
Antara takut dan nikmat, saat ini yang di rasakan oleh Arwana. Nada seperti orang kesurupan. Kedua mata Arwana tidak pernah lepas memandangi wajah cantik Nada. Arwana takut bisa, wajah cantik itu berubah lagi menjadi wajah nenek tua berkeriput seperti yang ia lihat tadi di mobil.
Arwana sudah memesan satu kamar hotel, setelah rayuan maut Nada membuatnya semakin menggila dan bergairah ingin segera melepas keperjakaannya yang tak sempat ia berikan pada istrinya saat malam pertama.
Nada berusaha setenang mungkin padahal dalam hatinya sangat berkecamuk. Ia cemas dan juga panik. Pikirannya mulai kacau. Apa yang harus aku lakukan nanti. Tidak mungkin aku melakukan hal inidengan Mas Arwana. Nada terus merutuki dirinya sendiri. Kepergian Nada dari rumahnya dulu adalah suatu kebodohan dan malah berakhir dengan cerita yang konyol seperti saat ini. Mungkin kalau Nda bercerita dengan Ibunya, tentu Sang Ibu akan tertawa keras dan tidak mempercayai semua cerita Nada dan akan bilang kepada Nada bahwa semua ceritanya itu adalah hanya kisah dongeng belaka.
Arwana dan Nada sudah berada di dalam kamar hotel. Keduanya menunggu pesanan makanan yang belum datang. Niat Arwana ingin makan bersama di meja yang ada di dalam kamar hotel tersebut sebelum ia merasakan tubuh Nada yang selama ini hanya bisa ia impikan saat kejantanannya mulai menegang dan harus melepas kenikmatan.
Tangan Nada mulai dingin. Berada di dalam kamar hotel dan hanya berdua saja bersama Arwana adalah musibah bagi Nada.
Selang satu jam, semua makanan yang Arwana pesan sudah tersaji di meja makan. Arwana ingin memberika sesuatu yang spesial untuk Nada.
"Yuk kita makan. Kamu sudah lapar kan? Biar kita ada tenaga sebelum tempur," ucap Arwana dengan senyum yang begitu bahagia. Kumis tipisnya seolah ikut tertawa dan ikut menggoda Nada bahwa perangkapnya malah membuat Nada terjebak sendiri dalam kegelisahan.
Sejak sampai di hotel Nada hanya duduk di sofa dan menonton televisi. Tubuhnya sejak tadi di sandarkan pada sandaran sofa.
Arwana sudah berdiri di depan Nada dan mengulurkan tangannya agar Nada mau berdiri dan pindah duduk di meja makan untuk segera makan.
"Ayuk? Kita makan. Pesanan makanan sudah lengkap," ucap Arwana mulai gemas melihat Nada yang masih terlhat santai di sofa empuk itu sambil mengangkat satu kakinyahingga pangkal pahanya yang begitu mulus terlihat sangat jelas dengan mata telanjang Arwana.
__ADS_1
Nada pun menerima uluran tangan itu. Smua sudah terlanjur Nada hanya bisa pasrah dengan keadaan ini demi nyawanya yang harus segea di selamatkan dnegan tiga puluh perjaka.
Saat Nada menggenggam kedua tangan Arwana untuk bangkit berdiri. Tubuh mungil Nada malah di dekap erat dalam pelukan Arwana. Sudah sejak tadi birahi Arwana meningkat, rasanya sudah tidak sabar ingin bermain - main dengan NAda. Bertempur dalam basah di kasur yang sudah melambai ingin memberikan kenyamanan di sana.
"Mas Arwana ... Apa yang ingin kamu lakukan padakau," cicit Nada polos. Nada terkejut sekali dengan perlakuan Arwana yang mulai terlihat nakal. Saat tubuh Nada sudah dalam pelukan Arwana. Satu tangan Arwana mengusap pelan punggung Nada.
"Apalagi yang harus kamu tanyakan Nada? Bila kedua lawan jenis berada di dalam hotel? Apa Mas harsu menjelaskan dengan detail? Bagi Mas biar nurani kita aja yang bergerak dan kita hanya merasakan dan menikmati di setiap pergerakannya," ucap Arwana yang semakin kacau dan menggila.
