Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
CIUMAN KILAT


__ADS_3

Benar saja, setelah pemeriksaan, Teddy di vonis alergi kacang.


"Mas alergi kacang? Bukannya Mas itu paling suka sama selai kacang?" tanya Arsy pelan.


"Jadi begini. Ini sifatnya tidak permanen sepertinya. Bisa jadi memang karena bawaan bayi yang dikandung," ucap Dokter Effendy pelan.


Arsy mengangguk paham.


"Pantas saja. Arsy biasanya tidak suka selai kacang. Tapi, kali ini sangat suka sekali," ucap Arsy pelan.


"Benar. Selama hamil, apapun bisa terjadi. Jadi tidak akan masalah jika ada perubahan secara hormonal atau kesukaan kita. Tak perlu risau, yang penting ibu hamil harus bahagia. Itu saja pesan saya. Lagi pula kau juga Ted. Seharusnya hal begini gak perlu datang kesini. Kau bisa periksa istrimu sendiri secara mandiri," ucap dokter Effendy kepada Teddy, teman se -angkatannya.


"Biar jelas. Istriku ini suka kurang percaya," ucap Teddy pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Arsy.


Arsy pun mencubit paha Teddy dari bawah meja.


"Bohong. Arsy malah di suruh periksa ke dokter Effendy. Alasannya gak ada alatnya," ucap Arsy jujur.


Sontak jawaban itu membuat kedua dokter itu tertawa bersamaan.


"Dokter Teddy beruntung sekali dapat gadis belia begini. Sudah cantik, baik, lembut," ucap dokter Effendy menatap Arsy dan Teddy bergantian.

__ADS_1


"Sudah di incar dari bayi, dok. Dia jodohku. Jadi di jagain dari kecil," ucap Teddy tertawa.


Semua tertawa. Hal sederhana bisa membuat bahan lelucon. Kadang Arsy berpikir se -receh ini jika Teddy berkumpul dengan teman -temannya.


Skip ...


"Tuh ... inget kata dokter Effendy. Kamu harus bahagia dan gak boleh stres. Jaga pola makan kamu dan satu hal lagi, kamu jangan cemas. Kalau ada sesuatu hal, kamu datang saja ke ruang guru dan temui Mas. Mas akan selalu ada untuk kamu," ucap Teddy menasehati.


Pagi ini setelah dari dokter. Arsy langsung menuju sekolah. Begitu pun juga Teddy yang masih dilema ingin keluar dari sekolahan untuk fokus mengurus kantor dengan segudang masalah.


Mobil sudah di parkir di parkiran khusus guru.


"Apa?" tanya Teddy pelan.


Teddy langsung mengambil dompet dari saku celana belakang dan membukanya untuk mengambil beberapa lembaran uang untuk jajan Arsy sehari -hari.


"Ini. Cukup dong," ucap Teddy pelan sambil memberikan beberapa lembar uang di tangan Arsy.


Arsy menatap tumpukan lembaran uang di telapak tangannya. Lalu menatap Teddy.


"Arsy tuh mau salim. Bukan mau uang. Tapi, mubazir juga kalau di abaikan uang -uang ini di biarkan tak bertuan. Lebih baik di lipat dan masukkan kantong," ucap Arsy pelan dan menarik tangan Teddy dan mencium punggung tangan itu dengan hormat.

__ADS_1


Arsy mulai belajar menghargai Teddy sebagai suami, sebagai guru, dan sebagai pengganti orang tuanya seperti yang Bundanya bilang.


"Hemmm ... Saya terjebak sama gads labil," ucap Teddy asal dengan sengaja.


Arsy yang baru saja akan membuka pintu pun mengurungkan niatnya. Ia berbalik menghadap ke arah Teddy.


"Apa tadi? Gadis labil?" tanya Arsy memukul lengan Teddy pelan dan berpura -pura marah.


Teddy cumaa bisa tersenyum di paksakan.


"Gadis labis juga istri Mas," ucap Arsy nampak kesal.


"Gemes," cubit Teddy ke pipi Arsy yang sedikit chubby.


Dengan gerakan cepat, Arsy pun mencium pipi Teddy dan langsung membuka pintu dan keluar.


Ciuman di pipi dengan kilat membuat Teddy tersenyum lucu dan memegang pipinya. 'Dasar gadis nakal,' umpatnya dalam hati.


Teddy pun lngsung keluar dari mobilnya dan mengunci mobil itu lalu berjalan menuju kantor guru yang sudah terlihat ramai.


Semua mata memandang ke arahnya dan tersenyum malu. Teddy merasa ada yang aneh.

__ADS_1


__ADS_2