
Mega langsung menendang kaki Emil dengan sangat keras dan langsung menarik tangan Arsy untuk segera pergi dari kantin itu. Lama -lama, seniornya itu menggila tanpa alasan yang jelas.
PRANG!!
Emil melempar semua barang -barang di kamarnya hingga seluruh meja riasnya kosong dan semua barangnya berjatuhan terpecah belah di lantai.
Hatinya terasa sangat sakit dan begitu kacau. Bundanya Emil langsung mengetuk pintu kamar Emil dan berusaha menenangkan gadisnya yang memang sering seperti ini jka tertekan.
"Mil!! Emil!!" teriak Bunda Emil terus mengetuk pintu kamar Emil dnegan keras setelah mendengra suara pecahan yang begitu keras dalam kamar Emil.
Ya, Emil hanya tinggal berdua dengan Bundanya yang sibuk mencari uang dari pagi hingga sore denagn pekerjaan serabutan. Emil yang pintar dan cerdas mendapatkan beasiswa penuh sampai ia bisa menyelesaikan studinya dengan target waktu tertentu.
Emil paling benci dengan wanita yang sedang hamil. Emil memiliki trauma tersendiri, karena keluarganya hancur gara -gara seorang wanita muda tengah hamil dan emngakui bahwa anak dalam kandungannya adalah anak Papah Emil. Seketika hidup Emil dan Bundanay berubah drastis dan Emil sangat benci.
Bunda Emil berhasil mendobrak pintu kamar itu dan tak tega melihat Emil yang duduk di pojokan dengan air mata yang etrus berderai di pipinya. Inilah sosok Emil yang tak pernah di ketahuioleh teman -temannya. Semau teman di kampusnya mengenal Emil sebagai sosok gadis yang berani, mandiri, kuat, tegar, tegas, galak dans edikit kasar.
__ADS_1
"Emil ... Kamu kenapa, Nak?" panggil Bundanya dengan suara yang sangat lembut. Emil tidak bisa dentak, di kasar ataupun di marahi. Memperlakukan Emil harus dengan kelembutan dan kasih sayang.
Emil terus menangis hiteris sambil meremat tangannya hingga terkepal erat dan sesekali melempar semua benda yang berhasil ia gapai dengan tangannya.
Bunda Emil langsung memeluk putri semata wayangnya dan mengusap kepala Emil hingga gadis itu mulai melunak. tangisnya mulai berhenti dan jantungnya mulai berdetak denagn normal dan tenang kembali.
"Ada masalah apa, Nak?" tanya Bunda Emil kepada putrinya. Namun, Emil tidak menjawab. Pelukan Bundanya bagai hipnotis yang mampu membuat Emil menjadi jinak kembali. Seketika amarahnay redam dan kebenciannya mulai sirna kembali.
***
Kebetulan Arsy sedang duduk di kursi meja rias sambil menyisir rambutnya panjang dan mulai terasa gerah jika di gerai terlalu lama.
Teddy melirik ke arah Arsy yang belum menjawab pertanyaannya.
"Di tanya suami kok diem aja sih? Lagi ngelamunin apa, sayang? Ikut dong melamunnya," ucap Teddy tiba -tiba sambil mencium pipi Arsy spntan.
__ADS_1
"Ehh ... Mas Teddy ih bikin kaget aja," teriak Arsy yang etrkejut pipinya terasa dingin karena bibir Teddy yang masih basah.
"Lagian di atnya diem aja, kan jadi gemes. Untung pipinya yang ternoda bukan yang lainnya," kekeh Teddy mengaoda istrinya.
"Emang nanya apa tadi?" tanay Arsy yang memang ternayta sedang tidak konsen.
"Gimana di kampus hari pertama ini? Kesan dan pesannya?" tanya Teddy sambil mengambil kaos oblong dan celana pendek lalu di pakainya secraa urut.
"Baik. Semua berjalan denagn normal," ucap Arsy singkat.
"Oh ya? Terus huru hara di kantin itu apa? Tdai katanya sempat ada percekcokkan kecil di kantin. Katanya melibatkan senior dan juniornya? Bener gak kabar itu?" tanya Teddy kemudian menjemur handuknya di balkon kamar dan masuk kembali mendekati istrinya.
Arsy hanya mengangguk pelan tanpa sepatah katapun.
"Gak mau cerita? Apa sengaja mau di pendam biar Mas gak tahu? Hemmm?" tanya Teddy pada istrinya.
__ADS_1
Arsy menatap Teddy sendu. Arsy bukan tipikal perempuan atau istri yang suka menceriatakn keburukan seseorang. Apalagi, Teddy seoarng dosen sudah etntu punya kuasa di kampus untuk memberikan penilaian terhadap mahasiswa atau mahasiswinya.