
"Cerita apa? Kan sudah di jawab. Memang ada percekcokkan antara senior dan junior. Terus, Arsy harus cerita apa?" tanya Arsy menatap Teddy dari pantulan cermin yang memperlihatkan wajah bingung dan penasaran Teddy di belakang Arsy.
"Yakin mau diam saja dan gak cerita? Mau menyembunyikan sesuatu dari Mas?" tanya Teddy kemudian yang masih menunggu Arsy bercerita sebelum ia pergi dari kamar untuk menyiapkan makan malam hari ini.
Arsy mengangguk pelan dengan sedikit keraguan.
"Yakin sekali. Memang tidak ada apa -apa. Hari ini sangat menyenangkan," ucap Arsy sedikit gemetar.
Teddy hanya menarik napas dalam dan tak berkata apapun. Ia tahu, istrinya sedang berbohong, tapi Teddy memang tidak mau memperpanjang masalah ini. Teddy tahu apa yang terjadi tadi di Kantin. Ada seorang yang baik memberikan informasi ini kepadanya tanpa sengaja.
Teddy melenggang pergi menuju dapur dan mengambil celemek yang di pakai di tubuhnya lalu mengambil beberapa bahan makanan dari lemari pendingin dan mulai memotong bahan -bahan tersebut. Malam ini, lelaki itu akan membuat sup jamur dan jagung manis. Istrinya harus banyak memakan sayuran dan beberapa bahan protein yang bagus untuk tubuhnya.
Arsy terdiam dan menatap kepergian Teddy yang tak bicara sama sekali padanya. Arsy kemudian keluar kamar dan duduk di salah satu kursi meja makan menatap punggung kokoh suaminya yang masih semangat membuatkan makan malam untuk istri kecilnya yang manja.
Beberapa menit kemudian, sup jamur dan jagung itu sudah matang. Teddy mengambil mangkok besar dan emnumpahkan seluruh isi panci di sana dan meletakkan di meja makan tanpa melirik ke arah Arsy. Ia sengaja emndiamkan Arsy agar Arsy mau bercerita yang sebenarnay terjadi. Teddy juga mengambilkan dua piring makan dan satu panci magicom nasi yang diangkat menggunakan kain bersih dan di sajikan di meja makan.
Teddy sama sekali diam lalu melepas celemeknya dan duduk di samping Arsy. Seperti biasa, Teddy menyiapkan nasi dan menumpaahkan sup di piring lalu di letakkan di meja tepat di depan Arsy.
__ADS_1
"Makanlah," titah Teddy singkat dan ia sendiri mulai menikmati sup buatannya itu.
"Mas Teddy marah sama Arsy?" tanya Arsylirih sekali.
"Menurutmu?" jawab Teddy tanpa melirik ke arah ARsy dan terus menikmati sup jamur dan jagungnya itu hingga di piringnya habis tak bersisa.
"Marah," jawab Arsy singkat juga.
Teddy hanya mengangguk dan mengambil lagi makanan itu.
"Kenapa marah? Arsy kan sudah cerita," ucap Arsy terus berusaha meyakinkan Teddy bahwa semuanya baik -baik saja.
Arsy mengangguk paham. Suaminya tentu khawatir dengan Arsy. Ia mnyandarkan tubuhnya di sandaran kursi makan dan emngusap perutnya yang besar.
"Dari acara OSPEK, Kak Emil selalu cari masalah dengan Arsy," ucap Arsy tiba -tiba bercerita semuanya. Untuk apa juga di pendam. Biarkan Teddy tahu kelakuan senior Arsy itu.
"Terus," jawab Teddy masih terus emnikmati makanannya sambil mendengarkan Arsy bercerita.
__ADS_1
"Ya, Arsy dapat hukuman termasuk menngambil snack dari bawah. Belum lagi hukuman -hukuman lainnya yang memang gak berat. Tapi, Kak Emil tahu, kalau ARsy itu sedang hamil. Kayak senagja gitu bikin Arsy lelah. Tadi pun, di Kantin, Kak Emil mencoba mempermalukan Arsy, dengan bicara lantang pada semua orang, kalau bayi Arsy seoalh -olah tak punya Ayah karena Arsy masih terlalu kecil untuk menikah dan pasti menjadi korban pelecehan seksual atau pergaulan bebas," ucap Arsy kemudian.
Tangan Teddy emngepal erat denagn kesal. Bisa -bisanya ada yang berani membicarakan Arsy dan mengumbar fitha keji.
"Mas tidak mau berdiam diri. Kita harus publikasikan pernikahan kita di Kampus, biar smeua orang tahu. Kamu itu istri Mas, Arsy," titah Teddy mulai kesal.
"Gak Mas. Tolong Arsy. Arsy mau kuliah dengan kemampuan Arsy sendiri tanpa ada embel -embel nama Mas di belakang Arsy. Mengerti Arsy, Mas," ucap Arsy kemudian.
Teddy meletakkan alat makannya dan merubah duduknya yang kini menatap Arsy yang terus menunduk emnatap perutnya yang besar.
"Mas hanya ingin kamu dan anak Mas itu baik -baik saja. Mas gak mau sesuatu yanag buruk terjadi," ucap Teddy mulai cemas.
Akhir -akhir ini, Teddy selalu bermimpi buruk tentang Arsy, Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ini.
"Kok Mas Tedy bilangnya gitu sih? Ya gak mungkinlah. Kita satu kampus," ucap Arsy kemudian.
"Ya karena kita satu kampus. Mas malah makin khawatir. Mas tadi emlihat kamu di kantin dari lantai tiga. Mas lihat kamu sedang di bully senior kamu itu. Mas itu seperti orang bodoh yang gak bisa berbuat apa -apa untuk istrinya. Punya tubuh kekar tapi hanay berfungsi sebagai patung saja, tanpa melakukan sesuatu hal untuk membantu kamu, Sy. Mas merasa, Mas menjadi suami macam apa kalau begini!!" ucap Teddy kesal sendiri.
__ADS_1
Teddy memang sedang emosi. Ia pun memilih pergi dari hadapan Arsy. Ia tak mungkin menatap wajah sayu dan sendu istrinya.