Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
BAHAGIA ITU SEDERHANA


__ADS_3

Wulan sudah di antarkan oleh Arsy pulang ke rumahnya. Wulan sudah lama tidak menginap di rumah mertua Arsy, karena Ibunya sedang sakit keras.


Ayh Wulan masih berada di balik jeruji sel tahanan yang begitu dingin. Sebenarnya, Wulan sendiri memiliki masalah yang cukup besar dan pelik. Hidupnya selalu penuh dengan teror. Saat bersama Arsy, Wulan merasa tenang. Tapi, i tidak mungkin meninggalkan ibunya sendirian di rumah dan mencari nafkah seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Bunda gak apa -apa? Wulan panggilkan doketr ya?" ucap Wulan pelan.


Melihat kondisi Bundanya yang hampir satu bulan terkahir ini semakin lemah dan tak berdaya. Bunda Wulan sulit menerima makanan, kalau pun bisa, ia harus di suapi dengan makanan yang benar -benar lembut dan mudah di cerna ususnya.


"Bunda gak apa -apa, Lan. Kamu lulus?" tanya Bunda Wulan lirih.


"Llus Bun," jawab Wulan dengan mata berbinar bahagia.


Kedua mata Bunda Wulan terlihat sayu dan bibirnya memutih serta wajahnya mulai terlihat celong di beberapa bagian.


"Panggil dokter ya?" ucap Wulan pelan.


Bunda Wulan menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak usah. Bunda gak punya uang. Ambil amplop itu," ucap Bunda lirih.

__ADS_1


Tenggorokannya terasa sakit jika di pakai bicara yang agak sering.


Wulan langsung mengambil amplop ynag tersimpan rapi di laci nakas kamarnya.


"Ini Bun?" tanya Wulan smabilmemberikan amplop putih yang mulai menipis.


"Buka," ucap Bunda Wulan lirih sambil menganggukkkan kepalanya pelan.


Perlahan di buka, dan di sana ada beberapa lembar uang berwarna merah.


"Hanya itu yang tersisa, Lan," ucap Bunda Wulan pelan.


"Untuk berobat ya Bun? Mulai bsok, Wulan akan cari kerja," ucap Wulan pelan.


"Gak usah. Simpan untuk kebutuhan kamu, Lan. Bunda gak bisa menyekolahkan kamu setinggi cita -citamu, hanya doa yang selalu Bunda panjatkan. Jangan benci Ayahmu, tengoklah sesekali di sel, agar Ayahmu senang. Beri tahu, kalau kamu sudah lulus, Lan," titah Bunda Wulan pelan.


"Iya Bun. Besok ... Wulan kesana," ucap Wulan pelan.


Senyum Bunda Wulan begitu manis sekali, seolah memberikan isyarat kebahagiaan dan keikhlasana. Selama ini, Wulan benci dengan Ayahnya. Ia tak tahu, Sang Ayah sampai seperti ini karena membela keluarganya.

__ADS_1


"Bunda mau istirahat dulu," ucap Bnda Wulan lirih sekali.


"Makan dulu. Wulan sudah belikan bubur," ucap Wulan pelan.


Bunda Wulan mengangguk pasrah. Perutnya memang perih karena lapar, tapi apa daya, tak ad sattu pun makanan yang berhasil menetap di ususnya. Setiap makan, Bunda Wulan akan memuntahkna kembali.


Wulan mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Bundanya dengan sendok kecil. Perlahan, satu per satu sendok berisi bubur itu mulai mnegisi perut Bunda Wulan.


"Sudah. Bunda kenyang. Bunda mau tidur saja. Temani Bunda tidur ya, di sini," titah Bunda Wulan lirih.


"Iya Bun. Wulan temani. Wulan ganti baju dulu ya," ucap Wulan pelan.


Dengan cepat, Wulan mandi dan memakai daster longgar kesukaannya. Biasanya Bunda tidak mau di temani oleh Wulan, karena tidak mau menganggu aktivitas Wulan mempersiapkan ujian. NAmun, Sekarang Bunda malah meminta untuk di temani oelh Wulan.


Malam itu adalah malam yang membuat Wulan sangat bahagia. Ternyata, bahagia itu sederhna, masih bisa bersama dengan orang -orang tercinta adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Apalagi, keluarganya bisa berkumpul lengakp seperti dulu.


Tidak ada yang bisa menjamin, kita bahagia atau tidak kecuali diri kita sendiri.


Wulan dan Bunda saling bicara, dan bercanda hingga mereka tertidur pulas dan saling memeluk satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2