Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
INGATAN


__ADS_3

Tepat satu bulan sudah Teddy berada di sebuah rumah pedalaman. Ia tinggal bersama salah satu petani yang menemukan keberadaanya.


Saat itu, Teddy langsung di bawa ke rumah sakit karena wajahnya di penuhi dengan darah yang masih terlihat segar keluar dari beberapa bagian wajahnya termasuk dari bagian matanya.


"Teddy ... masuklah. Sudah waktunya makan siang," teriak sang petani yang memanggil Teddy dengan suara keras. Teddy masih berada di kebun depan rumah besar milik petani itu.


Teddy yang kini hanya mengandalkan kedua tangan dan kedua indera pendengarannya dalam menjalani aktivitas kehiduapannya sehari -hari. Untung saja, ingatannya masih sangat bagus dan ia tidak mengalami amnesia atau hilang ingatan seperti Bismo.


Ya, Bismo koma selama dua minggu dan akhirnya sembuh total. Sayangnya, Bismo menyuruh petani tua itu untuk tutup mulut perihal kesehatan Bismo.


Setelah sembuh, Bismo pun melanjutkan pergi ke London untuk mengejar mimpinya yang ingin di capainya.


Teddy pun berjalan menuju rumah besar petani tua yang telah menolongnya. Ia sudah hapal dengan jalan setapak yang menghubungkan kebunsampai ke pintu depan rumah besar petani tua itu.


Teddy sudah masuk ke dalam rumah dan meletakkan keranjang sayur di meja makan.


Ia pun duduk di salah satu kursi meja makan dan menyapa suami istri yang sudah tua itu.


"Wangi sekali masakan siang ini," ucap Teddy memuji istri petani tua itu.


"Apa kau menyukai masakanku? Ini masakan orang tua di pedalaman," ucap wanita tua itu pelan dan memeberikan sebuah piring yang sudah berisi nasi dan sayur serta telur dadar dengan campuran sayuran dan paprika.


"Aku suka makan, apapun yang Ibu masakkan untukku selalu aku habiskan, karena semua masakan ibu sangat enak," ucap Teddy memuji lagi.


Setiap malam Teddy hanya bisa meratapi nasibnya yang menjadi seperti ini. Identitasnya tak ada. Padhal, ingin sekali ia kembali ke negaranya, tapi bagaimana? Tidak mungkin ia merepotkan keluarga petani tua ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang sangat sabar karena dalam usia pernikahannya yang sudah genap lima puluh tahun tak kunjung juga di beri keturunan.

__ADS_1


"Kau memang lelaki baik. Makanlah makan siang kamu," titah wanita tua itu dnegan suara lembut.


"Terima kasih Bu," jawab Teddy pelan.


"Setelah makan aku ingin mengajakmu bicara anak muda," ucap petani tua itu pelan.


Suasana makan siang sungguh berbeda dari biasanya. Semuanya tampak lain dan sedikit aneh. Teddy hanya merasa apa kehadirannya malah membuat kedua pasangan suami istri ini keberatan karena harus memberi makan dan tempat tinggal secara gratis kepada Teddy. Atau memang ini semua hanya perasaan Teddy saja.


Setelah selesai makan malam, petani tua itu mengajak Teddy berbicara di kebun belakang yang katanya ia tanami buah tomat merah. Beberapa hari lagi, tomat -tomat merah itu akan di panen dan akan di bawa ke kota untuk di jual.


"Aku ingin ke kota menjual semua hasil panenku minggu ini. Apa kau ingin ikut padaku? Mungkin dengan ke kota, ada informasi atau berita yang bisa kau dapatkan untuk membawamu ke asal negaramu," ucap lelaki tua itu memberikan sebuah solusi.


Maklum jarak dari desa pedalaman menuju kota itu sangatlah jauh dan memakan waktu yang cukup lama sampai beberapa hari.


"Bukan. Aku malah senang kau ada di sini, Nak. Walaupun aku tidak pernah tahu, siapa kamu sebenarnya, tapi hatiku bicara kalau kau adalah orang baik. AKu malah kasihan padamu, aku tidak ingin menahn kamu untuk tetap bertahan di rumah tuaku ini dengan segala kekurangannya. Aku hanya ingin kau bisa bertemu kembali dnegan keluargamu, Nak. Kau tahu kan? Hidupku sulit, mungkin untuk membantumu lebih dari ini, aku tak sanggup karena aku tak memiliki cukup uang yang banyak dan aku tak punya pengalaman hidup apapun kecuali bertani," ucap petani tua itu hanya ingin Teddy bisa cepat di temukan oleh keluarganya.


