Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
WULAN HISTERIS


__ADS_3

Teddy pun makin menenggelamkan kepala Arsy ke dalam dadanya. Ia tak mau membuat Arsy ikut cemas dan panik akan kejadian yang di alami Wulan.


"Mas cuma pengen kamu gak berpikir yang tidak -tidak. Kita berdoa saja, semoga Wulan baik -baik saja. Oke?" ucap Teddy pelan.


"Iya Mas," jawab Arsy pelan. Arsy memeluk Teddy dengan erat. Tentu saja ia cemas dengan keadaan Wulan.


Baru juga mereka dudukndi ruang tunggu. Dokter obgyn pun keluar dari ruang IGD dengan wajah cemas.


"Dokter Teddy," panggil dokter Effendy kepada dirinya.


"Mas kesana dulu. Kamu diam di sini, ya?" titah Teddy pelan. Ia melepaskan pelukan Arsy dan verjalan menuju dokter Effendy. Keduanya nampak serius dan berbicara seolah ada hal yan penting yang tak bisa di tunda.


"Jadi. Ini yang terjadi. Minuman itu sepertinya memang dincampur oleh obat penggugur kandungan," ucap Effendy tegas.


"Berarti ia tahu takarannya? Hingga langsung keluar seperti ini? Tentu ada orang lain yang ikut campur dalam hal ini yang mengerti dengan masalah ini," ucap Teddy berasumsi.

__ADS_1


"Susah jika idola sudah menikah. Saingannya makin berat," tawa Effendy keras.


Effendy pun masuk ke dalam dan membawa Wulan ke ruang khusus untuk proses kuret. Mau tidak mau hal ini harus di lakukan. Karena janinnya sudah mati dan tak bernaywa lagi.


Suara teriakan Wulan begitu histeris terdengar hingga ke luar ruangan itu. Arsy mendengar teriakan itu pun ikut merinding. Wajahnya celingukan bingung. Ingin bertanya pada siapa. Teddy sudah masuk ke dalam ruangan bersama Effendy.


"Tenang Wulan. Sakitnya hanya sebentar. Dari pada harus menahan sakit karena janin itu tak isa keluar," titah Teddy menasehati.


"Kenapa? Kenapa harus selalu Wulan. Kenapa?"teriak Wulan keras.


Tidak mudah menerima kenyataan pahit. Dulu mungkin Wulan akan marah dan ingin menggugurkan bayi tak berdosa itu. Tapi perjalanan hodup membuat Wulan menerima dan ikhlas dengan yang ia terima selama ini. Ia mulai sayang dan mencintai bayinya. Lalu, kini harus menghilang karena sesiatu hal.


"Arsy mana? Jangan sampai Arsy seperti Wulan. Wulan akan menjaga Arsy dan kandungannya," ucap Wulan dengan cepat. Hatinya pedih dan perih saat ia tersadar dan harus kehilangan bayinya karena obat penggugur.


"Ya. Kita harus menjaga Arsy. Sepertinya ada teman Arsy yang tak menyukainya dan raju persis dengan keadaan Arsy," ucap Teddy mulai menduga.

__ADS_1


"Pak ... Arsy di mana? Bapak tinggalkan sendirian?" tanya Wulan yang tiba -tiba teringat dengan Arsy, sahabatnya.


"Ekhemm ... Ada di luar. Mau saya panggilkan?" tanya Teddy santai.


"Iya," jawab Wulan.


Teddy pun keluar dari ruangan IGD dan mencari keberadaan Arsy. Ia melihatvkursi tunggu itu sudah kosong. Tapi ... sapu tangan milik Arsy ada di sana.


"Arsy!! Kamu kemana? Arsy?" teriak Teddy dengan suara keras dan lantang. Ia mengacak rambuntnya dengan kasar. Lalu berlari ke aeah kantin rumah sakit. Mungkin saja, Arsy lapar dan haus hingga ia ingin membeli sesuatu.


Langkah Teddy sudah tak lagi di hiraukan. Ia hanya ingin cepat menemukan istri labilnya. Namun semua sia -sia. Tak ada sosok Arsy di sana. Seorang gadis dnegan pakaian seragam putih abu.


"Anda mencari siapa, tuan?" tanya seoeang satpam yang melihat kebingungan Teddy setelah kembali ke ruang tunggu itu.


Teddy menatap satpam itu dab melihat ke arah CCTV. Ya, hanya itu yang bisa memberikan jawaban akurat.

__ADS_1


__ADS_2