Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KECEWA


__ADS_3

Hari mulai menggelap. Teddy masih bersandar di kursi kerjanya sambil menatap istri belianya yang masih pulastertidur di sofa. Beberapa kali Teddu menatap jam tangan dan menghitung waktu, sudah berapa lama RAsy tertidur dan tak bangun -bangun.


Sambil mengetuk ngetukkan jarinya di meja kerja. Tak lama Arsy pun membuka kedua matanya dan ia terbangun duduk menatap jam tangannya.


"Hah setengah enam sore?" teriakny adengan keras. Ia membuka jas Teddy yang sejak tadi membuat Arsy hangat dan nyenyak dalam tidr.


Kedua matanya mengedar dan menoleh ke arah belakang. Sosok Teddy sudah duduk manis di kursi kerjanya sambil tersenyum menatap Arsy.


"Selamat bangun tidur, Tuan Putri yang cantik? Nyenyak ya?" tanya Teddy sambil mengulum senyum.


Teddy sangat puas sore ini menatap lekat wajah Arsy yang tertidur. Gak ada kan posisi tidur yang terlihat cantik. Tentu ada suara -suara kodok walaupun lirih atau setidaknya hembusan napasnya terdengar kasar.


"Pak Teddy? Kenapa tidak membangunkan Arsy?" tanya Arsy pelan.


Teddy pun berdiri dan menghampiri Arsy.


"Kasihan. Mana tega membangunkan kalau ...." ucapan Teddy terhenti dan menutup mulutnya sabil tersenyum.


Arsy menatap lekat. Sepertinya ada hal aneh sampai Teddy pun tertawa.


"Kalau apa?" tanya Arsy mulai ketus . Arsy mengambil ponselnya untuk bercermin. Mungkin saja ada bekas jalan pulau kapuk yang ada di pipinya.


Teddy mengambil jas hitamnya dan memakai kembali jas itu d tubuhnya.


"Pulang yuk? " ajak Teddy pelan sambil mengaggukkan kepalanya.


Kluruk ...


Arsy langsung memegang perutnya dan mengambil ranselnya untuk segera di pakai.


"Ayo Pak," ajak Arsy segera untuk menutupi rasa malunya karena perutnya berbunyi keras.


"Kamu lapar Sy? Mau sekalian makan? Mau makan apa?" tanya Teddy pelan.


"Ekhemm ... Makan bebek goreng di alun -alun Pak. Kayaknya enak?" pinta Arsy tiba -tiba.


"Boleh. Yuk," ucap Teddy pelan.


Keduanya pun udah bersiap dan akan pulang menuju alun -alun untuk makan malam.


Arsy berjalan lebih dulu dan Teddy di belakang Arsy.

__ADS_1


"Sy bentar," ucap Teddy pelan memanggil.


Arsy pun membalikkan tubuhnya dan ... Cup ... Bibir Arsy pun menempel pada pipi Teddy.


"Yuk," jawab Teddy sambil senyum -senyum.


"Bapak ...." teriak Arsy dengan kesal. Teddy sudah lebih dulu keluar dari ruangan dan meninggalkan Arsy yang kesal karena diam -diam Teddy mengerjainya.


Teddy pun tertawa terbahak -bahak. Jiwa mudanya makin bergelora dan bergairah kembali. Padahal perbedaan usia keduanya tidak sedikit.


Arsy berlari mengejar Yeddy yang sudah akan masuk lift.


Ha ha ha ... tawa Teddy terus terdengar lepas.


"Jahat ih Bapak," ucap Arsy kesal.


"Marah? Atau mau di ulang?" tanya Teddy pelan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Arsy. Arsy nampak mundur dan memberikan mimik wajah malas.


"Gak boleh. Ada yang punya," jawab Arsy ketus.


"Siapa yang punya? Rendy? Bismo?" tanya Teddy menggoda.


"Ih apa sih. Kenapa harus mengungkit?" ucap ARsy sambil memukul lengan Teddy.


"Oh ... Sudah gak mau di ungkit? Bisa dong nanti malam dapat jatah? Kan udah bisa nerima saya?" goda Teddy kemudian.


"Arsy sudah menikah jadi jangna macam -macam. Nanti Arsy bilangin suami Asy kalau berani ganggu Arsy," ucap Arsy mengingatkan.


"Oh ... Sudah menikah. Cincinnya sama. Nikahnya sama siapa?" tanya Teddy kembali menggoda.


"Arghh gak tahulah. Jangan paksa Arsy, Pak. Arsy butuh waktu untuk itu. Maafin Arsy ya," ucap Arsy lirih.


