
Arsy hanya diam membeku. Ucapan dan nasihat panjang lebar Mbok Yum tadi membuat hati Arsy tersentuh. Pikirannya melayang dan terus kepikiran dengan kata -kata Mbok Yum tadi.
Keduanya cukup lama saling bertukar pikiran tadi. Arsy yang selama ini kesepian karena sang Bunda akhir -akhir ini sibuk menemani tugas sang Papa di luar kota.
Tubuhnya kembali di rebahkan di atas kasur dan di tutupi oleh selimut tebalnya. Nyaman sekali.
Pagi ini Teddy sudah berada di ruang BP. Seperti biasa ia mengurus beberapa pekerjaan kantor milik calon mertuanya di balik layar laptop. Sejak tadi wajah Teddy nampak begitu serius dan sedikit tegang. Pasalnya siang setelah sepulang dari sekolah ia harus memimpin rapat di perusahaan milik calon mertuanya itu untuk menggantikan posisi Papah Arsy yang sedang berada di luar kota.
Teddy begitu mencemaskan keadaan Arsy. Walaupun jelas Arsy berada di rumah, tindakan Bismo kemarin sudah membuat Arsy trauma secara mental.
Ponselnya berdering dengan nyaring. Bunda Bella menelepon Teddy.
"Ya Bunda?" jawab Teddy menyapa lebih dahulu dengan ramah dan sangat sopan sekali.
__ADS_1
"Teddy. Maaf, Bunda harus memberitahukan ini segera. Pernikahan kalian akan di majukan malam ini karena besok siang, Bunda dan Papa harus segera terbang ke London untuk pengobatan Papah. Bunda sudah bicara pada Mama dan Papamu. Mungkin sore ini beliau akan datang lebih awal. Kamu kan rapat di kantor, setelah itu langsung ke rumah saja," ucap Bunda Bella dengan suara terburu -buru. Sepertinya memang ada hal yang begitu pelik hingga semua acara di majukan seperti ini.
"Ya Bunda. Tapi, Kondisi Papa bagaimana?" tanya Teddy yang begitu peduli.
"Papa memnag sedang tidak baik -baik saja. Tapi istirahat yang cukup siang ini masih sanggup melihat putri kesayangannya untuk menikah sebelum akhirnya melakukan pengobatan rutin di London," jawab Bunda Bella dengan jelas.
"Baik Bunda. Teddy akan segera menyelesaikan tugas kantor," jawab Teedy dengan sigap.
Ponselnya telah mati. Sambungan telepon itu telah di tutup lebih dulu oleh Bunda Bella. Teddy termangu menatap layar pnselnya. Dirinya sedikit terkejut dengan berita yang di dengarnya barusan. Intinya penyakit Papa Arsy pastilah kronis.
BUGH ...
"Ma -Maaf Pak," ucap Wulan pelan sambil menunduk.
__ADS_1
"Wulan. Pulang sekolah temani Arsy di rumah. Dia sendirian." pinta Teddy setengah berbisik dan pergi begitu saja.
Teddy juga tidak ingin membuat gempar seisi sekolah tentang hubungannya dengan Arsy nanti.
Tanpa menjawab. Wulan paham dan hanya mengangguk kecil yang masih semapt di lihat oleh Teddy sebelum pergi dari hadapan Wulan.
Siang ini, di kediaman Arsy memang nampak biasa saja. Hanya ada beberapa orang yang sedang sibuk di dapur dan menyiapkan meja prasmanan di sekitar ruang tengah.
Tidak hanya itu, ruang tamu pun sudah di sulap dengan hiasan yang canti dan penuh dengan bunga. Hiasan sederhana namun tetap terlihat elegan untuk sebuah acara pernikahan.
"Arsy?" panggil Wulan pelan sambil membuak pintu.
Wajah Arsy nampak murung saat perias sedang mengukir indah tangannya dengan henna.
__ADS_1
Wulan menghampiri Arsy dan duduk di sebelahnya. Wulan tidak kaget karena Bunda Bella sudah memberitahukan tadi sewaktu berada di bawah. Bahwa hari ini adalah hari pernikahan Arsy dengan Teddy.
Tangan Wulan mengusap pelan punggung Arsy tanpa memberikan sepatah kata. Arsy sendiri hanya diam dnegan wajah yang sembab. Sepertinya ia habis menangis.