
Mama Tina sudah datang ke sekolah dan menemui Arsy terlebih dahulu di ruang UKS. Tangan Mama Tina memang lembut seperti Bunda Bella. Mengusap pelan rambut Arsy yang terurai.
Arsy menatap Mama Tina dan tsenyum pasrah.
"Maafin Arsy ya, Ma. Bikin Mama repot dengan keadaan ini," ucap Arsy lirih merasa bersalah.
"Bicara apa kamu, Arsy. Mama gak suka, kalau kamu bilang begitu. Mama ini adalah Mama kamu, apapun yang terjadi sama kamu, itu tanggung jawab Mama, apalagi soal kehamilan ini. Mama udah gak sabar mau ketemu kepala sekoalh. Dimana ruangannya Wulan. Tolong antar Tante," titah Mama Tina kepada Wulan.
'Baik tante. Sy gue anter tante Tina dulu ya?" pamit Wulan pelan.
"Iya, Lan. Mama juga hati -hati ya, jawab aja jujur. Arsy tadi juga jujur," ucap Arsy pelan.
"Iya Sayang," jawab Mama Tina yang langsung keluar dari ruangan UKS itu menuju ruang kepala sekolah bersama Wulan.
Sesampai di depan ruang kepala sekolah.
"Wulan balik lagi ke ruang UKS ya, Tante. Mau nemenin Arsy saja," ucap Wulan yang agak takut juga.
__ADS_1
Wulan itu paling anti masuk ke ruang kepala sekolah, termasuk urusan beasiswa juga kalau bukan terpaksa dan di temani Arsy waktu itu, mungkin Wulan sudah malas dan mengabaikan.
"Iya Sayang. Temenin Arsy ya," titah Mama Tina dengan suara lembut.
Wulan mengnagguk pelan dan pergi meninggalkan Mama Tina sendirian di depan ruang kepala sekolah.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan itu terdengar keras dari dalam ruangan.
"Masuk!!" jawab kepala sekolah ynag sedang menanda tangani undangan perpisahan yang akan di bagikan besok pagi untuk seluruh siswa.
"Permisi, Ruang Kepala Sekolah?" tanya Mama Tina dengan lembut dan sopan sambil tersenyum manis. Itulah para ibu, selalu tersenyum walaupun hatinya sedang dongkol dan kesal.
"Betul Bu. Ibu siapa?" tanya Kepala Sekolah sopan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untutk menyalami Mama Tina.
Kepala sekolah juga langsung mempersilahkan Mama Tina untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.
__ADS_1
"Saya orang tua wali siswa bernama Arsy. Katanya saya di panggil untuk menghadap, ada masalha apa, ya?" tanya Mama Tina pura -pura bodoh.
"Ohhh ... Mamanya Arsy?" jawab kepala sekolah itu pelan.
"Mama mertuanya," jawab Mama Tina lantang.
"Hah? Jadi benar? Arsy itu hamil?" tanya Kepala sekolah dengan cepat.
"Betul. Arsy sudah menikah beberapa bulan yang lalu dengan Teddy, salah satu guru di sini, dia anak saya," ucap Mama Tina dengan bangga.
"Oh ya? Bukankah ...." ucapan kepala sekolah seketika di hentikan dan tak di lanjutkan.
"Apa? Anda ingin bicara apa? Ingin mengeluarkan menantu saya? Dia gadis berprestasi dan sudah banyak menorehkan nama baik sekolah ini agar harum, bukan kah begitu pak Kepala sekolah?" tanya Mama Tina pelan namun terdengar sinis.
"Saya hanya ingin tahu kebenarannya saja. Dan semua terbukti. saya tidak akan mengeluarkan Arsy, karena memang ia sudah lulus dan di anggap sudah bukan siswi bagian dari sekolah ini lagi, " ucap kepala sekolah itu memberikan alasan.
"Jadi? Sudah jelas, dan masalah ini sudah selesai. Acara perpisahan juga lusa akan di lakasankan, bukan?" tanya Mama Tina memastikan.
__ADS_1
Kepala sekolah itu hanya mengangguk pasrah.
"Sudah jelas. Saya hanya ingin tetap menjalankan prosedur saja. Agar semua murid dan guru tidak menganggap saya pilih kasih, itu saja," ucap kepala sekolah dengan suara tegas.