"Ya. Gak apa -apa Arsy. Saya ngerti," jawab Teddy pelan.


Ting ...


Tepat sekali pembicaraan mereka selesai dan pintu lift pun terbuka.


Teddy berjalan lebih dulu seperti biasa. Wajahnya langsung di tampakkan begitu berwibawa. Arsy hanya menunduk dan melangkah sesuai jejak langkah Teddy. Ia begitu merasa bersalah dnegan keadaan ini. Tadi ia mendengar ceramah seorang ustadzah yang bercerita tentang hak dan kewajiban istri.


Jelas ustadzah itu mnejelaskan, "Jika suami minta, istri hukumnya wajib memberi. Jangan salahkan suami jika menlirik wanita lain, kalau istrinya saja tidak mau melayani suami." Kira -kira seperti itu isi ceramah yang sempat Arsy dnegarkan lewat radio.

__ADS_1


"Kamu mau kuliah dimana Sy?" tanya Teddy pelan saat perjalanan menuju alun -alun.


"Gak tahu Pak. Dulu pengen di universitas negeri jurusan kedokteran. Tapi ...." ucap Arsy pelan tak di lanjutkan.


"Tapi kenapa? Kalau maaslah biaya. Saya sudah siapkan untuk itu," ucap Teddy tegas.


"Ekhemmm ... Memang Bapak bolehin Arsy untuk sekolah kedokteran?" tany Arsy pelan.


"Boleh lah. Itu kan cita -cita kamu sejak kecil. Lagi pula buat kedua orang tua kamu bangga dengan hasil prestasi kamu dengan kamu menjadi seorang dokter. Iya kan?" tanya Teddy kemudian.


Sesekali kedua ata Teddy meilirik ke arah Arsy yang agak bimbang. Namun, Ia yakin Arsy sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan dari Teddy kepada Arsy. Malahan Teddy akan mendukung penuh apa yang di inginkan oleh Arsy.


"Soal pernikahan ini Pak," ucap Arsy ragu. Ia takut jika Teddy akan marh.


"Pernikahan? Maksud kamu apa Sy?" tanya Tedy yang masih tak mengerti.


"Ya ... Kalau Arsy mengejar cita -cita berarti pernikahan ini harus di sembunyikan sampai Arsy mendapat gelar dokter. Arsy juga tidak mau hamil selama studi," pinta Arsy yang membuat Teddy terdiam.


Tidak ada laarngan seorang mahasiswa menikah dan hamil jika memang kehamilannya di sebabkan oleh suaminya. Bukan hasil esek -esek gak jelas.


Arsy menoleh ke arah Teddy. Ia tahu suaminya tentu kecewa dengan keinginannya. Apalagi ceramah tadi makin membuat Arsy semakin bimbang dan ragu untuk melanjutkan kuliah kedokteran.


"Bapak marah?" tanya Arsy pelan.


"Gak," jawab Teddy singkat dnegan tatapan tajam ke arah depan. Ia fokus dengan jalanan yang makin padat.


"Bapak kecewa sama Arsy?" tanya Arsy kemudian.


"Sedikit," jawab Teddy singkat dan tegas.


"Maaf ya Pak. Mneding Arsy tidak melanjutkan kuliah Arsy. Arsy bisa melakukan hal lain saja, smapai ARsy benar -benar siap menjadi istri dan ibu," ucap Arsy pelan.


Teddy diam dan tak menjawab. Padahal ia begitum enyimak ucapan Arsy.


"Kejarlah cita -cita kamu, Sy. Saya akan tetap mendukung kamu. Abaikan saya. Ttaplah terlihat mesar jika di depan orang tua. Saya menghargai keinginan kamu," ucap Teddy kemudian mengambil keputusan yang sangat sulit.


Sebenarnya Teddy ingin sekali cepat memiliki anak. Kalau bisa, setelah Arsy lulus sekolah mereka bisa merencanakan memiliki anak. Tanpa harus menunda lagi. Tapi Teddy lebih menghargai Arsy yang ingin menggapai cita -citanya tanpa terhambat karena pernikahannya.


Mendengar jawaban Teddy, Arsy menatap Teddy dari arah samping. Lekat sekali Arsy menatap Teddy.


"Kenapa? Saya wujudkan keinginan kamu, Sy," ucap Teddy pelan. Sorot matanya terlihat sangat kecewa sekali.

__ADS_1


"Tapi Pak?" jawab Arsy lirih.


__ADS_2