Teddy hanya menatap lurus ke depan dengan tubuh tegak duduk di kursi kayu yang kokoh . Satu tangannya memegang tongkat yang hampir sebulan ini menemaninya berjalan dan mengetahui arah jalan yang baik tanpa ada bahaya dan rintangan. Teddy mulaia terbiasa dengan kehidupannya yang baru dan segala kesederhanaan yang malah membuatnya semakin bahagia. Ia memegang dan mengusap pelan cincin perikahannya. Kedua jari jemarinya saling bertumpuk memegang tongkat yang sengaja ia berdirikan untuk membantunya berdiri nanti.


Semua pandangannya memang gelap seperti tak ada harapan sama sekali. Tapi, setiap ia memegang cincin pernikahannya bersama Arsy. Wajah Arsy yang sedang mengandung selalu terbayang jelas di benaknya. Tak hanya itu, pandangan gelap itu selalu bersinar seolah hanya ada Arsy dan calon bayinya yang selama ini menguatkan Teddy hingga bertahan sapai saat ini.


Petani tua itu menatap ke arah Teddy dan tersenyum.


"Kau rindu pada kekasihmu?" tanya petani tua itu pelan.


Teddy menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Dia bukan kekasihku, tapi dia istri kecilku. Istriku yang begitu ceria dan selalu manja kepadaku. Ia sedang mengandung anakku," ucap Teddy lirih.


Hatinya perih namun terselip rasa rindu yang begitu membuncah. Rasa cintanya semakin besar setelah mereka berjauhan dan ternyata mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka sudah ketergantungan dan tak bisa di pisahka lagi.


"Waow ... Kau akan menjadi seorang Ayah? Pulanglah, Nak. Mereka pasti menunggu kabamu," ucap lelaki tua itu semakin antusias menyemangati.


Lagi -lagi Teddy menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku tak mungkin pulang dengan kondisi yang seperti ini. Aku buta, malahan aku akan merepotkan mereka semua. Aku ingin sembuh," ucap Teddy pelan.


"Mencari donor mata atau membeli kornea mata itu bukan hal mudah, semuanya harus benar -benar cocok. Itu juga mahal, mahal sekali," ucap petani tua itu dengan suara pelan. Lelaki tua itu juga sedang berpikir, mncari solusi.


"Bisa bantu aku? Menjualkan cincin pernikahan aku ini, tuan? Aku ingin tingg di kota, dan bekerja di sana. Tapi, aku harus punya tabungan untuk biaya hidup aku sehari -hari," ucap Teddy pelan.


Mungkin ada benarnya ucapan petani tua tadi yang mengajaknya pergi ke kota. Di sana tentu akan banyak sekali hal baru yang mungkin bisa membawanya pulang ke negaranya dan berkumpul kembali dengan Arsy dan calon bayinya serta kedua orang tuanya. Atau ia lebih baik melanjutkan perjalanan ke London? Mencari mertuanya dan mencari donor mata, sekaligus mengurus rumah sakitnya?


"Apakah tidak ada solusi lain? Selain menjual cincin perkawinan itu?" tanya petani tua itu pelan.


"Aku tak memiliki uang untuk meneruskan perjalananku ke London. Apa aku bisa menumpang? Atau bagaimana biar aku bisa sampai di sana?" tanya Teddy pelan.


Pikirannya baru saja terbuka. Teddy juga sedikit menyesal kenapa tidak dari awal ia ke London.


"Aku tidak punya teman yang bisa membantumu. Kecuali memang kita harus ke kota dan mencari jalan darat menuju kesana. Ekhemmm ... padahal waktu temanmu di bawa ke London untuk mendapatkan perawatan intensif, kamu juga di tawari. Tapi saat itu, ada pasien lain yang lebih penting juga, makanya kamu tidak jadi di bawa," ucap petani tua itu.


"Apa? Teman?" tanya Teddy lirih. Ia berusaha mengingat kejadian satu bulan lalu. Seingatnya tak ada teman. Tapi ... tunggu dulu. Ya, ia memeluk Bismo saat kursi -kursi pesawat mulai terlepas dari tubuh pesawat dan melempar para penumpang ke bawah dengan teriakan keras dan histeris hingga suara jeritan otu tak lagi terdengar.

__ADS_1


__ADS_2