Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.33


__ADS_3

Di Sepanjang jalan Teddy terus memukul -mukul setir mobilnya dengan kepalan tangan yang begitu kuat. Bibir bawahnya terus di gigit penuh emosi. Teddy melihat jelas apa yang di lakukan Emil yang sengaja ingin mencelakai Arsy hingga Arsy terdorong keras dan terjatuh hingga merintih kesakitan. Suara keras tubuh Arsy terjatuh itu sangat keras, wajar saja bila sesuatu terjadi denagn kedua bayi kembarnya dan akhirnya tidak selamat.


Akhir dari penantian yang sia -sia. Teddy kembali ke Kampus dan semua percuma. Kampus sudah kosong. Tidak ada satu pun mahasiswa yang masih ada untuk mengikuti kelas.


"Pak Teddy?" panggil Mega yang baru saja keluar dari perpustakaan.


Teddy menoleh ke arah belakang dan menatap Mega, teman sebangku Arsy.


"Kamu teman Arsy, bukan?" tanya Teddy menatap lekat ke arah Mega.


Mega mengangguk kecil. "Benar Pak. Saya, Mega, teman Arsy," ucap Mega sopan.


"Ekhemmm ... Bisa kita bicara sebentar?" pinta Teddy tak berpikir panjang.

__ADS_1


Mega mengedarkan pandangannya. Hari semakin sore dan sudah semakin sedikit mahasiswa yang ada di sini. Mega seperti sedikit ragu menerima permintaan teddy, dosen mata kuliahnya itu.


"Kenapa? Kamu takut? Saya ini dosen, dan saya tahu norma -norma baik. Lagi pula saya sudah menikah, jadi saya tidak akan berbuat yang tidak -tidak denagn kamu," ucap Teddy pada Mega.


"Ekhemmm ... Iyaa Pak. Kita mau ngobrol di mana? Terus ada peru apa?" tanya Mega dengan sedikit bingung.


"Soal Arsy. Kita ngobrol di kafe depan kampus, sekarang," titah Teddy pada Mega.


Mega dan Teddy berjalan menuju Kafe depan Kampus mereka. Di sana adalah Kafe yang cukup dikenal di kalangan mahasiswa dengan harga ekonomis sesuai kantong para mahasiswa.


"Jadi Pak Teddy mengajak Mega kesini ada aperlu apa?" tanya Mega sedikit ragu untuk memecah keheningan.


"Ohhh iya. Maaf. Saya sudah menikah dengan Arsy teman sebangku kamu di kelas. Tolong jaga rahasia ini," pinta Teddy dengan suara gugup dan terbata.

__ADS_1


Mega melongo tak percaya. Ternyata teman sebangkunya adalah istri dari dosennya sendiri. Pantas saja, selama ini keduanya saling menatap seeprti memiliki chemistry lain.


"Ja -jadi ... Pak Teddy suami Arsy? Lalu kabar Arsy gimana?" tanay Mega spontan menanyakan kabar sahabatnya yang tadi terjatuh di kelas.


Raut wajah Teddy langsung berubah. Kesedihan terlihat di urat wajah tampan Teddy.


***


"Gila lo, Mil. Lo gak lihat tadi Arsy terjatuh sampai bunyi gedebug gitu? Gue sih kepikiran sama kandungannya. Secara kayaknya di aagi hamil besar. Takutnya ada tuntutan dari suami atau keluarganya," ucap Dania cemas.


Emil terlihat santai dan tak merasa berdosa. Ia malah mengulum sneyum bahagia atas kejadian tadi. Melihat Arsy berteriak keras dan terus histeris karena merasakan sakit perut yang luar biasa.


"Gue sih bodo amat. Ada yang berani bilang atau angkat bicara soal kejadian tadi. Gue pastiakn orang itu angkat kaki dari dunia ini," ucap Emil penuh emosi.

__ADS_1


"Lo gak sadar? Tadi ada dosen kita lho," ucap Dania mencoba mengingatkan.


"Terus? Gue takut? Gak sama sekali Nia. Rosa, temen kita aja, bisa gue pecat dari genk ini. Apalagi dosen ganteng itu? Gue yakin gue bisa dapetin hatinya dan dia akan bungkam tentang masalah ini," ucap Emil denagn nada sombong.


__ADS_2