Nada hanya menatap Arwana dengan lekat. Baru kali ini, Nada mneatap dekat wajah Arwana yang semkain lama memang nampak lucu. Wajah oriental khas bangsa sendiri dengan kulit yang tidak terlalu putih. Hidungnya agak besar dengan tahi lalat di dekat pipi kanannya. Bibirnya sedikit tebal dengan kumis tipis seperti ikan lele.
Seketika tubuh Nada bergetar hebat. Ucapan manis Arwana dan hembusan napas dari mulutnya malah membuat Nada semakin merasa bersalah dengan keadaan ini.
Nyai Konde menatap tajam ke arah Nada. Tatapan yang begitu dahsyat lekat pada kedua mata Nada hingga membuat Nada merasa takut. Senyum Nyai Konde menyerengai. Jelas sekali senyum itu seperti ingin menampilkan bahwa ia menang.
Nada memalingkan wajahnya dan menunduk merebahkan kepalanya pada bahu Arwana. Mau tidak mau tantangan ini harus di selesaikan dengan bik dan dengan waktu yang telah di tentukan.
"Ekhem Mas ... Nada, lapar," ucap Nada lirih. Nada memundurkan tubuhnya dan melepaskan tubuh mungil itu dari pelukan Arwana yang erata.
"Kamu sudah lapar? Kita makan ya?" ucap Arwana pelan lalu menggandeng tangan Nada dan menggiring gadis cantik itu ke meja makan.
__ADS_1
Nada hanya menurut saja. Ini hanya sementara. Nada hanya menggiring Arwana dalam penjebakan saja.
Waktu makan tiba. Nada sudah duduk di kursi makan yang telah di dekorasi sangat indah. Banyak menu makanan yang di pesan Arwana, agar Nada tidak kelaparan hingga malam nanti setelah bermandikan keringat. Otak Arwana mulai kacau, pikirannya terus melayang saat menatap wajah Nada.
Satu jam kemudian, beberapa makanan di dalam piring - piring itu sudah habis di santap keduanya.
"Nada ...." panggil Arwana lembut. Arwana pun bangkit berdiri dan menyentuh bahu Nada lalu mencium pipi Nada pelan. Ciuman di pipi itu terlihat biasa tapi membuat tubuh Nada semakin bergetar tak karuan.
Sejak dulu, Nada tidak pernah beracarran. Di sentuh lelaki saja tidak pernah apalagi di cium. Ambisinya telalu tinggi untuk menjadi seorang penyanyi hingga Nada meninggalakna masa indah di masa mudanya.
Nada tidak menjawab. Nada hanya terdiam merasakan perubahan getaran pada tubuhnya yang mulai terasa sdikit merinding karena sentuhan Arwana. Ciuma Arwana yang bermula di pipi Nada, kini sudah mulai turun ke bawah ke arah leher mulus Nada. Nada masih terdiam, ia malah mulai hanyut menikmati dengan kedua mata terpejam. Kedua tangan Arwana yang tadinya masih ada di bahu Nada pun kini sudah mulai turun menyusuri dada Nada melalui pakaian Nada yang sedikit membuka dari atas. Satu tangan Arwana mulai lepas kancing Nada.
Arwana mulai tergoda saat jari - jarinya mulai menyentuh bagian yang menurut Arwana bisa meningkatkan birahinya.
Nada meleguh saat merasakan tangan Arwana mulai lihai memainkan gundukan yang masih rapi berada di dalam pakaian lengkapnya.
Mendengar ******* Nada, Arwana pun tak sanggup membendung keinginannya. Ia langsung mengangkat tubuh mungil Nada dan merebahkan tubuh Nada di kasur.
Kedua mata Nada membola. Jantungnya berdengup dengan kencang saat ia melihat Arwana semakin terlihat liar dan buas mulai membuka satu per satu pakaian Nada hingga tubuh Nada terlihat polos.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar ingin merasakanmu sejak dulu. Kenapa akhirnya kamu menyerah ingin sekali aku sentuh?" tanya Arwana dengan tingkat percaya yang tinggi.