etrtidur pulas dan mengabaikan panggilan telepon yang penting.
"Hallo Lan," jawab Arsy yang mengangkat teleponnya masih dengan tak sadar.
"Sy ... Bunda meninggal, Sy," ucap Wulan mengadu. Ia hanya bis aduudk di pojokkan pintu kamarnya. Tahun ini adalah tahun terberat bagi Wulan.
Mendengar ucapan Wulan yang begitu mengejutkan dan suara Wulan yang bergetar hebat membuat ARsy terbangun dari tidurnya. Menyadarkan dirinya dan duduk tegak sambil mengerjapkan kedua matanya tak percaya.
"Me -meninggal? Bunda?" tanya Arsy memastikan.
"Kamu tenang. Arsy segera kesana sekarang," ucap Arsy pelan.
Skip ...
Arsy dan Mama Tina sudah berada di rumah duka. Rumah kontrakan yang kecil dengan barang seadanya.
__ADS_1
Wulan sudah berada di pelukan Arsy di ruang tamu.
Tadi sebelum berangkat, Mama Tina menasehati dan mengingatkan kalau Arsy sedang hamil, kalau bisa jangan dekat dekat dengan mayat.
Tapi, mana mungkin bisa begitu. Kasihan Wulan. Ia sedang terpuruk.
SEjak tadi Wulan tak bicara. Ia hanya menatap saat tubuh akkau Bundanya di mandikan dan di kafankan. Kini, mayat Bunda sudah siap untuk di kebumikan.
Wulan dan Arsy berjalan di belakang tandu pengangkat jenazah yang di gotong secara bersama -sama menuju tempat pemakaman umum.
"Sabar ya, Lan," ucap Arsy pelan saat Wulan masih terduduk di atas gudukan tanah merah itu. Ia menaburkan kembang berkali -kali dan terus menurunkan air matanya yang begitu deras sekali. Kedua mata Wulan sangat merah dan bengkak. Ia sudah tidak peduli lagi dengan dandanannya yang begitu kacau. Hanya memakai celana hitam dan kaos longgar berwarna hitam, dan hijab instant milik Bundanya.
Wulan tak menjawab. Arsy masih setia menemani sahabatnya itu. Mama Tina juga masih berada di sana untuk menjaga RAsy. Tak luput dari pandangan Arsy lelaki yang ia lihat kemarin di sekolah beberapa kali juga hadir di sana.
"Siapa sih, dia, sebenarnya?" batin Arsy pelan.
__ADS_1