Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.11


__ADS_3

Arsy mengangguk mantap sambil memegang perutnya dan mengusap lembut searah jarum jam.


"Asli Kak," jawab Arsy tanpa malu.


"Kamu hamil duluan?" tanay Emil makin penasaran.


"Ya hamil duluan baru lahiran. Masa iya lahiran duluan baru hamil," jawab Arsy mulai ketus. Arsy mulai tak suka di beri banyak pertanyaan tentang dirinya. Rasanya malah membuatnya muak.


"Uwoww ... Maba yang berani sekali," ucap Emil makin menatap benci ke arah Arsy.


"Kenapa? Salah? Ini pembelaan untuk harga diri bukan masalah berani atau tidak," ucap Arsy makin emosi dan keluar dari ruangan itu dnegan cepat.


Emil mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan menatap bengis ke arah Arsy yang makin menjauh dari ruangan itu.


***

__ADS_1


Istirahat siang ini sudah cukup. Semua maba sudah masuk ke dalam ruangan auditorium untuk mendengarkan perkenalan para dosen yang akan mengampu masing -masing fakultas. Arsy di temani Mega mengambil snack dari lantai bawah di ruang pengajaran. Tidak lupa, Arsy meminjam tempatnya juga untuk menata smeua snack di atasnya.


"Pakai nampan aja biar terlihat rapi," saran Mega pada Arsy.


"Betul banget. Makasih ya, udah nemenin Arsy," ucap Arsy pada Mega.


Mega membantu Arsy membawakan satu plastik besar berwarna hitam berisi snack dan minuman botol untuk para dosen yang akan hadir sebagai pembicara secara bergantian sesuai dengan waktunya.


Keduanya kembali lagi ke atas menggunakan lift menuju lantai empat.


"Kamu sedang hamil besar? Anak maba?" tanya dosen itu sambil menepuk pundak Arsy hingga Arsy menoleh ke belakang.


"I -iya Pak," jawab Arsy singkat dengan suara sedikit terbata karena gugup.


"Kenapa ikut ospek? Ini dari mana? Bukannya sudah masuk auditorium?" tanya dosen itu bingung dengan bawaan Mega dan Arsy.

__ADS_1


"Ekhemmm ...," Arsy tak bisa menjawab jujur karena di belakangnya ada Tedy, suaminya yang bisa marah besar nantinya jika tahu Arsy kena sanksi karena terlambat.


"Arsy ini tadi terlambat datang sepuluh menit saat kumpul di lobby. Makanya kena sanksi hukuman untuk menyiapkan sncak untuk para dosen ayng akan emnjadi pembicara," ucap Mgea denagn jujur dan sopan. Arsy langsung menyenggol tangan Mega agar teman barunya itu tidak banyak bicara.


"Apa? Kena sanksi hukuman?" tanya Tedy denagn cepat. Raut wajahnya langsung berubah kesal dan kecewa. Pasalnya Arsy ini sedang hamil.


"Ekhemmm ... Gak masalah kok. Hukumannya juga tidak ada kekerasan fisik, hanya mengambilkan makanan dari lantai satu. Tidak begitu sulit juga. Lagi pula ada Mega yang membantu," ucap Arsy mengklarifikasi ucapan Mega. Kebetulan pintu lift sudah terbuka karena mereka sudah berada di lantai empat.


Arsy langsung pergi begitu saja di ikuti denagn Mega yang nampak terlihat bingung denagn sikap Arsy yang terlihat gugup.


"Kamu kenapa Sy? Kayak gugup gitu?" tanya Mega sat berada di belakang panggung untuk merapikan tiga nampan besar untuk tiga jenis hidangan.


"Gak apa -apa. Males aja di tanya ini dan itu. Memang ada yang salah kalau Arsy hamil? Toh, Arsy sudah menikah, ini cincin nikah Arsy," ucap Arsy membela diri.


"Aku percaya kok sama kamu. Kalau kamu hamil di luar nikah, kamu gak akan kuliah juga, pasti ada rasa malu yang menghantui," ucap Mega realistis.

__ADS_1


Senyum Arsy melebar. Seridaknya ada teman yang mau percaya dengan kondisinya saat ini.


__ADS_2