
Dania dan teman -teman satu genk Emil hanay bisa menggelengkan kepalanya pelan tanpa sepengetahuan Emil. Dulu, Emil memang anak manis yang baik, ramah dan lembut. Semenjak ia sering mendapatkan kekerasan di rumah karena perlakuan kasar sang Ayah. Emil menjadi berubah total. Ada luapan emosi yang terpendam dan sekarang ingin membalaskan semuanya pada orang lain yang sama sekali tak bersalah dan tak ada hubungannya dengan Emil.
"Oke. Ini sih urusan lo, Mil. Kita semua disini gak mau ikut campur sama masalah pribadi lo sama Arsy. Jika nanti ada sesuatu hal di lain hari. Maka kita angkat tangan dan mohon maaf kita gak bisa bantu apa -apa selain doa," ucap Dania yang terpaksa memberanikan diri untuk melawan Emil.
Selama ini Emil di segani di genk tersebut karena memang Emil cukup tenar dan populer di Kampus. Tidk hanya pintar tapi juga cantik dan memilik pesona serta daya pikat yaang berbeda. Tapi itu dulu, sebelum sikapnya berubah drastis seratus delapan puluh derajat.
Emil menatap Dania tajam dan mengedarkan pandangannya pada teman -teman lainnya yang langusng menunduk saat duabola nyalang itu begitu menusuk mata lawan bicaranya.
"Jadi kalian mau cuci tangan untuk masalah ini? Sudah gak ada lagi namanya solidaritas? Mau masing -masing? Gitu? Setelah kalian punya pamor masuk genk gue. Terus sekarang udah keliatan bakal ada masalah dan kalian pergi ninggalin gue? Gitu? Itu namanya temen? Hah!! Pergi!! Lo semua pergi!! Gak usah lagi muncul di depan muka gue!! Paham lo smeua!! Pergi!!" teriak Emil mengusir semua teman -teman satu genknya.
__ADS_1
Dania melirik ke arah teman -teman yang lain. Mereka tidak ingin pergi. Mereka juga tidak mau punya masalah dengan Emil di kemudian hari. Kalau mereka pergi meninggalkan Emil, bisa di pastikan hidup mereka seperti dikejar hantu. Emil itu licik dan cerdik seperti kancil dan pocong yang bisa muncul kapan saja di waktu -waktu yang tak terduga dan di tempat yang kadang tersembunyi sekalipun.
"Gak Mil. Kita tetep ada buat lo," ucap Dania seperti terpaksa.
"Gak usah. Lo tadi bilang sendiri kalau lo smeua gak mau bantu gue kalau gue kena maslah soal Arsy. Lagi pula, ngapain harus pusing sih, mikirin dia. Mau anaknya mati atau dianya mati. Dia itu siapa? Bukan siapa -siapa? Cewek biasa saja. Gak ada kelebihannya dan gak punya prestasi apa -apa," ucap Emil merendahkan Arsy.
"Sory Mil. Kita tadi cuma takut aja. Tapi kita lupa punya teman hebat kayak lo. Pasti semua teratasi dengan baik. Ya kan temen -temen," ucap Dania memberikan pujian pada Emil.
Emil hanya menatap sinis ke arah Dania dan smeua teman yang tergabung dalam genknya. Suasana genknya sudah tidak se -kondusif dulu. Banyak orang yang masuk hanay ingin di kenal dan di takuti saja.
__ADS_1
***
"Ekhemmm ... Lalu apa yang bisa saya bantu untuk masalah ini Pak?" tanya Mega ragu.
"Ini masih saya pikirkan. Saya hanya ingin kamu bantu ARsy untuk mengembalikan kepercayaan dirinya lagi selama berada di Kampus nanti setelah kondisi tubuhnya pulih kembali. Tentu Arsy akan menjadi seseorang yang sedikit berbeda karena tidak mudah menerima kenyataan pahit ini. ARsy pasti punya rasa trauma terdalam selama berada di Kampus apalagi di kelas itu," ucap Teddy yang juga masih tak terima denagn sikap Emil tadi.
"Sepertinya, Kakak kelas tadi snegaja menabrak Arsy. Beberapa kali Arsy menjadi incaran bullyan mereka sejak masa orientasi," ungkap Mega dengan jujur.
"Apa? Ada pembullyan saat orientasi? Arsy di bully? Kenapa?" tanya Teddy penasaran.
__ADS_1
Pantas saja, selama ini Arsy hanya diam dengan wajah tidak bahagia setiap akan pergi ke kempus atau sepulang dari kampus. Ternyata ini masalahnya.