
Benar saja. Sesuai dengan dugaan Teddy sebelumnya. Arsy menghilang.
'Masalah apa lagi ini?' batin Teddy kemudian.
Teddy hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar setelah melihat isibdari CCTV tadi. Ia sudah menghubungi polisi dan berpamitan pada Wulan untuk pergi mencari Arsy.
"Bapak harus cepat mencari Arsy. Berarti sekarang masalahnya makin konkrit Pak. Ada yang tidak suka dengan hubungan Bapak dan Arsy," ucap Wulan pelan.
"Doakan saja agar semua baik -baik saja," ucap Teddy pelan.
Teddy pun pergi dan mencari keberadaan Arsy bersama beberapa polisi.
"Kami sudah mengetahui keberadaan mereka," ucap salah satu polisi yang mengecek posisi arsy melalui ponsel yang di bawanya.
"Kita langsung menuju lokasi," ucap polisi yang lain untuk segera bergerak.
Hari sudah semakin gelap. Waktu juga terus bergerak, sedetik bisa menjadi bahaya bagi Arsy.
Teddy hanya tak habis kenapa harus Bismo pelakunya. Ada apa sebenarnya.
__ADS_1
"Anda tidak apa -apa, Pak?" tanya salah satu polisi yang melihat kecemasan Teddy.
"Ya. Gak apa -apa. Saya hanya lagi berpikir. Ini sebenarnya motifnya apa?" ucap Teddy pelan.
"Kita elalu berharap yang baik. Tapi pelakunya masih di bawah umur? Bagaimana?" tanya polisi itu pelan.
"Kalau tidak ada tindak kekerasan. Saya akan bicara baik -baik pada anak itu," ucap Teddy pelan.
Psti ada sesuatu yang membuat Bismo seperti ini. Mencintai Arsy hingga tak mau di pisahkan. Seolah emnerima dengan ikhlas tapi ia menjadi dalang semuanya.
Skip ...
"Kamu bisa tinggalkan Pak Teddy untuk aku, Sy. Aku pastikan hidupmu akan lebih bahagia, di bandingkan saat ini," ucap Bismo pelan.
"Mo ... Arsy ini sudah menikah lho. Lihat cincin ini adalah cincin pernikahan Arsy dengan pak Teddy. Bukan hanya itu saja, di perut Arsy juga sudah ada janin, benih cinta dari Pak Teddy. Mana mungkin Arsy meninggalkan lelaki baik sebaik Pak Teddy?" ucap Arsy lirih.
"Kamu pikir? Aku gak baik? Aku bahkan bisa lebih baik dari Pak Teddy. Bukan dia aja yang bisa melakukan hal itu," ucap Bismo kesal.
"Mo. Kamu masih sayang sama Arsy?" tanya Arsy pelan.
__ADS_1
"Sayang. Sayang banget malah," ucap Bismo pelan menatap Arsy.
"Kalau sayang. Seharusnya kamu bisa menghargai Arsy. ARsy lelah, mau tiduran. Perut Arsy sakit," ucap Arsy plean.
"Gak. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Sy," ucap Bismo dengan suara keras.
Bismo semakin lama semakin frustasi. Rasa tak terimanya makin menjadi.
Arsy pun hanay bisa terdiam dan menunduk. Kali ini bukan waktu yang tepat. Bismo masih di kuasai dengan emosi dan rasa egois yang begitu tinggi.
"Kita masih bisa berteman? Kita masih bisa bersahabat? Kita masih bisa menjadi saudara? Menjadi kakak adik? Masih banyak hal yang bisa kita lakukan asal kita masih berkomunikasi baik," ucap Arsy pelan menjelaskan.
Bismo hanya tersenyum kecut sambil menatap wajah cantik yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Kamu kira itu semua mudah? Kamu kira semua itu gampang? Gak semudah yang kamu bayangkan Sy. Itu sulit. Kamu gak tahu apa yang aku rasakan saat ini," ucap Bismo pelan. Ia seperti sedang tertekan dan memiliki beban yang sangat berat.
"Bisa Mo. Kamu pasti bisa. Arsy yakin seklai. Kamu pasti bisa melewati ini semua dengan baik. Ada Arsy yang tetap akan mensupport kamu, walaupun status hubungan kita hanya sebatas teman," ucap Arsy mencoba menjelaskan pelan.
BRAK!!
__ADS_1
Suara keras dobrakan pintu pun langsung membuat keduanya tkejut. Bismo langsung pucat pasi dan panik setengah mati.