
Dirga, Papah Emil sangat bersikeras untuk tetap memberikan hukuman pada putrinya agar dapat memberika efek jera. Di sisi lain agar bentuk kekerasan dan bully seperti ini tidak ada lagi di kemudian hari.
"Lebih baik, ada pemanggilan dan Emil harus di beri pelajaran agar sadar bahwa tindakannay itu salah," ucap Dirga lantang.
"Baiklah. Kalau dari pihak kelurag sudah menyerahkan smeuanya pada pihak kampus, maka kami akan bertindak sesuai dengan aturan hukum," ucap dosen senior itu dengan cepat mengambil keputusan.
Teddy hanya mengangguk pasrah. Awalnya Teddy tidak berniat melakukan pelaporan ini berakibat pemanggilan keluarga atau orang tua Emil. Tweddy hanya ingin, Emil mengakui kesalahannya dan minta maaf. Itusaja sudah cukup. Tapi, Semua orang menyuruhnya untuk melaporkan dan kasus ini bukan kasus biasa. Menghilangkan nyawa seseorang dengan unsur kesengajaan dan sudah di rencanakan merupakan kasus kejahatan yang harus di tindak pidana pelakunya.
ceklek ...
Emil dan Mamanya pun masuk ke dalam ruangan itu denagn wjaha tenang dan santai. Terutama Emil yang tetap terlihat baik -baik saja. Tidak ada ketakutan sedikit pun di wajah Emil. Emil menatap Teddy yang tepat duudk di depannya sambil mengulas senyum manisnya.
__ADS_1
"Emil Hapsari?" tanya seorang dosen senior membaca berkas identitas Emil.
"Betul," jawab Emil singkat.
"Apakah kamu sengaja mendorong Arsy, teman satu kelasmu, saat mata kuliah Pak Teddy?" tanya dosen senior.
"Saya gak sengaja. Saat itu, kelas ramai dan semua orang mau keluar dengan cepat. Arsy tahu -tahu berdiri dan berjalan tepat di depan saya. Saya tidak bisa menhan tubuh saya yang terdorong juga dari belakang. jadi, tabrakan itu tak terhindarkan," ucap Emil beralibi sambil menatap Teddy dengan sangat lekat.
"Jadi ... Kampus ini sudah tidak memberikan pembeaan apapun pada mahasiswinya yang tidak bersalah? Malah membawa penyidik untuk interogasi. Saya beberapa kali di panggil dan di beri pertanyaan yang sama persis dan sellau saya jawab denagn jawaban yang sama juga, karena itu kejadian aslinya. Mungkin memang RAsy yang tidak hati -hati atau memang sudah takdirnya bayinya mati," ucap Emil ketus.
"Jaga ucapan kamu, Emil!! Kamu tidak pantas berbicara soal takdir!! Umur dan rejeki semua itu misteri bukan takdir. Takdir bisa di rubah denagn pilihan hidup walaupun misterinya tetap tak bisa di ubah. Mungkin kedua bayi saya tidak di di perbolehkan menghirup oksigen di dunia, tapi tidak sepantasnya kamu bilang itu kesalahan Arsy!! Arsy adalah istri saya!!" ucap Teddy lantang penuh emosi.
__ADS_1
Emil terkejut dan melongo mendengar jawaban Teddy baru saja. Arsy adalah istri Pak Teddy, dosennya sendiri.
"Permisi. Maaf mengganggu waktu kalian. Saya di tugaskan untuk menangkap Emil Hapsari untuk di bawa ke kantor polisi," ucap seorang petugas yang di beri wewenang dengan membawa surat tugas untuk menangkap Emil.
"Silahkan. Itu putri saya. Kalau memang salah, kasih hukuman yang setimpal," tegas Papah Dirga membuat Emil semakin benci dan penuh emosi.
"Papah!! Papah tidak bela Emil? Malah menjatuhkann Emil bahkan menjebak Emil!! Maksud Papah apa?!" teriak Emil sambil berdiri dan dua petugas itu segera memegang tangan Emil untuk di bawa ke kantor polisi sekarang juga.
***
Dari pagi, sepeninggal Teddy ke Kampus, Arsy langsung bersiap menuju tempat pemakaman umum dimana kedua bayi kembarnya di kubur. Langkahnya gontai sambil membawa satu kerangjang bunga mawar merah dan puitih serta air mawar di dalam botil palstik,. Arsy memakai gamis hitam dan menggunakan kerudung serta kaca mata hitam.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat dua gundukan tanah merah yang tidak terlalu tinggi. Dua nisan yang terbuat dari kayu dan tulisannya masih terlihat tidak rapi asal -asalan. Arsy lupa menanyakan siapa nama kedua bayinya pada Teddy.